Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Bapak akan terkejut


__ADS_3

"Sayang ..."


Ghaza memanggil istrinya lembut.


"Kay bangun makan dulu yuk, nanti kau boleh tidur lagi." Ghaza mengguncang pelan tubuh istrinya.


"Masih ngantuk Bang." Kayla melenguh pelan dengan tangan di rentanka ke atas kepalanya.


"Mau menggoda Abang lagi atau semalam kurang.?" Ghaza membisikan kalimat nyeleneh pada istrinya.


"Astaghfirullah, Kay melewatkan shalat subuh Bang!" Kayla langsung terlonjak ia meringis pelan saat miliknya terasa ngilu.


"Apa sakit?" Ghaza berubah khawatir ia bahkan menyibak selimut yang menutupi kaki istrinya.


"Tidak, hanya ngilu saja. Tapi aku merasa melayani tenaga kuda semalam. Bahkan aku merasa seperti telah melewati malam pertama untuk yang kedua kalinya."


Ghaza terkekeh renyah. "Anggap saja begitu."


"Tapi kau menikmatinyakan?" mendengar pertanyaan Ghaza sontak saja pipi Kayla memerah, semalam memang tidak di pungkiri, Kayla sangat menikmatinya.


Ghaza paling senang saat melihat Kayla tersipu-sipu seperti itu.


"Enak gak?" Ya Tuhan, haruskah Ghaza bertanya demikian Kayla di buat sangat malu, sungguh. "Jika iya nanti Abang tanya nama obatnya apa sama genderewo betina itu."


"Genderewo betina?"


"Ya bukankah mitos mengatakan jin yang bernama genderewo mampu berubah-ubah wujud."


"Kay tidak mengerti. Sueer deh Bang."


"Ya sudah jangan di pikirkan."


"Apa semalam Abang mabuk?" Kayla bertanya hati-hati takutnya Ghaza malah tersinggung.


"Tidak. Abang tidak mabuk."


"Kay sempat takut Bang! Abang terlihat seperti tokoh cassanova yang Kay ciptakan di novel on going Kay."


"Semalam Abang dalam pengaruh obat perang-sang Kay."


"Obat perang-sang?" Kayla membeo dan mengerutkan kening. Iasudah berdiri berniat bersuci tapi kembali duduk karna di buat penasaran.


Ghaza harus mengatakan kebenarannya dari pada Kay tau dari orang lain lebih baik ia jujur sejak sekarang. Kepercayaan istrinya sangat di perlukan.


"Sebentar. Abang mau ijin sama Ayah, hari ini mau berangkat siang saja." Ghaza meraih ponselnya dan menelpon ayah mertuanya.


Setelahnya Ghaza menuntun Kayla untuk duduk di pankuannya dengan masih mengenakan selimut berwarna abu muda miliknya.


"Dengarkan Abang!"


Kayla mengangguk.

__ADS_1


"Semalam Ibu mengirimi Abang pesan, jika Ibu Ayu sakit dan tak kuat. Abang yang berpikir macam-macam segera menghubungi ponsel ibu. Tapi sudah tidak aktif. Anangpun memutuskan untuk kerumah ibu untuk memastikan." Ghaza menceritakan semuanya pada Kayla tanpa ada satu halpun yang Ghaza tutupi. Mulai dari penjebakan hingga tadi pagi berlian menghubunginya.


"Ish jahat sekali Berlian itu, harusnya ganti tuh namanya jadi batu nisan. Nama aja Berlian kelakuan kaya wewe gombel ketempelan jin tomang. Astaghirullah." Kayla sangat di buat geram. Jemari tangannya mengepal juga giginya yang menimbulkan bunyi gemerlatuk.


Kemudian Kayla malah memeluk erat tubuh kekar suaminya. Bayangan hal buruk jika Ghaza terperangkap di sana membuat ia menggigil.


Ghaza menyadari reaksi tubuh istrinya ia mengusap punggung istrinya yang telan-jang karna selimut yang di gunakan untuk menutupi tubuh polosnya melorot ke bawah.


"Kay tau,? saat itu yang ada di penglihatan Abang adalah wajah cantik ini" Ghaza mengusap kedua pipi Kayla.


"Abang sangat takut seandainya Abang khilaf, saat ini pasti kau terluka dan meninggalkan Abang. Semalam Abang memejamkan mata dan lebih memilih gila dari pada Abang harus tiada karna kehilanganmu." Tidak ada kebohongan di mata pria itu. Yang ada hanya jutaan cinta.


"Katakan seandainya Abang melakukan kesalahan apa Kay akan memaafkan Abang." Ghaza mengangkat sedikit dagu istrinya ia nikmati kecantikan istrinya itu.


"Mungkin. Tapi sepertinya Kay akan menepi." Suara Kayla tercekat ia memalingkan wajah, matanya terasa panas. Buliran itu hendak keluar saat ini. Membayangkan suaminya menghabiskan malam dengan wanita lain berhasil menyentuh titik lemahnya.


"Ya, Alhamdhulillah Allah sangat baik terhadap Abang sehingga Abang bisa melepaskan diri."


