
"Oke, jika itu alasannya malam ini juga aku pastikan Greendia pergi dari rumah ini." Kahfa mengusap wajah Lexi perlahan. Setelah kejadian dulu Kahfa bertekad akan selalu mengutamakan keinginan dan kenyaman Lexi. Kahfa belajar dari kesalahan di masa lalu tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Kau tunggu saja di sini aku tak akan lama." Kahfa beranjak dan mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Lexi.
.
Tok ... Tokk ..
Kahfa mengetuk pintu kamar Greendia, Kahfa tau wanita itu belum memasuki kelasnya karna makan malam belup di mulai, Kahfa sudah bertanya pada pekerja di rumahnya.
Greendia membuka pintu. "Apa makan malamnya sudah siap?" tanya Green tiba-tiba saat membuka pintu. Greendia menunduk saat yang berada di hadapannya adalah sepupunya, Kahfa.
Kahfa mengernyitkan kening bingung, ia juga mengibaskan tangan saat mencium aroma menyengat dari tubuh Greendia.
"Sepertinya kau menumpahkan satu liter farpum pada tubuhmu." cibiran Kahfa memang selalu terdengar pedas. Kahfa belum berubah sama sekali.
"Tidak aku hanya menyemprotnya sedikit." Sangkal Greendia.
"Ada hal apa yang membuat Gus Kahfa rela menyambangi kamarku?" Greendia bertanya, ia merasa heran kala Kahfa berada di pintu kamarnya, selama 2 tahun tinggal di rumah itu varu kali ini Kahfa mendekat ke arahnya.
"Istri dan putraku sudah kembali, aku akan kembali kerumah ini." Kahfa menjeda ucapannya, Greendia mengangkat wajah, matanya berbinar terang, itu artinya ia akan serumah dengan pria yang ia kagumi. Ya Greendia hanya mengagumi Kahfa dalam diam ia tak berencana merebut apapun dari saudarinya.
"Lalu?"
"Aku sudah menebak kau memang sedikit bodoh." Kalimat pedad itu mampir kembali di mulutnya. "Maaf jika aku menyinggungmu. Aku tak pandai basa - basi, aku ingin kau pindah ke asrama putri, atau di bedeng kosong lainnya yang penting bukan di rumah ini. Dan aku minta kau pindah malam ini juga." Kahfa berujar cepat ia mengatakan niatnya, ia tak ingin istri cantiknya menunghu terlalu lama.
Binar di mata Greendia menyurut seketika berganti dengan tatapan sayu yang terkandung kekecewaan di dalamnya.
Hening.
Dalam waktu yang tidak keduanya hitung hanya kebungkaman yang melanda. Kahfa bahkan merasa kesemutan karna terlalu lama berdiri.
__ADS_1
"Kau tuli atau bisu? Setidaknya katakan sesuatu." Kahfa tak sesabar itu harus menunggu beberapa waktu lagi.
"Apa ini karna Lexi?"
"Bukan." Kahfa tak ingin istri cantiknya di jadikan tersangka.
"Ipar adalah maut. Aku belajar dari masalalu keluargaku dan tak ingin hal serupa terjadi padaku." ujar Kahfa datar.
"Tapi alu tak berniat menjadi duri dalam pernikakan kalian." ujar Greendia sungguh - sungguh.
"Aku tau, tapi aku lebih tau satu hal, setan tidak akan berkenalan pada hamba mana yang akan ia jerumudkan. Bukan aku mengingkari takdhir Allah, aku hanya meminimalisir setiap kemungkinan atau pemicu. Kau bisa saja berkata demikian aku juga bisa berkata sesuai inginku. Tapi aku tak ingin istriku berpikir buruk atau bahkan berniat untuk kembali meninggalkanku. Ku harap kau mengerti maksudku." Kahfa masih menampilkan ekspresi datar.
"Ya, aku mengerti. Tapi ijinkan aku untuk menginap semalam lagi, besok pagi - pagi aku akan pindah lagi ke asrama." Pada akhirnya Greendia menyetujuinya, ia yakin tante Kimmy juga tak dapat membantunya.
"Baiklah."
Kahfa pergi. Sepanjang perjalanan ia berpikir bagaimana cara mengatakannya pada Lexi, ia sudah berjanji pada istrinya jika akan memastikan Green pergi dari rumahnya, nyatanya ia tak tega jika harus mengusirnya malam ini. Bagaimana jika Lexi merajuk dan tak ingin tidur dengannya?
.
.
Sebenarnya ini sudah mendekati ending.
Jangan lupa mampir di karya terbaruku juga judulnya Reuni invite hell.
Semoga kalian suka, sehat-sehat selalu untuk kita semua. Semoga rejeki kita selalu berlimpah dan berkah Aamiin.
