Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Tembok pemisah


__ADS_3

"Kay, kau itu masih sembilan belas tahun perjalanmu masih panjang, Nak." Ridwan mengelus kepala putrinya yang tertutup hijab. Ridwan memberikan pemahaman jika rumah tangga tak sesederhana yang terlihat, cinta saja tidak cukup untuk membina rumah tangga yang nyaman.


"Aku ingin menikah dengan Gus Ghaza Ayah, bagaimanapun caranya." Kayla terlihat kesal luar biasa saat keinginannya di tolak sang ayah.


Kayla harus membujuk Ibunya agar bisa membuat ayahnya luluh dan bersedia menikahkannya dengan sang pujaan hati. Tak perduli jika pria yang ia cintai tak menanggapi perasaannya. Bagi Kayla cinta perlu di perjuangkan, Kayla benar-benar putri ibunya tingkahnya sama persis.


.


Kayla tersenyum-senyum saat Ghaza tengah menjelaskan materi di kelasnya.


Ghaza sudah selesai membahas prihal tatakrama dan adab saat bertamu, seperti biasa sesi tanya jawab di persilahkan.


"Baiklah ada yang mau kalian tanyakan?" Gus Ghaza bertanya.


Di saat santri wati lainnya malu-malu dalam mengangkat tangan. Kayla justru mengangkat tangannya paling tinggi, tidak cukup sampai di situ gadis itu bahkan sampai berdiri dan bersuara dengan lantang.

__ADS_1


"Gus, aku mau bertanya."


"Ya kayla, tanyakan." Gus Ghaza menunjuk Kayla dengan spidol yang ada di jemari tangan kanannya.


"Gus, kapan Gus Ghaza mau bertamu sekalian melamar Kay pada Ayah? Adek minta di halalin nihh Bang." Sorak sorai para santri wati memenuhi ruang kelas, tak terhingga berapa kata yang mereka lontarkan untuk menggoda Gus muda itu.


Teriakan serta siulan terdengar jelas membuat ustadz tampan itu merona. Kayla ini memang bisa saat menggombali dirinya selalu tepat sasaran.


"Memangnya Kay bisa apa? Dan punya apa? sampai ingin ku halalkan." Ghaza membalas guyonan gadis remaja itu, ia tak ingin terlihat cuek saat berbicara di hadapan banyak orang, meskipun faktanya Ghaza sering mengacuhkan gadis itu, intinya Ghaza tak ingin mempermalukan anak gadis yang keluarganya sangat berjasa untuknya.


"Kay bisa semua Gus. Terutama ini," Kayla meraih tasnya dan terlihat hedak mengambil sesuatu, Ghaza dan teman-temannya merasa penasaran apa yang mau Kayla tunjukan kemudian Kay tersenyum dan mengambil tangannya kembali yang sudah membentuk hati menggunakan ibu jari dan telunjuknya, "Saranghae."


Ya salam adakah gadis yang lebih konyol dari dia.


"Bagaimana Gus? Kapan nih bertamunya."

__ADS_1


"Kay kita tinggal di rumah yang sama untuk apa bertamu." Ghaza meruntuhkan harapan remaja itu.


"Yah, ku pikir Gus akan jawab secepatnya." Kayla duduk kembali di kursinya dengan lesu. Sebenarnya tak tega juga melihat remaja itu terlihat sedih.


"Jangan nyesel jika ada yang melamar Kay lebih dulu." Dengus Kayla kemudian.


"Memangnya siapa yang akan melamar gadis bar-bar dan manja sepertimu." Ghaza meledek gadis yang selalu menjadi perbincangan seantero kalangan pondok. Bukan hanua fisiknya yang mencuri perhatian tingkah dan tindakannya selalu menawan hati setiap pria baik dari para santri ataupun para ustadz di sana.


"Tentu saja kekasihku, Kim Tae Hyung." Kayla tersipu malu-malu dengan mata berbinar.


"Huuuhh ..." Teman-temannya kompak menyorakinya.


"Iri bilang Ukhti." Kayla menanggapi.


"Jika benar Tae melamarku, aku sungguh akan menikah dengannya akan ku kubur Loveku pada Gus Ghaza." Kayla berucap bangga seakan itu akan benar terjadi.

__ADS_1


"Kau terlalu banyak bermimpi. Tembok pemisah kalian terlalu tinggi." Ghaza mencibir.


"Jika, Iya Tae jodohku, maka akan aku buat Tae mencintai Tuhanku lebih dulu." ucap Kayla mantap.


__ADS_2