
"Abang." panggil Lexi pelan. Ada apa nih? Mengapa bisa adik iparnya menggunakan mode menggemaskan seperti ini.
Untuk pertama kalinya Lexi memanggil Kahfa dengan sebutan Abang sama seperti Kayla dan Kahfi, padalah biasanya gadis itu memanggil Kahfa dengan sebutan Gus.
"Ada apa?" Kahfa mendengus.
"Kau mengenal wanita yang bernama Zahra?"
Untuk sesaat Kahfa mematung, sebenarnya ia tengah berpikir berkata jujur atau sedikit menambahkan bumbu agar sepupunya itu semakin kesal padanya. Tapi hati Kahfa kasihan akan gadis itu, lagi pula ia tak berniat menjadi pelaku adu domba di antara adik dan sepupunya itu.
"Ya, aku mengenalnya."
"Kau tau? ada hubungan apa wanita bernama Zahra dan suamiku?"
"Zahra seorang wanita manis, teman sepermainan aku, Kahfi dan Ghaza." ujar Kahfa terus terang.
"Aku tau Zahra seorang wanita bukan trans gender. Yang ku pertanyakan ada hubungan apa suamiku dengan wanita itu?" Lexi berpikir sebenarnya Kahfa pura-pura bodoh atau sengaja ingin menjadi garda untuk melindungi Kahfi.
"Jika masalah itu, lebih baik kau tanyakan saja pada suamimu, bukan ranahku untuk menjadi saksi atau wasit atas rumah tangga kalian." Kahfa mengarahkan kursi roda miliknya menuju kamarnya sendiri.
"Terlalu banyak gadis yang baper oleh tingkah lembut Kahfi." Kahfa bergunam dalam hati, seandainya saja Kahfi seperti dirinya atau Ghaza yang kerap kali berlaku tegas pada setiap wanita, mungkin hal srmacam ini takan terjadi.
Lexi semakin di buat penasaran akan fakta-fakta yang tersembunyi dengan gadis bernama Zahra itu, belum melihat seperti apa Zahra Lexi sudah di buat senewen oleh ikirannya sendiri.
Kayla. Ya hanya Kayla yang bisa ia mintai keterangan, jika Zahra teman sepermainan Ghaza, dan kembar bersaudara itu. Besar kemungkinan Kayla mengetahui sesuatu tentang Zahra.
Lexi menyeret langkah kakinya menuju kamarnya kembali, di mesjid pondok juga terdengar lantunan ayat-ayat suci meneriaki keagungan yang maha kuasa lewat untaian nada dan syair indah yang keluar dari kalimat indah sang pembaca Al-quran.
Lexi akui di tempat ini ia mengalami ketenangan yang tidak ia jumpai di manapun di setiap negara yang pernah ia singgahi.
Saat kembali memasuki kamarnya, ia tak mendapati Kahfi berada di sana sejadahnya juga bahkan sudah di gulung dan di lipat secara rapih dan pria itu letakan di tempatnya semula.
Ditengah udara pagi yang dingin, entah tubuh atau hatinya terasa membara sehingga Lexi merasa ia perlu membuka jendela di pagi buta ini, agar udara segar memasuki kamar barunya.
__ADS_1
Sesekali Lexi merintih pelan saat rasa tak nyaman juga sedikit kesakitan di antara perut bagian bawahnya. Ya ini normal dan sering kali Lexi rasakan di saat tamu bulanannya tiba.
Hembusan angin pagi menyapa permukaan wajah Lexi saat jendela kamar ia buka, menenangkan serta memberi sensasi dingin pada kulit wajahnya.
Dari atas sini Lexi dapat melihat beberapa santri dan santri wati pondok yang hendak kemesjid. Terdampar di tempat suci dengan kubangan ilmu membuatnya berpikir ini hidupnya jati diri yang tengah ia cari.
Tujuannya menikah dengan Kahfi selain karna menyukai pria itu, juga Lexi berharap banyak belajar dari suaminya tentang mengenal Allah dan kekasih tercinta, habib tertinggi rasullullah, dan ia akan iklas kemana takdir akan membawa rumah tangga.
Yang Lexi tekankan dan terapkan dalam jiwanya ia harus menjadi istri sebaik mungkin, maka jika suatu saat Kahfi berpaling darinya setidaknya ia tidak menyesal karna sudah memberikan yang terbaik untuk suaminya. Tapi pertanyaannya apa Lexi mampu? Mengingat gadis itu terlalu ekspresif akan banyak hal.
Sepasang tangan kekar membelit pinggannya, hampir saja Lexi menjerit saking terkejutnya. Kahfilah tersangka memelukan yang ia lakukan pada Lexi.
Tindakan Kahfi acap kali membuat Lexi salah paham, Kahfi yang lembut seperti ini membuatnya mudah terbuai dan terlena.
