
Kayla menatap Lexi yang tengah menjemur bayi nya di bawah mata hari pagi.
Sesekali Kayla tersenyum bahagia melihat Kakak iparnya kembali menyunggingkan senyumnya lagi di wajah cantiknya. Tapi ada rasa sedikit iri yang merubun di hati Kayla, sebenarnya bukan iri hanya saja sebuah rasa yang mengganjal karna Lexi begitu mudah mendapatkan seoranh bayi, sedangkan dirinya sudah berobat dan menjalini beberapa program untuk kehamilan, namun hingga kini belum ada kabar baik yang menyapa Kayla. Ia tersenyum miris ada luka di antara kedua sudut bibirnya yang ia tarik.
"Kay kau sedang apa Hem?" Ghaza memeluk tubuh Kayla dari belakan, menyampirkan rahang tegasnya di pundak sang istri.
"Aku iri denga Lexi Bang, dia memiliki bayi dengan begitu mudah sedangkan Kay!" Kayla merasa tenggokannya tercekik ia tersenyum getir di antara keinginannya untuk memiliki Bayi.
Ghaza menghembuskan nafas kasar kemudian ia membalik tubuh istrinya sehingga menghadap ke arahnya.
"Kay, jangan pernah iri terhadap nasib dan rejeki orang lain, bisa jadi Allah memberikan nasib baik pada seseorang adalah bentuk dan cara Allah memberikan penghiburan kepada orang itu. Kita tidak pernah tau berapa banyak kebahagian yang Allah ambil dari seseorang dan menggantinya dengan hal lain. Contohnya Lexi, kau lihatkan berapa banyak luka dan air mata yang di dapatnya. Allah kini sedang menyembuhkan lukanya dengan mengirimkan Zayn sebagai obat dari pesakitan yang Lexi derita selama ini. Jangan merasa iri lagi ya."
Ghaza memeluk istrinya dengan lembut.
"Bang, aku heran dengan Lexi nengapa tak ingin menikah dengan Bang Kahfa, padahal dari fisik dan karier Bang Kahfa cukup memadai." Lexi mengurai pelukan dan mendongak untuk menatap wajah tampan suaminya.
"Kahfa kurang hangat Kay!"
"Ya Abang memang sekaku itu."
Sial setelah Kahfi tiada, banyak lamaran yang mampir pada diri Kahfa. Padahal selama ini Kahfa kesulitan saat mencari calon istri untuk tujuan melenyapkan atau setidaknya menyamarkan perasaan haramnya.
Lexi ingin pindah dari rumah itu, ia hanya tak ingin terjadi fitnah karna serumah bukan dengan mahramnya, semakin lama Lexi menuntut ilmu di pondok itu semakin ia mengerti caranya beradab. Dan sepertinya pasti Ayah Ridwan dan Ibu Kimmy akan mengijinkan keinginannya kali ini karna ia memiliki alasan yang kuat dan masuk akal.
Ada santri baru juga di sana namanya Greendia, gadis cantik jelita yang memiliki sedikit kemiripan dengan Lexi, Lexi bahkan bertanya-tanya sepertinya ia pernah di kenalkan dengan gadis itu oleh ayahnya. Samar-samar Lexi mengingat jika Greendia memang pernah di perkenalkan oleh Sami Daddynya. Dan matanya membola kala mengingat Daddynya mengenalkan Greendia sebagai adiknya. Adik dari mana? Padahal Lexi tak memiliki adik maupun kakak. Selain dari Daddy Sami Lexi juga tidak memiliki sepupu. Karna Mommynya adalah anak tunggal.
Jika Lexi ingin tau jawabannya ia harus bertanya pada Daddynya tapi Daddynya kini telah tiada lantas pada siapa Lexi harus bertanya?
"Kakak." Panggil Green tepat di hadapan Lexi.
"Ya ada apa?"
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya, kedua orangtua serta suami Kak Lexi." ucap Green pelan. Green tersenyum tulus, tangannya terulur hendak menyentuh baby Zayn.
Lexi mundur satu langkah. Bukan karna tindakan Greendia yang hendak menyentuh bayinya, ia hanya terkejut saja bagaimana Green mengetahui hal itu. Sedangkan Green baru beberapa minggu di pondok pesantren itu jarak kepergian orang-orang tercinta Lexi dengan ke hadiran Green lumayan jauh, lalu bagaimana gadis itu mengetahui semua ini.
