
Kahfa menyadari sesuatu saat nama Greendia di lontarkan dari mulut Lexi.
Ia juga mulai menghubung-hubungkan beberapa kejadian yang melibatkan gadis itu. Keperibadiannya yang bar-bar juga pemberani mengingatkannya pada Lexi, garis wajah, warna kulit serta bola mereka sama mengingatkan Kahfa akan mendiang Om Sami. Juga Kahfa pernah mengatakan Greendia seperti anak ibunya di luar Kk.
Lalu tentang di mana Lexi mengatakan jika di saat mereka menikah ada seorang wanita bercadar dengan manik berwarna abu muda, serta seorang wanita dengan wajah terbakar seketika mengingatkan Kahfa.
Dan lagi. Saat mengajar dulu Kahfa pernah memanggil orang tua Greendia, karna kesalahan gadis itu. Dan Greendia mengatakan padanya supaya jangan terkejud saat bertemu dengan orang tuanya. Meskipun Kahfa tak sempat menemuinya karna kejadian Kahfi tiada. Itu semakin membuat kejanggalan di diri Kahfa dan sepertinya Kahfa menemukan benang merahnya.
"Lexi aku harus pergi. Tunggulah di rumah jangan kemanapun tanpa seseorang menemanimu." Kahfa memakai jam tangannya. Juga menyemprotkan parfum beraromakan perpaduan antara raspbery dan mursk. Wangi lembut itu menggelitik penciuman Lexi.
"Kau mau kemana?"
"Aku hanya pergi sebentar. Sebelum makan siang aku pasti sudah kembali."
"Menemui Greendia?" tebak Lexi.
"Hem. Dengan Ayah juga." Kahfa berlalu begitu saja setelah mengucapkan salam.
Lexi mematung di tempatnya. Kahfa berniat menemui Greendia dengan ayah mertuanya. Lalu apa maksudnya,? Sangat tidak mungkin Kahfa menemui Greendia hanya karna prestasi gadis itu. Karna Greendia merupakan santri yang biasa-biada saja tidak cerdas apa lagi berpotensi di bidang agama.
Ada Ayah Ridwan juga yang turut ikut untuk menemui Greendia. Salahkah jika Lexi menyimpulkan jika Kahfa memang benar-benar ingin menjadikan Greendia sebagai madunya.
Harusnya Lexi bersyukurkan jika itu benar terjadi. Itu artinya Kahfa akan mendapatkan pasangan hidup yang baik dan cantik. Greendia juga terlihat sangat memuja suaminya. Ya dan ia rasa Greendia akan menerima Kahfa, lagi pula pernikahannya hanya sekedar menjalankan wasiat di atas kontrak.
Lain di mulut lain pula di hati. Lexi merasa hatinya tak tenang saat Kahfa pamit untuk menemui gadis itu. Green cantik juga energik dan yang terpenting dia seorang gadis. Di bandingkan dengan dirinya yang tadinya hanya seorang janda satu anak yang di tinggal mati. Ah rasanya Lexi tak mesti harus bersaing. Green pasti akan menjadi pemenangnya.
.
Sehari setelah Kahfa dan Ayah Ridwan menemui gadis bernama Greendia. Gadis itu keluar dari pondok pesantren. Entah kemana gadis itu pergi yang jelas Lexi di buat bertanya-tanya.
Ini benar-benar janggal untuk Lexi. Ia bahkan sudah bertanya pada Kahfa dan ayah mertuanya tapi mereka mengatakan jika gadis yang bernama Greendia telah pindah dari sana.
Lexi sedikit menyimpulkan jika Kahfa dan ayah mertuanya terlibat dalam hal ini. Ya feeling seorang istrikan biasanya kuat sehingga. Lexi tetap pada perasangkanya yang mengatan jika Greendia ada di suatu tempat dalam naungan Kahfa, atau bisa jadi Kahfa sudah menikahinya.
Astagha Lexi berpikir terlalu jauh.
Lexi kembali kekamar Kahfa. Ia kapok tidur di kamarnya yang sebelumnya. Dirinya di buat begadang karna Zayn yang rewel.
Sore harinya Kahfa tersenyum lebar saat ia melihat istrinya dudah berada di kamar mereka. Aroma minyak telon dan bedak bayi menyambut indra penciumannya, Lexi terlihat tengah memasangkan kaos kaki bayi di kaki mungil putranya. Ya sejak menikahi ibunya Kahfa selalu mengatakan jika Zayn adalah putranya.
__ADS_1
"Wah putra Papa sudah wangi." Kahfa meletakan asal tas kerja dan jasnya. Pria itu segera naik ke tempat tidur dan menghujani tubuh Zayn dengan begitu banyak kecupan.
"Papa mandi dulu. Jangan cium Zayn dulu." repleks Lexi mengucapkan hal itu dengan suara mengecil menirukan seorang bocah.
Mendengar Lexi menyebutnya Papa sukses membuat Kahfa melebarkan bibirnya ini indah ia menyukai Lexi, yang menanggapi ucapannya.