"Kau sedang apa?" Bisik Kahfi, pria tampan yang memeluk tubuhnya bersuara lirih dan mendayu-dayu.
Ingin rasanya Lexi mengatakan dengan lantang jika ia tengah di landa api cemburu, akan satu nama yang bahkan tidak ia ketahui rupa dan jenisnya seperti apa.
"Tidak ada, aku hanya sedang mendinginkan kepalaku saja."
"Ya, kepalaku panas bahkan rasanya seperti mendidih." tapi kalimat itu hanya tercekal di tenggorokannya, Lexi selalu di buat lemah oleh pria bernama Kahfi itu, salah siapa ia terlalu memuja pria itu?
Lexi juga akan terlihat sangat bodoh jika di hadapkan dengan Kahfi. Pria itu kekuatan sekaligus kelemahannya.
"Mas Kahfi mencintaiku?" tiba-tiba Lexi melepas pelukannya sekaligus bertanya.
Kahfi menghadapkan Lexi pada wajahnya ia tatap manik memabukan matanya. Kahfi mengangkat dagu istrinya dan mengecup bibir ranum Lexi sekilas.
"Kau bertanya seakan aku tak menunjukan bentuk cintaku!" Kahfi mengecupi permukaan wajah Lexi, "Katakan ingin seperti aku memperlakukanmu? Barangkali kau memiliki imajinasi tersendiri tentang pasangan." Kahfi mengangkat Lexi ala koala sehingga gadis itu refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang suaminya.
"Mas, apa yang kau lakukan?" Lexi memekik saat Kahfi membawanya berputar-putar kemudian merebahkan tubuh kekarnya di atas ranjang dengan Lexi yang masih berada di atas tubuhnya.
Dalam hati Lexi berpikir haruskah ia bertanya tentang apa yang menggangu pikirannya.
__ADS_1
Lexi ragu-ragu ia hanya memainkan jemarinya di atas dada Kahfi, Lexi di buat penasaran akan undakan keras di balik koko yang di kenakan pria di bawahnya, sangat keras dan liat pikir Lexi.
"Mas siapa Zahra?" pada akhirnya Lexi mencetiskan pertanyaan itu.
Untuk sejenak Kahfi mematung mencoba memilah kata agar tidak menyinggung apa lagi melukai perasaan Lexi istri barunya, wanita yang berhak penuh atas dirinya.
"Dia teman wanita ku satu-satunya saat aku kecil, anak dari teman ibuku. Dia juga seorang gadis santun tapi ceria sampai saat aku mulai merasa ada rasa yang lebih terhadapnya." Kahfi masih memperhatikan raut wajah Lexi yang mulai masam.
"Kau menyukainya?"
"Tunggu dulu aku belum selesai bercerita."
"Ya sudah lanjutkan." Lexi mengerucutkan bibirnya.
"Saat kami lulus kuliah dan sama-sama menyandang gelar sarjana. Aku membicarakan niatku untuk memperistri dia." sepertinya Kahfi tidak berniat menyebut nama wanita itu, Kahfi menarik nafas dan melanjutkan ceritanya. " Ayah ibuku menyambut baik niatku, mereka melamarkannya untuku tapi lamaranku di tangguhkan dia meminta waktu tiga tahun, unyuk mengejar kariernya tapi meski sudah empat tahun berlalu tak sedikitpun aku mendapat kabar darinya."
"Dan kau memutuskan untuk mengkhianatinya dan menikahiku?" manik indah Lexi sudah di lapisi kaca-kaca bening yang siap tumpah seandainya Lexi mengedip.
"Aku tidak mengkhianati siapapun dan aku tidak menjanjikan apapun padanya." Kahfi menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, menyampirkan helaian hitam itu diantara telinganya.
Kahfi menemukan jika idtrinya tengan mencemburuinya.
"Tapi kau mendo'akannya, di sepertiga malam tadi." sungut Lexi kesal bahkan gadis itu mencoba meloloskan diri dari belitan tangan Kahfi.
Sedang Kahfi sendiri tersentak kaget, ia bertanya-tanya apa suaranya terdengar oleh istrinya, lalu bagai mana perasaan Lexi? Pikirnya. Pantas saja Lexi terlihat ketus padanya.
"Mendo'akan seorang gadis lain di statusmu sebagai suamiku apa itu di benarkan?" Lexi mulai berkata tegas.
Kahfi tak menyangka jika Lexi dapat menampilkan sisi lain selain sosok manja di hadapannya, gadis itu semakin mempesona di hadapannya.
"Aku memang tidak bisa membaca pikiran setiap orang, tapi selama kau milikku aku tak sudi kau menyebut nama wanita lain apa lagi mantan kekasihmu." Lexi mencebik kesal dan bangun dari tubuh suaminya.
"Hey aku tidak pernah memiliki mantan kekasih."
__ADS_1
"Lalu bagai mana jika Zahra kembali?"