
"Kau istriku Lexi. Apa kata para iblis jika kau tidur di kamar lain di malam pertama kita?" Kahfa membentak Lexi. Hanya cara itu yang ampuh untuk menyadarkan ke gilaan istri barunya.
Tidur di kamar terpisah dengan istri barunya itu tidak akan terjadi di kamus hidup Kahfa.
"Kau tidak memiliki alasan lagi untuk menjauh dariku Lexi."
"Aku ingin tidur dengan Zayn juga. Bagai manapun Zayn masih kecil. Aku tak tega, bagai mana jika tengah malam Zayn bangun dan ingin munum asi dari sumbernya langsung." Sebenarnya ini adalah alibi Lexi, dan Kahfa mengerti jika ini hanya akal-akalan Lexi saja.
"Ya sudah. Kau mandi saja nanti aku akan mengambil Zayn dan membawanta kemari." Kahfa membuka jam yang melingkar di tangannya.
"Ti-tidak perlu Bang. Nanti aku mandi di kamarku saja, kau juga tidak perlu mengambil Zayn aku bisa mengambilnya sendiri." Lexi menjinjit gaunnya dan hendak berlalu.
"Kau tak bisa kemanapun. Jika kau ingin tidur dengan Zayn, kau akan tidur di sini juga denganku dan Zayn." ujar Kahfa datar.
"Zayn sering bangun tengah malam dan kadang rewel aku tak ingin mengganggu Abang." Lexi mencari alasan lain.
"Tidak masalah. Aku sudah menyiapkan Box baru pasti Zayn suka. Box itu di beli dengan kualitas terbaik dan harga yang lumayan mahal, semua demi ke nyamanan putraku." Kahfa menyebut Zayn sebagai putranya, bukan keponakannya lagi, membuat Lexi terdiam untuk beberapa saat.
"Baiklah di mana bajuku. Disana." tunjuk Kahfa di lemari besar miliknya. "Tepat di samping pakaianku."
"Ya sudah ambil Zaynnya. Aku akan mandi sekarang" Lexi mengingatkan Kahfa.
"Kau perlu bantuan untuk membuka gaunmu?" Kahfa berharap Lexi mengatakan iya, tapi sayangnya Lexi cukup tangguh ia mengatakan bisa membuka kainnya sendiri.
Lexi memasuki kamar mandi sedangkan Kahfa berlalu menuju kamar orang tuanya. Dan hal ini juga Kahfa pergunakan untuk berbincang masalah dua orang wanita yang di maksud Lexi.
Lexi membersihkan diri juga mengenakan pakaian tidur di kamar mandi, sepasang baju piama panjang ia kenakan denga bergo berwarna senada ya itu warna merah muda.
Kahfa belum juga kembali. Dan Lexi memutuskan untuk memompa asinya terlebih dahulu. Di kamar itu sudah tersedia alat pompa lengkap dengan wadah pendingin untuk menyimpan asinya. Kahfa benar-benar menyiapkan semuanya.
Ceklek ...
__ADS_1
Pintu terbuka tiba-tiba dan Kahfa masuk.
"Abang bisa tidak mengetuk pinta terlebih dahulu?." Lexi berpaling menghadap ke arah lain dirinya sangat malu. Untung saja Lexi dengan cepat mengamankan miliknya.
"Ini kamarku! Aku bebas masuk kapanpun." ujar Kahfa datar, Lexi tak menyaut lagi ia lelah dan tak ingin berdebat lagi, itu sebabnya Lexi memilih untuk diam.
"Mana Zaynnya Bang?" Lexi mencopot alat dari miliknya dengan cara membelakangi Kahfa, dan memberikan tanggal di asi miliknya untuk kemudian ia simpan di lemari pendingin yang di sediakan Kahfa.
"Zayn sudah tidur. Ibu bilang jangan mengganggunya."
"Kalo Zayn bangun tengah malam bagaimana?"
"Ibu akan mengantarnya ke sini. Tidurlah ini sudah larut. Abang akan membersihkan diri dulu."
Lexi tak langsung tidur ia memikirkan tentang dua wanita yang menghampirinya. Benarkah dirinya berhalusinasi?
Kahfa keluar dengan hanya mengenakan handuk putih sebatas pinggang. Lexi yang sudah menduga hal ini akan terjadi tidak terpengaruh sama sekali ia menampilkan wajah biasa saja.