"Abang tidak menciumnyakan.?"


"Tidak, Abang hanya menyentuh bahunya, karna Abang mendorongnya kasar membentur guci hingga guci itu hancur. Untung saja dia tak mati."


"Kay, jangan pernah tinggalkan Abang ya."


"Tergantung.!"


"Tergantung?"


"Ya jika Abang berdosa untuk apa Kay bertajan."


"Kay bisa mengampuni semuanya asal jangan penghianatan. Terserah meskipun penghianatan halal atau kata lain Abang bersembunyi di balik pernikahan Kay akan tetasp pergi."


"Seram sekali! Selain itu tak ada alasan lagi untuk Kay mempertahankan Abang?"


"Ada. Tapi aku akan melakukan hal yang sama. Kay juga bisa bersama pria lain."


"Duh itu jauh lebih Keji, lebih baik Abang mati saja dari pada melihatmu begitu."


"Kita tidak tau takdir kita seperti apa di masa depan.. Tapi yang Abang selalu panjatkan adalah semoga Allah tetap menjaga keutuhan dan kebahagian kita Kay."


"Aamiin."


"Sayang Abang banyak-banyak." Kayla menghujani rahang suami dengan banyak ciuman.


"Mau mandi bersama?"


"Tidak. Kay sudah terlambat." Kayla beringsut dari pangkuan suaminya.


.


Kali ini Kahfa mengajar di jam pertama pelajaran.

__ADS_1


Kahfa mendapati Greendia duduk di bangku paling belakang dan paling pojok.


Alih-alih bertanya Kahfa lebih memilih tak acuh dan membiarkan gadis itu bertindak sesukanya.


Semua murid tampak duduk dengan tenang dan itu membuat Kahfa curiga. Dia sangat teliti juga sangat peka terhadap sekitar meski di balut dengan kepedasan mulutnya.


Kahfa tidak ambil pusing ia berjalan menuju ke arah Green dia dan mengambil salah satu kursi kosong di sana.


"Sepertinya lem di kursi saya terlalu kuat sehingga saya membutuhkan kursi baru." ucap Kahfa datar. Semua di buat tercengang dengan kalimat Kahfa yang tetap sasaran apa gurunya ini mempunyai telepati atau hanya asal menebak saja. Pikir mereka.


"Kalian jangan macam-macam dengan saya. Saya tau siapa yang menaruh lem di kursi saya." Kahfa melirik ke arah Greendia yang sepertinya tidak terpengaruh sama sekali. Gadis itu benar-benar tenang tanpa ada raut yang bisa di baca.


"Seorang gadis menumpahkan lem power glue di kursi saya di jam 8 lebih 12 menit 27 detik dan saya sangay benar." Green masih bisa menampilkan ketenangannya.


Wah ini menakjubkan gurunya sangat tepat menebak. Semua anak mulai berbisik.


"Saya memiliki bukti. Untuk kalian berhati-hatilah dengan saya. Saya memegang kartu as kalian." tanpa mereka sadari Kahfa sudah menaruh mikro CCTV di beberapa titik, jadi Kahfa bisa mengetahui sifat muridnya di balik layar.


"Green, keruangan guru saat istirahat nanti."


Meski kesal Kahfa masih memiliki adab untuk yidak memaki muridnya di hadapan umum, karna guru merupan contoh untuk muridnya.


Greendia tak menolak tidak juga mengiyakan.


"Kamu mendengar saya tidak?"


"Ya Pak saya tidak budeg. Lagi pula istirahan masih lama sekitar tiga jam lagi." Green memainkan pena yang ia apit menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.


.


Saat istirahat.


Ghaza benar-benar mengomel di ruangannya. Green sendiri hanya diam mengorek kupingnya sesekali. "Pak jaga jarak ngomongnya jangan terlalu dekat muncrat ini."


"Jangan keceng-kenceng pula. Malu sama guru lain ntar Bapak di gosipin loh di jadiin bahan ghibah oleh guru lain." Kahfa merasa Green memiliki ikatan darah dengan Lexi dan ibunya. Atau jangan-jangan Green anak ibunya di luar KK. (kata reader)


"Saya tak perduli Green. Kamu hampir saja merugikan orang lain."


"Ah Elah lebay amat Pak, duduk juga kagak. Berlagaj seperti tersakiti begini."


"Greendia." ucap Kahfa penuh penekanan.


"Bagai mana jika orang tuamu mengetahui hal ini? Bayangkan akan sekecewa apa orang tuamu saat mengetahui anak gadisnya sangat pemberontak. Apa yang akan kamu lakukan saat orangtuamu saya panggil secara resmi besok?"


"Yang saya lakukan ya berhenti membayangkan Pak."


Tak salah sih Kahfa memang meminta Greendia membayangkan. Jadi saat Kahfa bertanya tentang pendapatnya ya jawabannya berhenti membayangkan.


"Greendia!"


"Dalem Pak."

__ADS_1


"Bawa surat ini dan berikan pada orang tuamu."


"Oke, tapi sekedar informasi, Bapak akan terkejut saat bertemu orang tua saya!"


__ADS_2