
"Berlian pulanglah aku akan menjaga Ibu." Ghaza menyuruh berlian pulang tanpa basa basi terserah jika Berlian tersinggung yang jelas ia tak ingin Kayla marah jika menginap dn menjaga ibunya bersama Berlian.
"Tidak Mas aku akan menjaga Ibu." Berlian tetap memaksa.
"Ibu besok saja aku menginap ya aku akan membawa Kayla juga. Ibu tidak papa kan?" Ghaza berkata pelan pada ibunya.
"Ya Ghaza. Ibu tidak papa. Sampaikan pula salam ibu untuk ayah ibumu juga menantu ibu." Ayudia memaksa putranya untuk pulang.
.
"Abang kapan pulang?" Kayla habis nonton drakor di kamar Ibunya, wanita hamil itu memaksa Kimmy untuk menemaninya nonton drama kesukaannya, dan baru ke lamarnya saat jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Tadi selepas shalat isya, sayang." Ghaza menutup kitab kecil yang tengah ia baca.
"Kenapa Abang tak menginap?"
"Abang dulit tidur jika tidak memeluk istri Abang yang seksih ini. Jadi dari pada Abang terjaga sepanjang malam Abang memutuskan untuk pulang saja." Ghaza tidak bohong sepenuhnya, ia jujur tentang akan kata sulit tidur karna tak memeluk tubuh istrinya.
"Ih. Abang gombal mulu." Kayla tersenyum malu-malu meong dengan kedua pipinya yang di hiasi rona kemerahan. "Karna Kay senang malam ini Kay kasih jatah lebih deh dari sekedar peluk."
Ghaza yang mendengar kalimat istrinya langsung bersemangat, ini yang ia harapkan sedari tadi jika mood Kay sedang baik ia akan mendapat jatah dua kali lipat, senangnya hidup Ghaza malam ini.
.
"Agus, Bang Sami mau menitipkan putrinya di sini untuk belajar agama. Apa boleh?" panggilan Agus adalah bentuk kecintaan Kimmy pada Ridwan iya tak ingin mengganti panggilan itu, lagi pula Ridwan juga menyukainya.
"Tentu saja boleh, jangankan keponakan kita, orang lain saja boleh sayang untuk mempelajari agama Allah." Ridwan mengecupi tangan istrinya yang selalu terlihat cantik di matanya.
"Tapi keponakan kita seorang non muslim. Lexi namanya, dia mengikuti kepercayaan ibunya. Dan sebagai seorang Ayah Bang Sami menginginkan putrinya menjadi seorang muslimah." papar Kimmy jujur.
__ADS_1
"Ya, semoga saja Allah memberi hidayah untuk keponakan kita."
"Aamiin."
"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Ridwan.
"Belum. Tapi Bang Sami sudah mengirimkan beberapa foto padaku, dia sangat cantik. Usianya sama dengan Kayla." ujar Kimmy.
"Kapan Bang Sami akan mengantarkan Lexi kemari?"
"Besok pagi."
"Sayang. Besokkan kita harus menjemput si kembar ke bandara, merekakan akan tiba besok pagi setelah menempuh pendidikannya. Kau pasti lupa." ujar Ridwan merenggut.
"Agus kau dan Ghaza saja yang menjemput si kembar. Aku dan Kayla akan di rumah, kasian jika Kay di tinggal sendiri aku khawatir padanya." Kimmy khawatir terjadi sesuatu pada putri dan calon cucunya jika di biarkan sendirian.
"Baiklah."
.
Kahfa dan kahfi tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat tampan latar pendidikannya juga bagus, meski kembar keduanya memiliki wajah yang berbeda meskipun sama sama tampan.
Saling mengucapkan salam serta saling menyapa kabar baik Ghaza maupun si kembar terlihat akrab.
Keempatnya berbincang sedikit sebelum memasuki mobil.
Ayah Ridwan, Kahfa, Kahfi dan Ghaza kini duduk di satu mobil yang sama dengan Ghaza yang menjadi dupirnya.
"Ghaza mulai sekarang kau harus memanggil kami dengan sebutan Abang, meskipun umur kami lebih darimu beberapa bulan. Kau tetap adik ipar kami." Kahfa menertawakan Ghaza yang mendelikan matanya.
__ADS_1
"Aku ga kebayang gimana pecicilannya Kayla saat bersamamu." Kahfi yang kini menertawakan Ghaza.
"Aku sumpahin kau mendapat jodoh yang lebil menjengkelkan dari Kay." Ghaza menimpali ucapan kakak iparnya.
"Aamiin." Kahfa mengamini.
"Astaghfirullah. Ghaza, Kahfa jangan seperti itu, ucapan adalah doa. Tidak baik berkata seperti itu." Ridwan menengahi perdebatan anak dan menantunya.
.
"Dad, aku tak ingin tinggal di sini bersama tante. Dad aku akan kuliah dengan baik, aku tak akan keluar malam atau balapan lagi. Tapi tolong jangan buang aku disini." Lexi menangis meraung-raung saat Sami hendak meninggalkan putrinya. Lexi menjadi tontonan para santri yang berlalu lalang. Rambut bergelombangnya ikut berantakan karna tangisan dan gelengan kepalanya yang brutal, bahkan kerudung pasminanya hanya tersampir di lehernya.
"Hwaaa ... Dad ku mohon. Aku akan jadi anak baik janji ga nakal-nakal lagi Dad ku mohon jangan tinggalin Lexi." Tangis Lexi sangat kencang layaknya memakai toa mesjid.
Lexi tidak memperdulikan saat ada mobil lain yang berhenti di dekatnya.
"Lexi ..." Ridwan turun dari mobil dan mengambil Lexi yang menangis memegang kaki Daddynya.
"Om, Ridwan. Bujuk Daddyku agar jangan membuangku di sini." Lexi memandang Omnya. Meskipun ia tidak mengenal Ridwan tapi beberapa kali Daddynya memperlihatkan potret om dan tantenya.
Ghaza sudah masuk untuk menemui istrinya ia sudah rindu pada istri tunggalnya itu. Menggelikan baru beberapa jam pergi sudah kembali rindu.
Kahfa dan Kahfi ikut turun mememuk bergantian ibunya juga Om Sami.
Saat itu Lexi memincingkan mata menatap kedua sepupunya.
"Wah di tempat suci ini ada dua pria tampan." seketika Lexi menghentikan tangisnya mengusap air mata dan air hidungnya menggunakan lengan bajunya.
"Om siapa mereka berdua?" tanya Lexi dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Mereka putra kembar Om. Sepupumu." ujar Ridwan."
"Ommo. Sepupuku? OMG bibit Om Ridwan memang unggul." pekik Lexi.