
"Ibu mertua." Kayla terpekik, ia salah tingkah mendapati ibu mertuanya berada dihadapannya.
Ayudia menatap heran gadis di depannya, gadis cantik yang mengingatkannya akan seorang wanita yang sudah mengambil tunangannya di masa lalunya. Tapi apa katanya tadi, gadis di hadapan dirinya memanggilnya dengan sebutan ibu mertua apa maksudnya? Ayudia mulai berpikir dan ia tengah menduga-duga jika gadis di hadapannya adalah istri dari putranya apakah putranya sudah benar-benar menikah pikirnya.
Ayudia tersenyum canggung tangannya terulur untuk menyentuh bahu gadis itu namun seketika Ghaza menyembungikan tubuh mungil itu di belakang tubuhnya yang kekar.
"Jangan menyentuh istriku!" ucap Ghaza tegas.
Terjawab sudah pertanyaan yang tadi tercokol di hatinya.
"Istri? Kau sudah menikah?" Ayudia menangis haru seorang anak laki-laki yang ia lahirkan dua puluh tujuh tahun yang lalu kini telah dewasa, putranya tengah menikah dengan seorang gadis muda yang sangat cantik.
Ghaza berbalik menatap lebut wajah gadis itu "Kay, masuk lebih dulu Abang mau berbicara sebentar dengan ibu ini. Ibu sedang menemani Ayah pergi seminar, jika Kay lapar makanlah lebih dulu." Ghaza mengelus lembut pipi gadis itu.
Kayla menghentakan kakinya. "Tidak mau Kay mau di sini dulu." Gadis itu bahkan mengerucutkan bibirnya.
"Kay, dengerin Abang, Kay itu harus nurut sama Abang. Kay ingin surgakan?" Ghaza mengiming-imingi istrinya dengan kata surga berharap istri bocilnya akan menurut.
__ADS_1
"Kay tidak mau surga jika abang harus mendekati neraka." Ya Kayla memang keras kepala ia hidup selalu seenak dirinya sendiri.
"Apa maksudmu Kay?" Ghaza tak paham dengan maksud mendekati neraka. Memangnya dia mau berbuat dzolim, ah sungguh Kaylanya selulu sukar di mengerti.
"Aku takut, Abang memarahi ibu mertua." cicitnya polos, Kayla sempat mendengar saat Ghaza berkata tak baik pada mertuanya. Bukankah kewajobannya untuk mengingatkan suaminya jika tindakannya tercela.
Ghaza terdiam, istrinya memang benar tak sepatutnya ia berkata demikian pada ibu kandungnya, jika ada orang lain yang mendengar pasti orang itu akan mempertanyakan hasil didikan Ayah tirinya Kyai Sulaiman, yang mana pria itu selalu mengajarkan kebaikan padanya.
Ayudia merasa terharu karna menantunya menganggapnya ibu mertua sungguhan.
"Ayo masuk!" Ghaza juga mengajak ibunya ia memutuskan untuk berbicara di dalam rumah.
Ketiganya beriringan masuk dengan Ghaza yang masih menggenggam tangan istrinya.
Ayudia mengingat rumah itu dengan hati pilu, meskipun rumah itu sudah di renovasi tapi tetap saja rumah itu mengingatkannya akan kejadian di masa lalu, di saat ia meninggalkan Ghaza kecil seorang diri dalam keadaan sakit. Ia akui ia adalah ibu terburuk yang pernah ada, dan setelah itu Ayudia tidak lagi memiliki seorang anak meskipun sudah kembali menikah dengan seorang duda kaya satu anak.
Ia yang mudah terbuai akan kekayaan dunia ia melupakan keberadaan putra kandungnya sendiri, Ayudia hidup bahagia dengan suami dan putri tirinya, tanpa pernah sekalipun mengetahui keadaan putranya. Meski begitu Ayudia juga turut mengikuti jejak suaminya untuk berbisnis, karna ingin suatu saat putranya kembali padanya meskipun hanya sesaat. Ayudia tetaplah seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk putranya.
__ADS_1
"Ibu, duduk lah biar aku bikin minum." Kayla pergi ke dapur untuk membuat minum.
Kayla mencari ARTnya untuk membuatkan suami dan ibu mertuanya minum karna ia tidak mengerti akan takaran gulanya jika saat hendak membuat teh manis hangat.
Kayla sudah mengambil teh juga menuangkan gula kedalam ketiga gelasnya, " Gulanya berapa banyak ya? Dua atau tiga? Atau lima sendok saja pergelas? Bukannya lebih manis lebih baik?" pikirnya. Kayla memasukan lima sendok gula pasir di masing-masing gelas kemudian ia seduh dengan menggunakan air panas.
"Jadi gadis itu anaknya Ridwan dan Kimmy?" Ayudia memastikan setelah mendengarkan panjelasan putranya.
"Iya."
"Kau terpaksa menikahinya?" tanya Ayudia penuh selidik.
"Tidak. Aku menyukainya." Ghaza masih berucap semaunya.
"Oh." tadinya Ayudia sangat menyukai gadis muda itu, tapi setelah mendengar dia putri dari orang yang sudah menancapkan duri tajam di hidupnya dulu. Ayudia harus berpikir beberapa kali untuk menerima Kayla sebagai menantunya.
Tapi apa mau di kata, sekarang ini Ayudia tidak mempunyai pilihan selain terpaksa menerima Kayla sebagai menantunya.
__ADS_1