
"Kay sudah donk jangan nangis mulu. Ini sudah hampir pagi." Ghaza membujuk Kayla, menyentuh pundak istrinya yang bergetar membelakanginya. Ghaza sudah kehabisan akal untuk membujuk istrinya.
"Abang jahat. Abang pembohong, Kay sudah gak percaya lagi dengan ucapan Abang." Kayla terus menepis tangan suaminya yang berusaha menyentuh tubuhnya.
"Kay, kan Abang udah minta maaf. Masa Kay gak mau maafin Abang sih." Ghaza masih berusaha berkata lembut.
"Abang terlalu banyak melakukan kebohongan malam ini." Kayla masih terisak-isak.
"Kan Abang udah bilang, Abang gak tahan Kay." Ghaza masih mempunyai alasan.
"Tapi Abang Bohong, katanya gesek-gesek doank taunya di masukin."
"Kan Kay udah bilang tadi siang udah janji malah, janji itu adalah hutang jadi Abang tagih deh, Abang tidak mau istri Abang mempunyai hutang." Bukan Ghaza namanya jika tidak pandai berdilat lidah.
"Oke. Terserah Abang, tapi kenapa Abang tidak pakai pengaman, Abang juga malah mengeluarkannya di dalam." Kayla berteriak bahkan kini ia sudah menangis kembali. Di tengah rasa sakit yang menghantam tubuhnya, rasa kecewa pada suaminya sangat besar.
"Abang minta maaf." ucap Ghaza lirih, ini salahnya. Ghaza mengakui jika dirinya bersalah ia sepenuhnya sadar saat melepas seluruh benihnya di rahim istrinya. Tapi ia tak mampu menghentikan kenikmatan yang baru saja ia rasakan.
"Bagaimana jika Kay hamil Bang? Kay sedang masa subur, kan Kay udah bilang." Kayla semakin menangis tergugu.
Ghaza juga membisu mendengar kalimat istrinya.
"Abang akan tanggung, tak akan ada yang menggunjingkanmu Kay."
"Kayla tetap gak mau." Kayla semakin menangis, membuat Ghaza semakin pusing di buatnya.
Karna kelelahan menangis akhirnya Kayla terlelap dengan sendirinya menyisakan beberapa tetes air mata di sudut matanya.
__ADS_1
"Maaf." Ghaza membalutkan selimut ke tubuh polos istrinya.
Pria dewasa itu tidak tidur ia lebih memilih untuk mandi besar terlebih dahulu dan kembali bermunajat di malam yang kelam kehadapan sang pencipta.
Hatinya juga di liputi dengan kegelisahan yang kini merambat menggerogoti pikirannya. Sungguh ini juga mengganggu system kerja otaknya.
Jika di pikir sebenarnya tak perlu ada yang di khawatirkan oleh Ghaza, pernikahan mereka sah baik di mata hukum dan agama. Hanya saja ketakutannya satu ia takut di benci oleh Kayla, satu hal itu adalah kelemahan untuknya.
Selesai beribadah Ghaza hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Saat Ghaza tengah tengah meminum air putih, Berlian menghampiri Ghaza dengan membawa satu loyang brownies coklat.
"Kau sudah bangun." Berlian bertanya sembari meletakan brownies di atas meja makan dan memotongnya menjadi beberapa bagian.
"Hm." Ghaza hanya berdehem.
"Aku bahkan belum tidur sama sekali, makanya aku bikin kue-kue agar ada kegiatan."
"Kau, tidak ingin mencoba kue buatanku." tawar Berlian.
"Tidak."
Ghaza segera kembali memasuki kamarnya ia tak ingin ada yang memergokinya tengah berbincang dengan Berlian, salah-salah akan terjadi fitnah untuknya.
"Kau sedang apa?" Ghaza segera mendekati istrinya yang tengah terduduk juga dengan banyak tissue bekas pakai di sekitarnya, Ghaza membulatkan matanya saat mengetahui Kayla tengah membersihkan sesuatu dari milik Kayla darah?
"Abang Kay berdarah, dan bagian inti Kay juga tak nyaman." Adu Kayla.
__ADS_1
"Apa sakit?"
"Hanya sedikit."
"Ayo kita kerumah sakit.
"Aku gak mau," Kayla menolak ajakan suaminya.
"Kay aku takut terjadi sesuatu padamu karna ulahku." Ghaza tak bisa menyembunyikan ke panikannya.
"Kata orang juga kalau melakukan pertama kali akan berdarah bisa saja ini hanya darah kegadisan Kay, Bang." Kayla masih kekeh tidak mau kedokter.
"Ini tidak normal Kay. Darah gadismu tadi udah abang seka dengan tissue dan sebagian merembes ke sprai." Ghaza menunjukan darah yang hampir mengering di atas seprai.
"Mana ponsel Abang? Abang mau menghubungi dokter atau Ibu, atau siapapun." Ghaza sudah mulai cemas saat darah dari area itu masih keluar meskipun tidak banyak.
"Abang jangan gila. Abang mau mempermalukan Kay?"
"Bukan begitu Kay, tapi aku takut itu bahaya. Aku juga nol besar dalam masalah ini."
"Aku tidak mau, aku malu." Kay masih melarang Ghaza untuk menghubungi siapapun.
"Dasar keras kepala." tak ingin mendengarkan istrinya Ghaza menelpon salah satu kenalan dokternya.
Setelah menyampaikan keluhannya Ghaza bisa bernapas lega karna tidak ada yang perlu di khwatirkan. Itu normal dan sering terjadi dalam beberapa kasus. Rekan Ghaza menyarankan agar mengomper bagian pangkal paha istrinya menggunakan air hangat.
Ghaza kembali ke dapur untuk mengambil wadah, karna untuk air hangat sendiri sudah tersedia di kamar mandi.
__ADS_1
"Mas Ghaza bawa wadah buat apa?"
"Bukan urusanmu." Ghaza pergi meninggalkan saudara tirinya yang nampak kebingungan.