
Lexi di buat tak berkutik saat dosen killer di kampusnya memanggilnya keruangan dosen itu untuk menjalani bimbingan.
Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak menghela nafas saat Lexi tak ingin meminta maaf sama sekali saat ia sudah melakukan tindakan tidak terpuji dengan cara mengempesi ban mobil dosen pembimbing yang bernama Zahra. Lexi juga tak mengerti mengapa dunia seluas ini masih harus mempertemukannya dengan wanita jadi-jadian yang bernama Zahra.
Ya begitulah dunia, terutama dunia halu benar-benar selebar daun kelor, semua harus berkaitan agar othor tak pusing-pusing banget saat mikirin alurnya wkwkwk.
"Kau tau apa kesalahanmu."
"Haruskah Bapak bertanya kembali?"
Pertanyaan yang di jawab pertanyaan di situlah pengendalian diri di perlukan.
"Apa masalahmu dengan Bu Zahra?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Azmi, Azmi meyakini anak didiknya melakukan itu dengan sengaja. Tapi tentu ada pemicunya bukan?
"Ini kampus atau acara mamah dedeh sesi curhat sih?" Lexi kesal ia rasa Azmi terlalu ikut campur urusannya.
"Lexi kau cukup cerdas di mata kuliah yang kau ambil. Jangan sampai tingkah burukmu mempengaruhi nilaimu dan menghambatmu." Azmi cukup kenal dengan Lexi, gadis ini memiliki komunikasi dan daya tangkap yang baik dalam menyampaikan atau menyambut materi sehingga Lexi cukup tersohor di kampusnya. Parasnya yang cantik juga menjafi daya tarik tersendiri untuk sebagian orang.
Tapi ya yang namanya pola pikir setiap orang berbeda, ada pula yang tidak menyukai Lexi terutama bunga Kampus sebelumnya sebul Lexi datang. Ada juga beberapa dosen wanita muda yang tidak menyukai Lexi, bahkan mereka terang-terangan mengatakan Lexi terlalu energik hanya untuk mencari simpatik orang lain.
"Kami memiliki masalah pribadi dan saya harap Bapak tidak ikut campur."
Untung saja Zahra tidak mengajar di kelas yang ia ambil, sehingga Lexi lebih leluasa bernafas dengan lega.
"Saya hanya ingin membantumu Lexi."
"Saya tidak butuh bantuan siapapun."
"Kau bisa saja di hukum karna tindakanmu yang mengempeskan ban mobil ibu Zahra. Bisa saja, Ibu Zahra celaka karna ulahmu."
"Pak tidak usah lebay-lebay banget napa. Saya hanya menhempesi ban mobilnya bukan memotong pungdi mobilnya."
Benar juga, ya Leci memang pandai berdebat depertinya.
"Katakan saja apa hukumannya, jangan berbelit-belit membuang waktu saya yang berharga pak." Adakah murid yang berani bertingkah kurang ajar pada dosen satu ini, jawabannya tidak ada. Hanya Lexi yang bisa melakukannya.
"Nilaimu tengah menurun, dalam pelajaran saya.. Saya harap kau mau mengikuti kelas tambahan nanti malam." Azmi mengalihkan topik pembicaraan.
"Saya tidak bisa Pak!" potong Lexi cepat.
"Kenapa? Kau tak ingin memperbaiki nilaimu yang buruk."
"Bukan seperti itu pak! Di sini kewajiban saya bukan hanya kuliah. Saya juga memiliki kewajiban lain. Yang lebih utama dari pada kuliah!"
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Tujuan saya terdampar di kota ini. Emh maksudku tinggal di kota ini untuk mempelajari agama Allah." Lexi meralat ucapannya dengan cepat.
"Kau muslimkan?"
"Ya."
"Lalu untuk apa kau pelajari lagi."
"Saya memeluk agama islam baru beberapa bulan Pak." pada akhirnya Lexi jujur akan kehidupan dan tujuannya.
"Kau tinggal di mana?"
"Di pesantren Al-mukarrim Pak. Saya di titipkan Daddy di pondok milik Om saya, Om Ridwan." Lexi tidak mengakui Ridwan sebagai mertuanya, ia teringat akan Kahfi yang melarangnya mengungkap pernikahannya ke publik.
"Oh."
Sesingkat itu Azmi menanggapi sesuatu.
"Pak, saya harus pulang. Mengenai nilai saya, saya akan remidi di siang hari saja. Assalamualaikum." Lexi pamit tanpa mendengar jawaban dari dosennya.
