Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Wasiat


__ADS_3

"Aku ingin menemanimu." Secepat Kilat Lexi meraih gelas di atas nakas, dan menumpahkan airnya kemudian Lexi menggenggam gelas itu, mengepyarkan gelas itu ke atas nakas sehingga tercipta pecahan yang runcing dan tajam di genggamannya. Lexi mengarahkan pecahan itu ke arah lehernya yang seketika ujungnya berhasil menyasat kulit luar Lexi dan mengucurkan darah segar di sana.


"Lexi ..." teriak semua orang bersamaan.


Kahfa secepat cahaya menangkap dan menahan pergerakan tangan Lexi, Kahfa juga mengunci pergerakan iparnya itu.


"Sadar Lexi!"


"Kau pikir Kahfi senang melihatmu seperti ini. Kahfi akan sangat terluka saat kau bertindak seperti ini. Dia menyayangimu dan bayi kalian jika kau seperti ini, sama saja kau ingin membunuh bayimu juga." Tegh, Lexi melupakan keberadaan bari dalam rahimnya. Hampir saja ia juga membunuh bayinya sendiri.


"Tenanglah Lexi, lakukan tugas terakhirmu sebagai seorang istri. Mandikan dan urus Kahfi, jangan malah bertingkah seperti ini. Kau mencintainya kan? Buktikan Lexi, dan berhentilah menentang takdir sungguh tindakanmu tak akan mempengaruhi takdir Allah. Mungkin saat ini Allah tengah menertawakan kekonyolanmu."


"Songong sekali Tuhanku itu, aku tengah terluka tapi kata Kahfa menertawakanku." Pekik Lexi dalam hati.


Darah yang keluar dari leher Lexi membasahi kemeja putih yang Kahfa kenakan.


"Aku ingin menemani suamiku."


"Suami dan orang tuaku sangat egois mereka kompak meninggalkan aku."


"Terserah kau mau melakukan apapun, tapi lahirkan dulu keponakanku. Jangan lupakan kemarin Kahfi menitipkan kalian padaku." Kahfa mengambil alih gelas kaca di genggaman Lexi.


Ridwan dengan sigap memanggil dokter untuk mengobati luka menantunya.


Kahfa mulai melepaskan Lexi dari kuncian tubuhnya.


Seorang dokter mengobati luka Lexi, untung saja luka itu tidak terlalu dalam sehingga tidak memerlukan jahitan.


"Kahfiku." Lexi mengusap pelan wajah Kahfi yang terasa dingin.


"Kau bahkan belum melihat anak kita." Lexi kembali menangis dan memeluk suaminya.


Di tinggalkan kedua orang tua, saja terasa sangat menyakitkan di tambah saat ini ia harus kembali kehilangan, suaminya juga pergi untuk selamanya. Ini tidak mudah sungguh ini sangat sulit, hamil tanpa seorang suami siapa yang pernah bermimpi semengerikan ini?


Lexi terus berharap ini hanya mimpi buruk untuknya. Lexi terus menggigit bibirnya berulang kali ingin ini semua hanya mimpi. Lexi bahkan tidak merasa sakit saat lehernya terluka.

__ADS_1


Kayla terkesiap saat melihat Lexi yang menangis dengan darah yang mengucur di antara mulut iparnya.


"Lexi berhenti menyakiti dirimu sendiri. Ku mohon, jangan seperti ini. Tuhan hanya tengah menyeleksi dirimu untuk menjadi hambanya." Kayla memeluk iparnya. Ia turut merasa kehilangan sama seperti Lexi, meski Kayla tau mungkin lukanya tidak seberapa jika di bandingkan dengan Lexi.


"Tidak Kayla. Aku tidak papa." Lexi menatap wajah tenang suaminya.


Ridwan mengurus kepulangan putranya kerumah duka.


Berbeda dari sebelumnya Lexi terlihat lebih tenang. Lexi juga turut memandikan Kahfi. Dan menciumnya keningnya. "Sampai kapanpun kau akan memiliki tempat di hatiku. Pergilah dengan tenang. Aku berjanji akan merawat dan membesarkan anak kita. Tolong katakan pada Tuhanku aku mohon maaf karna meragukan takdirnya. Kali ini aku akan menerima apapun." Sekali lagi Lexi mencium kening suaminya sebelum di kapani.


Kahfi di kebumikan tepat di dekat makam orang tua Lexi juga kakek dan neneknya. Ya di pemakaman keluarga Omar, di sana juga terdapat makam leluhur mereka.


Lexi tidak pingsan atau apapun. Lexi tidak juga terus menangis. Seluruh pondok berduka hari ini hingga malam tahlilan Lexi masih diam.


"Bu aku belum makan." Adu Lexi pada Kimmy.


"Meski aku tak lapar, aku juga harus makankan, aku sudah berjanji pada Kahfi untuk menjaga dan membesarkan bayi kami. tolong bantu aku luruskan aku di saat aku berbelok dan tegur aku juga saat aku salah. Aku tak memiliki siapapun lagi selain ibu dan Ayah." Lexi memeluk erat tubuh mertuanya.


"Pasti Nak, pasti kau putri bagiku. Kau putriku." Kimmy memeluk erat Lexi yang menangis di pelukannya.


"Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan jika aku merindukan Kahfiku Bu, bahkan aku belum menyelesaikan surat hapalanku Kahfiku sudah pergi. Apa Kahfiku bosan terhadapku karna aku terlalu bodoh Bu?"


"Entahlah Bu, setelah ini aku meragukan Tuhan."


"Bu bagai mana jika aku gagal menjadi ibu yang baik untuk anakku.?"


"Tidak, kau wanita kuat kau pasti bisa membesarkan dan mendidik cucu ibu." Kimmy mengusap perut menantunya.


