Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Siapa Yang Pantas Di Hukum


__ADS_3

"Sebelum pulang Abang mampir ke mana.?"


"Aku dan Kahfi tidak mampir kemanapun selain ke pom bensin."


Aku akan mencari tau, jika kau berbohong aku akan menghukummu. Apa lagi jika sebelum pulang kau mampir ke tempat lain."


"Aku akan menghukummu!"


"Kayla." Erang Ghaza frustasi, Kaylanya sangat keras kepala, sangat sulit mengendalikan perempuan yang tengah di landa rasa cemburu dan curiga secara bersamaan.


"Setidaknya kali ini saja percaya padaku. Itu bukan noda lipstik atau gincu yang ada di pikiranmu."


Nah loh, Ghaza menebak dengan tepat apa yang ada di pikiran wanita itu. Kemungkinannya hanya dua, Ghaza hanya asal menebak atau memang Ghaza telah menyembunyikan rahasiah darinya.


"Tidak, aku akan tetap ke rumah Bang Kahfi sekarang." Kayla tetap kekeh. Karna percuma menurutnya jika ia tetap berada di rumah sedangkan pikirannya mengjadi sibolang yang terus berpetualang.


"Ini, sudah malam Kay, kasian Kahfi mungkin sudah tidur. Dia juga butuh istirahat." Ghaza mencoba membujuk Kayla yang tengah memasang hijabnya.


"Kau pikir aku tak butuh istirahat. Justru itu aku butuh kerumah Bang Kahfi sekarang."


"Kay besok saja."


"Engga mau.!" Ghaza hanya bisa mengelus dadanya di saat istrinya kumat seperti ini. Seperti penyakit ayan saja datangnya tak terduga.


"Sini ponsel Abang!" Kayla meminta ponsel suaminya.


"Untuk apa?" Ghaza selalu di buat geleng-geleng oleh kelakuan istrinya.


"Ya, barangkali saja Abang menghubungi Bang Kahfi untuk bersekongkol dalam berbohong."


"Ya Karim." Adakah wanita lain yang kelakuannya persis seperti istrinya ini.


Pusing dan denyutan kepala Ghaza bertambah.


"Kay, Abang pusing rasanya tak kuat jika harus mengantarmu ke rumah Ayah."


"Tidak usah di antar, rumah ayah di sebelah. Lima langkah saja langsung nyampe." Kayla sudah menbuka pintu kamar.


Percuma menahan Kayla sekalipun hujan angin topan, perempuan itu akan tetap nekad menyambangi rumahnya. Harusnya Ghaza sekalian mencucinya tadi.


Ghaza bangun secara perlahan meski kepalanya berdenging. Ia memaksakan diri untuk memastikan jika istrinya sampai di rumah ayah Ridwan dengan selamat. Ghaza baru masuk saat Kayla memasuki rumah.


"Ya Allah, hukuman macam apa yang akan di berikan istriku padaku. Jangan sampai Kayla mengajukan surat gugatan karna ini."


Di Kamar Kahfi.

__ADS_1


Tok ... Tok ..


Tanpa jeda suara itu terus terdengar meski awalnya penghuni kamar mengabaikan tapi lama kelamaan suara itu terus terdengar. Sampai Kahfi dan Lexi menyerah dan membuka pintu. Menunda sesuatu yang baru saja akan di mulai.


Ketukan yang pantas di sebut gedoran itu membuat Kahfi mendengkus kasar oleh tindakan pelaku. Jika saja yang mengetuk pintu adalah Kahfa. Maka kepalan tangan Kahfi ingin sekali menyapa rahang tegas Kakak kembarnya.


"Ada ap-apa?" Kahfa di buat terkejut saat yang mendadangi kamarnya adalah Kayla adiknya sendiri.


"Kay, kau menggerebek Kakakmu sendiri." Kahfi sangat kesal pasalnya Kayla mengganggu aktifitasnya dan Lexi yang baru akan di mulai.


"Ish." Kayla menyelonong masuk kamar Kahfi. Membuat Lexi yang nyaris polos menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


"Kayla. Hey di mana kesopananmu. Abang sudah menikah Kay." Kahfi langsung menghalangi jarak pandang Kayla khawatir adiknya mendapati Lexi dalam ke adaan mengenaskan. Di samping malu, ia juga tak rela jika tubuh indah istrinya terlihat orang lain sekalipun adik perempuannya sendiri.


"Kay. Hanya sebentar dan ingin bertanya sesuatu pada Abang."


"Okay."


Demi mempersingkat waktu Kahfi jangan mendebat Kayla atas bisa jadi waktunya semakin terbuang sia-sia.


"Abang dan suamiku lembur sampai pukul berapa."


"Sekitar pukul sepuluh." Jawab Kahfi jujur.


"Lalu setelah itu kalian mampir atau makan di mana?"


"Kami tidak makan karna sudah makan malam setelah idya di kantor. Kami hanya mampir sebentar ke pom."


