
"Biasanya Ayang datang bulan berapa hari?" Kahfi merasa tak sabar.
"Seminggu mungkin." ujar Lexi ragu.
"Baru dua hari Ay, Mas udah ga tahan. Padahal selama dua puluh tujuh tahun abang ga kebelet-kebelet amat ko."
"Hah, Mas kebelet?"
Lexi merasa heran padahal beberapa menit yang lalu Kahfi baru keliar dari kamar mandi masa sekarang udah kebelet pikir Lexi, gadis itu sampai mengerutkan keningnnya dalam menyiratkan kebingungan.
"Kebelet dalam arti lain Ay," Kahfi menyadari kebingungan di wajah istri cantiknya.
"Oalah."
"Yeah," sepertinya Kahfi memang harus ekstra sabar saat menghadapi istrinya yang memang rada-rada polos condong ke bego. Astagfirullah Kahfi malah mencibir, ia semakin gemas dengan tingkah istrinya.
"Mas, aku ingin warnain rambut ya? Boleh ya?" Lexi memang kerap kali mengubah warna asli rambutnya sebelum menikah, di karnakan ia sudah menikah makanya ia berpikir untuk untuk merubah warna ramnutnya.
"Mau warna apa lagi sih Ay? Bagusan juga begini hitam legam. Ayang mau merubah warna apa? Pink, ungu, hijau merah atau kuning, persis seperti anak ayang di pasar malam begitu?" sewot Kahfi.
"Lah kok nylolot!"
"Lagian Ayang ada-ada saja sih." Kahfi mencebikan bibirnya.
"Mas ih kenapa gak pake baju?"
Lexi mulai risih saat Kahfi semakin sering memeluk dengan ke adaan tubuh yang setengah telan jang ini, bukan apa-apa Lexi takut hilap dan kehilangan kendali pada tubuh kekar suaminya.
"Sengaja, biar Ayang kenal Mas luar dalam." Kahfi semakin heran dengan tingkahnya yang semakin kesini semakin ke sana.
"Ih Mas gaulnya sama siapa sih? Makin lama ko ngelantur mulu ngomongnya."
"Sama Ghaza Ay, sepertinya Abang ngelantur mulu karna pengaruh puasa mulu."
Ya Muiz. Kahfi benar-benar aneh, menurut Lexi, inilah sisi lain, lebih tepatnya sisi gelap seorang Gus Kahfi yang di kagumi banyak santri wati.
"Masa? Memangnya Gus Ghaza mengatakan apa?"
"Yakin Ayang mau dengar? Tapi jika sudah dengar lakuin ya?" Kahfi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Lexi berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.
"Ghaza bilang, meski pasangan kita berhalangan kita masih bisa bersenang-senang ko Ay. Ayang mau gak nyenengin Mas?" Kahfi memilin rambut panjang istrinya menggunakan jemari panjangnya dan membawanya kehidungnya untuk ia baui aromanya.
"Mas, aku udah dua hari gak keramas!"
"Biarkan saja Ay. Bagai mana apa Ayang mau?" Kahfi bertanya terlebih dahulu.
"Me-memangnya apa yang mau Mas lakukan?" tanya Lexi ragu-ragu.
"Tidak jadi deh Ay, takut Abang berulah macam-macam nanti saja setelah Ayang suci. Mas gak akan membiarkanmu tidur." Kahfi melepaskan diri lalu memakai pakaian yang di siapkan Lexi.
Sebenarnya Kahfi khawatir jika coba-coba sebelum suci takut malah Kahfi berbuat macam-macam yang di larang. Lagi pula Kahfi harus bersabar demi sesuatu yang ia nantikan. Yang terpenting Lexi sudah menjadi miliknya sekarang.
"Ay batasi setiap pertemananmu dengan laki-laki siapapun itu." Kahfi teringat ucapan Abangnya. Di luar sana Kahfi yakin banyak pria yang mengincar gadis secantik istrinya.
"Iya Mas."
"Nanti setelah isya, datang ke kelas Mas ya!"
"Ya Mas "
Suara speaker di masjid sudah terdengar, di saat senja menyapa dan sang surya sudah kembali ke tempat persembunyiannya.
"Mas aku heran, mengapa semua santri di sini terlihat canggung saat bertemu denganku?Mereka juga tak menyukai namaku. Mereka mengganti namaku dengan seenaknya menjadi Nining?"
"Nining?" Beo Kahfi, bahkan pria kekar itu sudah mendekat ke arah Lexi dan menyodorkan lengan kemejanya agar di kancing oleh istrinya.
"Hu'um Mas. Semua memanggilku Nining." Lexi menganguk. Benar-benar Lexi memang keponakan ibunya, bahkan sampai sekarang ibu Kimmy memanggil suaminya dengan sebutan Agus. Karna kesalah pahaman di masa lalu.
"Ay, bukan Nining. Mungkin mereka memanggilmu Ning. Ning itu panggilan istimewa daerah ini sebagai sebutan bagi seorang perenpuan yang merupakan kerabat, menantu atau seorang anak perempuan yang memiliki kekeluargaan dengan pemilik pondok pesantren Sayang." ujar Kahfi terus terah.
"Ohhh, begitu? Kupikir mereka tidak munyukai namaku sehingga menggantinya." Lexi tersenyum kikuk atas prasangkanya sendiri.
"Kau ini ada-ada saja mana ada orang lain yang tidak menyukaimu?"