"Mari makan setelah itu beristirahatlah." Kimmy mengajak Lexi untuk makan.


Ridwan masih belum menyerah ia ingin menguak siapa dalang di balik ini semua. Yang paling membuatnya semakin ingin menguak kebenarannya adalah saat pelayan restoran yang di amankan polisi mati bunuh diri dengan cara menggigit lidahnya sendiri saat tengah di mintai keterangan oleh polisi.


Ridwan bukan pendendam, tapi kali ini ia tidak memaafkan siapapun yang terlibat dalam hal ini yang mana telah menghilangkan nyawa putranya juga kedua iparnya.


"Sabar sebentar Lexi, Ayah akan menemukan orangnya dan akan memastikan ke adilan untukmu." Lirih Ridwan.

__ADS_1


Kahfa yang mendengar lirihan Ayahnya mendekat.


"Apa ini ada kaitannya dengan Zahra dan dokter Ferdy Ayah?"


"Sepertinya tidak Nak, Ayah sudah menyelidikinya dan sejauh ini mereka tidak terlibat, di balik takdir ini ada orang lain yang tidak menyukai keluarga kita, atau keluarga Om Sami. Entahlah ayah tidak tau. Tapi terakhir Om Sami terlibat msalah dengan mertuanya di karnakan istri dan putri Om Sami menjadi mu'alaf."


.


Tengah malam Kahfa melewati kamar almarhum adiknya, tanpa berniat mengintip atau apapun, hati Kahfa terasa tercabik saat melihat dan mendengar setiap keluh kesah watita itu. Lexi benar-benar seperti seorang anak kecil yang tersesat dan kehilangan arah.


"Baru sehari kau meninggalkanku. Aku tersesat di sini. Semua tempat untukku pulang sudah tiada, kau dan orang tuaku kompak meninggalkan aku. Lantas untuk apa tetap tinggal di sini? Aku akan pulang ke rumah kakek nenekku. Di sana aku akan menyembuhkan diri juga menjaga anak kita." Lexi terisak memeluk baju Kahfi yang kini basahi airmata.


"Sebelumnya, Kau adalah peta untukku menuju Tuhan. Tapi setelah kau pergi aku tak memiliki tujuan lagi. Kau selalu mengatakan agar aku hidup dengan bahagia, lantas mengapa kau tega membawa semua kebahagiaanku pergi." ini sudah malam tapi Lexi tak kunjung memejamkan matanya.


"Kau terlalu banyak mengingkari janjimu. Kita belum mengunjungi rumah dengan air terjun di depannya, kau bahkan tak pamit padaku."


"Kau dan segala kenangan kita akan hidup di hatiku. Terimakasih."


Kahfa berlalu dari sana, meski Kahfa menaruh perasaan pada Lexi. Tapi demi Tuhan, tidak sekalipun Kahfa berpikir ini akan terjadi. Kahfa lebih bahagia menyaksikan Kahfi dan Lexi bahagia. Sedangkan sekarang Kahfa merasa separuh nyawanya turut hilang dengan kepergian Kahfi, hampir 28 tahun mereka bersama baru kali ini Kahfi membuatnya kecewa. Bahkan ia mengingat kemarin Kahfi menitipkan Lexi padanya, tak pernah terpikirkan dan tak pernah terbayangkan jika adiknya pergi secepat itu.


.


Sejak kejadian Kahfa menampar Lexi, wanita itu kerap kali menghindar jika berpapasan dengannya. Tidak sekalipun Lexi terlibat pembicaraan dengan Kahfa.


Meski Kahfa sudah meminta maaf tapi tak membuat Lexi kembali bersikap biasa. Lexi lebih sering menyibukan diri dengan menutup dirinya juga membatasi diri dengan sekitar.


Apa yang di katakannya di rumah sakit tak ia lakukan. Lexi tetap menjalankan kewajiban seorang muslim meskipun ia sudah di kecewakan beberapa kali oleh Tuhannya.


Pagi harinya Lexi membicarakan niatnya jika ia ingin membuka lembaran baru setelah empat puluh hari Kahfi tiada. Ia sudah sedikit bisa berdamai dengan keadaan. Meskipun ia tengah merangkak melewati hari demi hari tanpa orangtua dan suaminya.


Kimmy sudah menangis bahkan berlutut di hadapan Lexi. Susah payah ia mencoba menyembuhkan diri karna putranya telah tiada, apa harus ia kehilangan Lexi dan calon cucunya pula.


"Lexi ibu mohon. Kasihani Ibu dan ayah, kamu sudah kehilangan putra kami dan kami tak ingin kehilangan putri dan cucu kami lagi. Tetaplah tinggal di sini."


"Bu jika aku terus di sini bagai mana aku bisa menyembuhkan diriku sendiri, aku masih terbayang wajah Mas Kahfi. Aku kerap kali bermimpi di datangi olehnya, dia selalu menyuruhku bahagia dan melangkah kedepan. Di mimpi itu dia marah saat aku menatap wajahnya penuh kerinduan. Dia meminta untuk aku tidak selalu mengingatnya, padal itu mustahil ku lakukan Bu." Lexi kembali tercabik rasanya baru kemarin ia Kahfi meninggalkannya.

__ADS_1


Lexi sesekali mengusap perut buncitnya, yang menegang.


Kimmy ingin menyampaikan sesuatu tapi takut malah membebani pikiran Lexi tentang ini. Kahfi sebenarnya sempat sadar saat Ghaza dan Kayla menungguinya di rumah sakit waktu itu. Kahfi bahkan meminta Ghaza untuk merekam dan mengabadikan wasiatnya. Ya nampaknya Kahfi benar-benar mengkhawatirkan Lexi setelah kepergiannya.


__ADS_2