"Sebentar Ma. Papa kangen sama Zayn." Saut Kahfa manja.
Lexi terdiam ia menggigit lidahnya sendiri. Merutuki dalam hati karna memanggil Kahfa dengan sebutan Papa. Salah Kahfa sendiri mengakui dirinya sebagai Papanya Zayn.
"Ih, Abang sih." Lexi memukul dada keras suaminya. Sedangkan Kahfa hanya tergelak karna berhasil membuat Lexi kesal sekaligus malu.
"Mama Zayn sudah mandi?" Kahfa bangun dan sekali lagi mencium pipi putranya itu.
"Sudah."
"Benarkah?"
"Kalau tak percaya ya sudah."
Cup.
"Oh iya sudah ternyata." Senyuman manis yang di sunggingkan Kahfa, yang untuk sesaat berhasil menawan dan mengunci pandangan Lexi ke arahnya.
"Abang itu sudah berapa kali menciumku tanpa ijin?" Lexi menyeka bekas ciuman suaminya.
"Memangnya jika ijin, kau akan memberikannya dengan suka rela."
"Tentu saja tidak."
"Ya sudah, Abang akan menjadi pencuri ciuman saja. Halal ko cium istri sendiri."
Menurut Lexi Kahfa semakin genit akhir-akhir ini.
"Abang. Aku menghitung berapa kali Abang menciumku. Lihat saja dendanya akan sangat besar."
"Tidak masalah. Sekalipun kau meminta seluruh hartaku asalkan kau mau menyerahkan dirimu dengan suka rela sebagai istriku akan ku berikan."
"Jujur saja Lexi, Abang ingin melepas keperjakaan Abang hanya denganmu." Kahfa berbisik tepat di telinga Lexi dengan suara beritonnya. Seketika Lexi di buat meremang dengan bisikan itu. Ia sudah menjadi wanita dewasa yang berpengalaman, suara dan gestur tubuh Kahfa menunjukan jika pria itu memang benar-benar tengah ingin bercinta.
__ADS_1
Lexi membatu tak menyaut sama sekali.
"Abang bercanda Lexi, tidak usah kau pikirkan." Kahfa membuka kemeja dan pakaiannya dan berlalu kekamar mandi.
Lexi yang masih terbengong menyimpulkan jika Kahfa masih perjaka itu artinya Kahfa tidak menikahi wanita lainkan?
Lexi menimang putranya sebentar dan di saat terlelap, Lexi segera memindahkannya ke atas box bayi yang di sediakan Kahfa.
Lexi bergegas ke keranjang pakaian kotor, ia memeriksa kemeja yang di kenakan Kahfa seharian. Lexi juga menghirup kemeja bekas pakai suaminya itu. Ia sangat penasaran akan hilangnya Greendia. Bisa saja Kahfa memang menempatkan Greendia di tempat lain, dan jika mereka memiliki memiliki hubungan sudah di pastikan di pakaian bekas pakai Kahfa akan tertinggal wangi gadis itu.
Meskipun Lexi tak mengenali aroma Greendia, tapi dia akan mengetahui jika ada bau lain di pakaian suaminya.
Sebenarnya tidak masalah sih jika Kahfa memiliki wanita lain. Tapi Lexi cukup tau diri, ia tak ingin di madu. Meskipun di awal pernikahan ia mengatakan tidak papa di madu, nyatanya nalurinya sebagai seorang istri sah menentang keras dunia permaduan, oleh sebab itu ia juga harus meralat arau merevisi kontrak pernikahannya.
Berkali-kali Lexi mencium kemeja bekas pakai Kahfa. Sampai-
"Tidak usah mencium kemejaku! Kau bisa mencium langsung tubuhku. Atau bagian manapun yang kau kehendaki. Aku milikmu Lexi." Kahfa sudah berada di ambang pintu entah sejak kapan priaitu berada di sana. Pria yang menurut Lexi berubah menjadi tampan beberapa waktu terakhir ini.
"Ka-kau? Se-sejak ka-kapan kau berada di sana?" Lexi bahkan tergagap saat bertanya. Hilang saja kau Lexi, dari pada seperti ini.
"Sejak kau berkali-kali mencium dan mengendusi kemeja kotorku." Kahfa mendekat membuat Lexi mencengkram kemeja suaminya dengan kasar, ia mundur saat Kahfa maju ke arahnya.
"Jangan malu-malu! Kau bisa memeluk dan mencium seluruh tubuhku." Astagha Kahfa memang sejujur itu jika berbicara.
"Kau tak ingin meraba dada dan perutku?"
Blash...
Kali ini Lexi di buat tersipu habis-habisan yang di mana pria itu menawarkan dirinya dengan percuma.
"Kahfaaa."
Ya Allah, dalam setiap keadaan apapun Kahfa menyukai saat Lexi menyebut namanya.
"Yess Lexiii."
"Aku ingin merevisi surat kontrak kita."
Jangankan merevisi membatalkannyapun sungguh Kahfa sangat relaaa. Lillahita'ala malah.
__ADS_1