Ada yang tidak menyukaiku Mas, Zahra, Zahra temanmu sangat tidak menyukaiku. Tapi itu semua hanya tertahan di tenggorokannya saja. Entah akan seperti apa reaksi Kahfi saat mengetahui Zahra telah kembali dan ia sudah menemuinya tanpa sepengetahuan Kahfi.
.
__ADS_1
Di sebuah rumah mewah seorang anak dan ibu sambungnya berdebat sejak dua jam yang lalu. Yang di mana sang anak perempuannya meminta ibunya untuk membantu serta membujuk seorang pria untuk mau meminangnya.
"Ibu menyayangimu Berlian. Tapi ibu tak bisa memenuhi ke inginanmu."
"Apa susahnya? Ibu mengatakan pada Ghaza agar dia menikahiku! Aku tidak papa jika harus menjadi madu Kayla Bu."
Berlian tetap ngotot ingin di jodohkan dengan Ghaza baginya pria itu sangat amat sempurna, penuh cinta juga perhatian. Ia yakin ia akan amat sangat bahagia jika ia dapat mengklaim jika Ghaza miliknya juga.
Ayudia tetap menolak keinginan putri sambungnya, ia tak ingin hubungannya dan putra tunggalnya hancur karna ia mengikuti ke inginan Berlian. Lagi pula ia sudah di buat berjanji pada putranya agar tidak mengikuti dan mencampuri urusan putra serta menantunya.
Bukan ia tak menyayangi Berlian. Ayudia bahkan sangat menyayangi putri sambungnya itu, tapi jika harus mengambil resiko di benci oleh putranya Ayudia tak sanggup. Bagai manapun Ghaza mau menerimanya kembali karna Kayla juga yang membujuk putranya.
"Ini, kesempatan Bu, kesempatan untukku masuk di antara rumah tangga Ghaza dan Kayla. Ibu bisa mengatakan pada mereka jika aku siap menjadi rahim pengganti seperti di kisah para novel." ujar Berlian, ia berimajinasi tinggi tentang ini. Yang dimana di novel-novel yang Berlian baca pemeran utama pria akhirnya mencintai istri keduanya.
"Kasus ini berbeda Berlian. Putraku bahkan tak menginginkan anak jika bukan dari Kayla. Sia-sia saja Ibu mengatakannya. Yang ada malah Ghaza akan memusuhi ibu."
Ayudia kehabisan kata-kata, sejak tadi ia mencoba menjelaskan tentang Ghaza tapi putri sambungnya itu tetap mengotot dan ingin menang sendiri.
"Ibu tak menyayangi Berlian." teriak gadis berumur dua puluh lima tahun itu.
"Bagai mana jika kau, Ibu kenalkan dengan Kahfa? Putra sulung Gus Ridwan. Dia sama tampan juga sangat kaya. Pasti kau akan menyukainya."
"Aku sudah pernah bertemu langsung dengannya. Pria dingin dengan lidah yang lumayan tajam. Aku tak menyukainya Bu. Aku hanya menginginkan Ghaza. Jika Ibu tak mau membantu aku akan menjeratnya sendiri." Berlian sepertinya memang sudah tetgila-gila dengan Ghaza, sampai ia menutup mata tentang latar belakang Ghaza yang telah beristri.
"Nak. Ibu mohon, namanya di madu itu gak akan nyaman, justru menimbulkan penyakit hati." Ayudia bercermin pada kesalahannya di masa lalu.
"Aku tidak perduli. Ini juga salah Ibu, mengapa ibu tak mengatakan sejak awal jika ibu memiliki putra tampan dan penyayang seperti Ghaza, mungkin jika sedari dulu ibu mengatakannya Ghaza sudah menjadi milikku!" Berlian kembali berteriak dengan amarah yang meletup-letup.
"Percuma ibu mengatakannya sedari dulu juga. Hati Ghaza sudah di curi oleh Kayla sedari gadis itu baru lahir." Ayudia mengatakan kebenarannya.
"Terserah, yang pasti aku ingin tetap memiliki Ghaza bagai manapun caranya." Berlian benar-benar keras kepala di jalan yang salah.
Ayudia menatap Berlian dengan amarah yang besar, sosok seorang ibunya kini muncul kepermukaan. Sekali lagi ia tak ingin membuat putranya terluka apa lagi Ghaza harus mendua. Karna Ayudia yakin jika Kayla memegang sekte anti poligami. dan jika hal itu terjadi bukan hanya hidupnya yang akan hancur tapi juga hidup Ghaza, mengingat begitu tak terbendung perasaan Ghaza terhadap gadis yang bernama Kayla itu.
"Jangan macam-macam dengan putraku!" Ayudia mencengkram kasar rahang Ayudia ingngga memerah, seakan ingin meremukkan rahan runcing yang rapuh itu.
"Aku tak akan membiarkan kau mengusik hidup putraku. Sekalipun kau anakku sendiri, atau aku bisa berubah menjadi malaikat maut untukmu.!" Ayudia mendorong Berlian hingga terhantuk keras ke dinding sampai menimbulkan dentuman yang cukup kasar.
"I-i,ibu." Berlian tersentak saat Ayudia berlaku kasar padanya.
__ADS_1
"Batalkan niatmu. Jangan sampai tanganku melukaimu." Ayudia pergi berlalu.
"Aku tidak takut pada siapapun. Ghaza harus menjadi milikku dengan atau tanpa restu darimu." Tekad Berlian semakin kuat.