"Maaf aku lupa." Lexi beranjak. Mengambil pakaian ganti untuk suami barunya. Ada sesak di dada Lexi mengingat perlakuan Kahfi yang berbanding terbalik dengan Kahfa. Setiap kata lembut yang mendayu-dayu di ganti oleh nada perintah yang selalu berhasil membuatnya kesal.
Setelah tugasnya selesai Lexi membaringkan tubuh membelakangi Kahfa. Ini sulit dan sangat tidak mudah. Sejak awal Lexi memang salah mengambil langkah. Semoga Kahfi di sana tidak kecewa padanya.
"Lexi buka kerudungmu. Aku tau kau tak nyaman, rambutmu halal untuk ku lihat." Kahfa juga merebahkan tubuh di belakang Lexi. Harunya ia mendekap wanita itu tapi tangannya terasa kaku takut Lexi malah menolak pelukannya.
"Nanti saja Bang."
"Kau masih mengingat Kahfi?" Sial Kahfa tau jawabannya tapi malah ia perjelas dengan pertanyaan.
Lexi diam menyangkalpun percuma.
Mengetahui diamnya Lexi adalah meniyakan, secara sadar Kahfa melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku tak memintamu melupakan adikku. Tapi tolong di saat kita bersama jangan pernah menyamakan atau membandingkan antara perlakuan kami. Meski kami bersaudara tapi kami adalah dua orang yang berbeda. Kugarap kau mengerti maksudku." Kahfa merasa dirinya sensitif kali ini.
"Ya Bang aku mengerti. Terimakasih karna tidak memaksaku untuk melupakannya."
"Tidurlah."
Setelah yakin Lexi sudah terlelap Kahfa membelitkan tangannya di perut wanita yang sudah halal untuk ia sentuh.
Ini adalah kemustahilan yang menjadi nyata. Ketidak mungkinan perasaan haramnya kini sudah menjadi halal tentu saja atas ijin tuhannya. Apa ia layak bersyukur dengan takdir ini? Tidak-tidak sama sekali karna hal ini ia harus kehilangan adik yang ia sayangi.
"Lexi tak pernah terbayangkan sebelumnya akhirnya kau bisa ku miliki. Aku akan melindungi kalian seperti janjiku pada mendiang Kahfi. Jangan mempersulit semua tugasku, aku tak berharap banyak, aku akan menunggumu semoga kau bisa mencintaiku seiring berjalannya waktu." Kahfa semakin erat memeluk Lexi dari belakang.
Seperti inikah rasanya memiliki seorang istri? Apa lagi istri yang ada di pelukannya adalah wanita yang sejak lama Kahfa inginkan.
Kahfa sekarang mengerti mengapa Tuhan mematahkan hatinya berulang kali melainkan Tuhannya ingin ia menikah dengan gadis awam yang ia ragukan sebelumnya. Jika saja Kahfa menikah dengan Aisyah atau seorang guru Sd itu sudah di pastikan Kahfi tak akan berwasiat untuk Kahfa menikahi Lexi.
Begitu banyak kejutan di antara hidup Kahfa.
.
Lexi terbangun dari tidurnya dengan cara terengah. Ia juga berteriak sehingga Kahfa yang di sampingnya turut terbangun. Juga keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Ia bermimpi buruk di malam pertama mereka.
"Lexi ada apa? katakan!" Kahfa mebcoba menenangkan Lexi yang menggigil ketakukan di hadapannya.
"Wanita dengan wajah terbakar itu mengejarku dan Zayn Bang. Dia, dia membawa sebuah belati untuk menyakiti kami. Aku- aku harus bagai mana?"
"Lexi tenang. Tak akan ada hal buruk yang terjadi mimpi itu hanya bunga tidur. Berhenti memikirkan hal buruk."
Lexi malah mengikis jarak dan memwluk tubuh Kahfa.
"Aku takut Bang sungguh. Aku takut wanita itu menyakiti Zayn." alih-alih takut terluka yang Lexi takutkan hanya keselamatan putranya.
__ADS_1
"Tidak akan Abang biarkan sedikitpun bahaya mengintai kalian. Abang pastikan kalian akan baik-baik saja." Tanpa sadar Kahfa berkata lembut dan balik memeluk Lexi, tidak hanya itu Kahfa juga mengecup sekilas kening Lexi.