
Saat Kimmy tengah buang air kecil tiba-tiba saja ia melihat bercak coklat di ****** ********, tak ingin terlalu banyak berpikir Kimmy membiarkan bercak itu sebelum terjadi kontraksi pada perutnya.
"Ridwan, kau di mana, pulanglah segera aku merasa tak nyaman pada perutku. Tadi juga aku mendapati bercak kecoklatan di di pakaian dalamku." pada akhinya Kimmy menghubungi suaminya, karna tak ingit terjadi sesuatu padanya dan calon anaknya.
"Aku segera pulang." Ridwan bergesas melangkahkan kaki meninggalkan ruangannya. Ia tak berniat menyelesaikan pekerjaannya, rasa khawatir kini mendominasi sebagian besar isi kepalanya.
Ridwan memapah tubuh istrinya memasuki mobil. "Mbak aku nitip anak-anak ya."
"Iya dek, hati-hati semoga persalinannya lancar." Risma membantu membukakan mobil.
Tib-tiba Kimmy mencekal tangan kakak iparnya, "Terimakasih Mbak selalu berbuat baik padaku, maaf selalu merepotkan Mbak."
"Sama-sama Dek, kita adalah keluarga, terimakasih juga karna kalian selalu ada disetiap Mbak membutuhkan pertolongan." Risma memeluk adik iparnya juga.
Di perjalanan kerumah sakit, Kimmy tidak henti-hentinya menangis. Keringat yang mengembun di kening wanita itu selalu Ridwan seka menggunakan telapak tangannya. Doa-doa terbaik selalu Ridwan ucapkan untuk keselamatan istri serta anaknya.
"Pak tolong tambah kecepatan mobilnya, dan hati-hati ya." Neskipun panik Ridwan masih memperhatikan adabnya sast berbicara pada seorang pria yang tengah mengendarai mobilnya.
"Iya Gus," Supir itu mengangguk dan menambah laju kecepatan kendaraannya.
Dengan penuh perhatian Ridwan menemani istrinya berjalan-jalan agar bisa mempercepat pembukaan.
__ADS_1
Kimmy memandang suaminya penuh haru, pria yang bertahun-tahun lalu ia jebak agar menikahinya, pria taat agama yang tidak tersentuh wanita manapun selain dirinya, pria yang selalu menerimanya meskipun hal menjijikan telah terjadi padanya. Kimmy berpikir adakah orang setulus suaminya, jika ada ia menginginkan satu untuk anak perempuannya.
"Terimakasih, karna bersedia bertahan denganku. Terimakasih juga karna masih menjadikanku sebagai satu-satunya wanita dalam hidupmu meskipun di luar sana banyak wanita yang lebih sempurna menawarkan dirinya padamu." Kimmy tak bisa menahan air matanya yang terus merembes dari tempatnya di tengah rasa sakit yang menerpa dirinya.
"Tidak perlu berterimakadih Dek, itu adalah kewajibanku, untuk menjaga perasaan dan keutuhan keluarga kecil kita." Ridwan mengusap lembut pinggang istrinya di saat rasa sakit itu datang menerjang sang istri. Bibirnya tidak berhenti melantunkan ayat suci di telinga istrinya agar membawa ketenenangan.
"Bagaimana jika bayi ini bukan anakmu?" hanya itu yang ia khwarirkan, akankah Ridwan menyayangi bayinya sama halnya dengan menyayangi anak kembarnya.
"Jangan katakan ini lagi, apa lagi jika bayi kita sudah lahir. Jangan sampai telinga bayi kita mendengar pertanyaan ini. Dia adalah anakku, tidak ada hal lain yang dapat merubah hal itu dariku." Ridwan membawa istrinya kedalam pelukan.
"Ssshhh..." Kimmy berdesis menahan sakit di antara perut sampai ke sekujur tubuhnya.
"Sepertinya aku mau buang air." ucap Kimmy.
"Tidak usah ikut masuk Sus, aku bisa mengatasi istriku sendiri."
"Bapak yakin?" tanyanya tak percaya.
"Yakin Sus,"
Kimmy buang air kecil dengan cara berdiri ia tak mampu lagi untuk sekedar berjongkok. Ridwan membasuh kemaluaaan dengan sangat hati-hati dan membawanya kembali ke pembaringan.
__ADS_1
Tibalah saatnya pembukaan telah lengkap. Kimmy berjuang dengan mempertaruhkan seluruh nyawanya di atas brangkar rumah sakit, demi sesosok mahluk yang suci.
"Sakit." Lirih Kimmy di sela perjuangannya.
"Ya Mas tau, tetap semangat ayo coba lagi. Kimmyku wanita kuat, banyak hal yang lebih sulit dari ini yang berhasil kau lewati. Ayo sebentar lagi anak kita lahir." Ridwan terus menyemangati istrinya.
"Dorong Bu, Ibu pasti bisa." Dokterpun turut memberi semangat.
Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Kimmy. Dan setelah hampir satu jam Kimmy berusaha tangis bayi berhasil memecah seluruh keheningan ruangan.
"Bayinya perempuan." ucap dokter.
"Alhamdulillah."
,
"Menikahlah denganku!" Jason berlutut di hadapan Sari, empat bulan telah berlalu semenjak Sari dan Riza resmi bercerai.
Setelah perceraiannya, Sari bekerja di kantor Jason sebagai office girl, wanita berumur dua puluh empat tahun itu tidak memiliki keahlian selain berbersih dan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Aku belum lama ini baru bercerai, rasanya aku belum siap untuk membuka hati dengah hati yang masih terluka karna kejadian kemarin Pak." Sari menolak halus ajakan pria matang yang mengajaknya menikah.
__ADS_1
"Ijinkan aku menyembuhkan lukamu, aku tidak keberatan jika masih ada nama pria itu di hatimu." Jason merebut tangan Sari dan memakaikan cincin di jari manisnya.
"Jangan mempermalukan aku dengan penolakanmu." bisik Jason tegas.