"Biar saya antar." Azmi sudah mengangkat bokong dari kursi kebesarannya. Lexi malah semakin berlari menuju pintu dan-
Azmi dosen yang paling menyebalkan setelah Zahra menurut Lexi. Pria yang kerap kali memberi nilai seenaknya itu seringkali membuat Lexi ingin pindah kampus saja.
"Lexi! Ternyata benar rumor yang beredar, sulit sekali menolak pesonamu!" Azmi menyeringai, sudah sejak lama ia mencoba mendekati Lexi dari gadis itu pindah, Lexi berhasil mengambil fokusnya akan tentang gadis remaja ini.
"Mari kita lihat apa kau akan terus menghindar dariku?"
.
"Mas kapan pulang?"
"Belum tau Ay. Masih ada hal yanh belum selesai di sini." Kahfipun sama rindunya denga apa yang di rasakan Lexi.
"Hacim-hacim "
Lexi bersin-bersin karna tadi nekad menerobos hujan bersama Cinta, sepupu Kahfi itu memaksanya agar tetap pulang tepat waktu meskipun harus menerjang badai sekalipun.
"Ayang sakit?"
"Engga, Aku hanya sedikit Flu, mungkin tadi kena hujan."
__ADS_1
Hacim, hacim.
Lagi-lagi Lexi bersin dan gadis itu dengan sigap menggosok hidung bangirnya yang mungil, hidung itu terasa semakin gatal entah karna apa.
"Mas janji jika urusannya sudah selesai Mas langsung pulang ya. Ayang baik-baik di sana janga sampai sakit, Mas tak mau malam pertamanya di tunda lagi. Pokoknya saat Mas pulang kita langsung gas."
"Iya, iya."
Lexi meletakan ponsel yang menunjukan wajah Kahfi yang memenuhi layar ponselnya, keduanya tengah melakukan panggilan vidio.
"Mas tunggu sebentar aku ambil jaket dan baju panjang mulu. Sumpah ini dingin banget."
Kahfi memperhatikan sang istri yang tengah mengenakan pakaian berlapis-lapis.
Lexi menyadari tubuhnya tengah tak sehat sepertinya ia akan benar-benar sakit kali ini.
"Mas, sudah dulu ya, aku ingin minum obat dan istirahat aku sangat lelah." Lexi sudah tak mempunyai topik pembahasan lain, ia sangat lelah kali ini di tambah kepalanya yang terasa berputar-putar.
"Ayah tidur saja tidak papa. Mas masih kangen. Ponselmu letakan tepat di wajahmu. Biar mas bisa melihat cantiknya istri Mas saat hendak tertidur."
"Ih gombal. Aku rasa Mas harus banyak belajar gombal dari Gus Ghaza. Dia sangat piawai bermain kata, sangat cocok jika di juluki sebagai perayu ulung."
"Hey, jangan mrnghibahku." Terdengar suara dari sebrang. Leci sampai di buat mati kutu saat membicarakan orang, dan di jawab langsung tepat oleh orangnya.
"Maaf Gus." Lexi tersenyum kikuk.
"Mas tidur bersama Gus Ghaza?" tanya Lexi kembali
"Tidak. Kami tidur di kamar berbeda. Entahlah Ghaza lagi apa di sini." jawab Kahfi acuh.
"Hey ini kamarku. Kau yang lagi apa di sini?" Ghaza tak terima saat ada orang berbicara tidak sesui kenyataan. Kecuali Kayla. Ya Kayla adalah pengecualian.
"Oh iya. Aku lupa." Kahfi beranjak dan menuju kamar hotel tempatnya menginap. Kebetulan kamar mereka bersebelahan.
"Ay baca do'a dulu."
Layaknya anak kecil Lexi dengan patuh duduk, menyambar bergo di atas nakas dan memakainya. Lexi membaca do'a sebelum tidur juga surat tiga Qul. Al-iklas, An-nas dan Alfalak. Ketiga surat itu sangat pasih di ucapkan oleh Lexi dengan duaranya yang terdengar merdu di telinga Kahfi.
"Jika selesai besok Mas dan Ghaza akan pulang. Persiapkan diri Ayang untuk menyambutku!"
Tuing ...
Ngantuk Lexi hilang entah kemana. Kalimat ambigu Kahfi tentang mempersiapkan diri di artikan lain oleh Lexi. Gadis itu terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Pe-pe-persiapkan diri?"