"Apa yang kalian makan di kantor?"


Hah. Lexi replek bersuara di balik selimutnya. Ia sudah ke gerahan sebenarnya bersembunyi di sanya.


"Nasi padang."


Fix ini mah Ghaza memang berbohong.


"Ada apa sebenarnya?" Kahfi semakin di buat bingung.


"Ada bercak merah di kerah dan pundak kemeja suamiku. Dan aku yakin Abang mengetahui dari wanita mana noda itu berasal."


Hah, mengapa tiba-tiba dari wanita?


"Wanita apa maksudmu?"


"Aku adikmu, jangan menutupi kejahatannya, atau kau juga memiliki scandal yang sama?" Kayla nyerocos tanpa filter. Membuat Lexi menjadi panas sendiri dan menysmbulkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa bener Mas Kahfi memiliki scandal di kantor." Lexi beraut berang, sepertinya gagal maning son misi malam ini.


"Haduh apaan sih?" Kahfi menggaruk kepalanya frustasi. Karna Kayla kesempatannya malam ini semakin sedikit untuk ninaboboin istri cantiknya.


"Jawab." Baik Kayla maupun Lexi kompak berbarengan mengatakan itu.


"Tidak. Tidak sama sekali kami para pria juga memiliki prinsip. Kami tidak melakukan hal yang menyimpang apa lagi harus menggadaikan jona nyaman kami." tutur Kahfi.


"Sebenarnya. Kepala Ghaza terkena lemparan batu orang tawuran waktu kami selesai makan siang, lukanya hanya sedikit tapi darah yang keluar cukup banyak. Meski Ghaza sudah di obati dan sudah berganti pakaian dua kali darahnya tetap merembes karna lukanya tidak di balut, karna khawatir kau bertanya macam-macam. Ghaza memintaku untuk tidak mengatakannya padamu takut kau malah kepikiran dan kembali over thingking. Ghaza hanya ingin kau tetap baik-baik saja dan bahagia menjalani harimu. Aku bahkan sudah menyuruhnya pulang tadi. Tapi katanya takut gak kebagian bonusan vesar dari Ayah, akhirnya ia ikut lembur bersamaku dan karyawan lainnya. Memang si Ghaza itu mata duitan." Kahfi malah tertawa.


"Kay mungkin bercak merah yang kau maksud adalah noda darah Ghaza."


"Tapi saat aku bertanya padanya, mengapa Bang Ghaza mengatakan jika itu noda saus tomat.?"


"Dan kau malah mengira itu noda lipstik?"


"Hu'um."


"Sederhananya Kay, Ghaza tak ingin kau mencemaskannya. Itu sebabnya ia memilih berbohong, tapi aku yakin dia tak berani menatap matamu saat berbohong."


"Kau benar Bang. Suamiku bahkan sangat gugup dan menunduk. Itu sebabnya aku kemari."


Lexi masih diam, hanya mendengar petbincangan antara adik ipar dan suaminya. Baik sekali pemikiran Ghaza, dia lebih memikirkan reaksi istrinya di banding keadaannya.


"Minta maaflah padanya, secara tak langsung kau sudah memfitnah suamimu."


"Astaghfirullah. Bang, aku malah mengomeli dan mengancamnya barusan." Kayla setengah berlari, menyambar dua ponsel wsayang ia geletakan di atas ranjangnya.


Sepanjang perjalanan pulang. Kayla terus merutuki ke salahannya, "Duh Ya, berdosa banget aku!" Kayla langsung membuka pintu.


Di sana searah Kayla memandang di sebuah sopa ruang tamu, terdapat tubuh jangkung Ghaza yan tidur dengan tengkurap. Sepertinya Ghaza memang tengah menunggunya dan tertidur karna kelelahan.


"Maaf." Kayla berbisik.


Kayla menelisik rambut hitam suaminya. Ia menyingkap perlahan rambut itu. Dan membuat Ghaza terbangun karna usapan istrinya. Tapi Ghaza masih memilih diam membiarkan istrinya berlaku apapun padanya.


Sebuah luka memanjang mungkin lukanya sekitar satu centi saja, Kayla teringat saat mengatakan ia akan menghukum Ghaza.


Dan Ghaza mengeluh sakit padanya, yang justru malah Kayla menyangka jika Ghaza berbohong.


"Maaf." kata itu kembali di ucapkan tepat di telinga Ghaza, membuat Ghaza tersenyum diantara matanya yang terpejam. Senyumannya sangat tipis, setipis helaian rambut, sehingga Kayla tak menyadarinya.


Kayla mengecup lama kening Ghaza dengan sangat hangat.


"Bahkan aku mengatakan akan menghukummu." sebulir air mata lolos di mata Kayla.

__ADS_1


"Jika kau sudah tau kebenarannya. Lalu siapa yang pantas di hukum?"


__ADS_2