Cuplikan๐๐๐
Namaku Abimana aku pria berusia 32 tahun aku adalah anak tunggal begitu juga dengan istriku. Kami menjalani bahtera pernikah sudah sejak lima belas tahun yang lalu dengan di karuniai satu orang putri yang usianya kini menginjak remaja yaitu empat belas tahun.
Jika kalian menganggap aku menikahi istriku karna kecelakaan ataupun hamil di luar nikah kalian salah besar. Kami menikah di usia dini di umur yang dangat muda sama-sama berumur tujuh belas tahun. Dimasa lalu tak ada patokan atau peraturan yang membatasi setiap pernikahan yang terpenting ada niat dan keinginan maka pernikahan itu akan terjadi.
__ADS_1
Aku dan istriku menikah menjalani jalur perjodohan yang di lakukan Ayah dan Ibu kami, tapi meski demikian kami saling mencintai.
Baik diriku dan istri terlahir dari keluarga berkecukupan sehingga kami tidak kesulitan dengan hal perekonomian. Kami saling mendukung baik dalam hal apapun pendidikan dan lainnya sehingga kami memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
Selama lima belas tahun pernikahan aku dan Naya istriku tidak ada masalah berarti atau cobaan yang menerpa keluarga kami. Kami bahagia dengan kehidupan kami yang amat sempurna apa lagi dengan kehadiran Disa putri tunggal kami.
Kata orang rumah tangga di uji di sepuluh tahun pertama pernikahan, dan aku tidak mendapatkan ujian itu di pernikahanku yang ke lima belas tahun. Bukan aku berharap, hanya saja aku menganggap jika kami sudah lulus dan sukses dalam berumah tangga. Tapi ternyata aku salah besar. Cobaan keluargaku baru saja akan di mulai di usia pernikahanku yang sudah lima belas tahun.
Entah karna imanku setipis kulit bawang atau pesona gadis muda itu yang terlalu memancar sehingga hatiku kembali berdebar selain dengan istriku.
Naya Juita adalah nama istriku, dia cantik, pekerja keras, lembut namun tegas juga penuh cinta dan kasih sayang. Tidak salah Ayah Ibuku menjodohkanku dengan Naya. Aku sangat beruntung memilikinya di banyaknya kekurangan yang ku miliki.
Disa Anggara putri semata wayangku sangat periang dan ceria selalu menyambutku di setiap pagi. Selalu membuatku bersemangat setiap harinya. Namun akhir-akhir ini ada juga wanita baru yang menjadi penyemangat untukku. Namanya Dewi, namanya secantik orangnya dia sangat manis dan sederhana, dia wanita muda yang sangat sopan. Dia juga seorang yatim piatu yang merantau di kota ini, Dewi juga hidup sebatang kara.
Malam itu adalah pertengkaran pertama aku dan istriku ...
"Kenapa kau pulang telat Bim?" Naya bertanya dengan seraut wajah marah dan penuh kekecewaan pada suaminya.
"Tadi aku menolong karyawanku yang sakit dan harus di larikan ke rumah sakit Nay." Ucap Bima, tapi ia tidak mengatakan jika yang di tolongnnya seorang gadis muda berumur 22 tahun, yang akhir-akhir ini menjadi wanita lain dalam pikirannya selain Naya. Bahkan mereka sudah menjalani hubungan terlarang selama tiga bulan di belakang Naya.
Bima sangat mencintai Naya tapi ia juga menyukai wanita muda bernama Dewi itu.
"Apa lebih penting bagimu menolong karyawanmu selain hari ulang tahun pernikahan kita? Apa tidak ada karyawan lain yang membawa karyawanmu yang sakit ke rumah sakit? Apa harus direkturnya sendiri yang turun tangan?" Naya bertanya tanpa jeda ia jengkel luar biasa dengan keterlambatan suaminya.
"Lihatlah makan malam yang ku siapkan sia-sia, Disa yang menunggumu sejak tadi kini sudah tertidur karna kelelahan menunggumu Bim." Naya menyoroti suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Maaf." lirih Bima, ia juga merasa bersalah karna pulang di hari yang hampir pagi. Setelah sebelumnya menunggui Dewi di rumah sakit.
"Jangan main-main denganku Bima!" Naya sudah mencium gelagat suaminya yang mulai berulah di belakangnya.
"Apa maksudmu Naya?" Wajah Bima sudah pucat juga tatapan matanya yang terlihat cemas. Jangan sampai Naya mengetahui hubungannya dengan Dewi, ini masih terlalu dini untuk semuanya terbongkar.
"Sekali saja kau menancapkan duri pada hatiku, aku akan membalasmu dengan hujaman belati di dadamu Bima. Aku akan menghadirkan api yang lebih besar dari neraka di hidupmu." Naya tersenyum masam, setelah mengatakan itu dia lebih memilih pergi.
__ADS_1