"A-aku hanya mengetahui dari santri wati di sini Kak." Green menyadari kebingungan orang yang di panggil kakak olehnya.
"Oh." Tapi Lexi tak bisa percaya begitu saja akan hal ini, hati dan batinnya tetap menyangkal untuk mempercayai gadis remaja itu.
__ADS_1
"Kakak, bagaimana menurutmu kepribadian Gus Kahfa?" terdengar nada memuja di antara suara Greendia. Greendia seorang gadis ceria dan gampang akrab dengan orang baru, sehingga tak sulit baginya untuk berbaur dengan lingkungan yang baru.
"Dia pria yang baik." ujar Lexi datar, Lexi merasa tak nyaman saat Greendia mendesaknya untuk memberikan nomor ponsel Kahfa. Bukan ia pelit hanya saja Kahfa pasti akan marah jika ia memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang.
"Ayo lah kak, anggap saja sedekah." ujar Greendia.
Tapi jika di pikir-pikir ada baiknya juga jika ia bisa mendekatkan Kahfa dan Green, semoga saja mereka berjodoh dan Lexi berharap semoga ibu Kimmy tidak lagi mendesaknya untuk menikah dengan Kahfa.
Akhirnya Lexi memberikan nomor ponsel abang sepupunya. Dengan syarat jangan mengatakan itu darinya, dan Green mengangguk setuju.
"Lexi ..." Ibu Kimmy memanggil Lexi dari ambang pintu.
"Iya Bu,,"
"Jangan terlalu lama menjemur Zayn, mari mandikan Zayn sekarang."
"Baik Bu."
Lexipun berlalu memasuki rumah setelah sebelumnya pamit pada Green.
"Maaf Kak." Green bergunam saat Lexi pergi membawa bayinya.
.
"Aku-"
"Jangan menyangkal selain keluarga dan para staf di pondok ini tidak memiliki nomor ponsel pribadiku, hanya kau yang berkemungkinan besar memberikannya pada Green."
"Dia meminta."
Lexi masih tak acuh, melanjutkan kegiatannya memotong buah.
"Harusnya kau tak memberikannya. Aku tak nyaman dia terus menghubungiku. Kau tau aku tak terlalu senang berbasa basi." Kahfa mengambil beberapa potong buah di piring sepupunya, dan memasukannya dalam mulutnya hingga pipinya menggembung.
"Jangan mencuri milikku." Lexi memindahkan piringnya.
"Dasar pelit."
"Ck, aku bukan pelit. Aku hanya tak ingin kau berdosa karna mencuri buahku."
__ADS_1
Lexi melenggang meninggalkan kakak iparnya.
.
Akhirnya Lexi benar-benar akan pindah besok ke rumah kecil atau lebih tepatnya sebuah mes bekas seorang ustadz yang mengajar di pondok pesantren itu. Di samping Lexi menghindari fitnah, Lexi juga ingin sedikit menjaga jarak dengan Kahfa.
Lexi meminta pindah di tempat lain tapi Ridwan tidak mengijinkannya. Ia ingin terus mengawasi Lexi dan Zayn. Ridwan tak ingin lalai lagi, bukan hal mustahil jika orang itu akan melukai menantu dan cucunya., sekarang Ridwan makin yakin jika tragedi yang merenggut nyawa Kahfi berkaitan dengan Sami dan Lexi.
Leci masih sering berharap sosok Kahfi dapat menemani hari-harinya seperti dulu.
"Mas aku selalu merindukanmu. Kapan kau akan berbaik hati, melepaskan hatiku. Meski kau tak lagi di sini. Aku tetap mencintaimu." lirih Lexi.
Semoga dengan ini Ia bisa melupakan Kahfi.
Lexi menatap dan meneliti kamar yang ia tempati tanpa Kahfi selama enam bulan. Lexi kembali menangis dalam diamnya. Bayang-bayang Kahfi sama sekali tidak terpecah, sikaf lembut dan perhatiaannya masih terasa di tubuhnya. Tentang bagai mana Kahfi meratukan dirinya membuat ia ingin mengulang waktu. Meski Lexi kerap kali mengucapkan banyak cinta untuk Kahfi tetap saja Leci ingin mengatakan cinta sangat banyak kepada almarhum Kahfi.
Lexi menatap bayinya yang terlelap, Zayn benar-benar fotochopy Kahfi. Mulai dari bentuk wajah, mata, halis dan hidungnya juga menyerupai Kahfi. Hanya warna kulit dan warna bola mata yang mirip Lexi.
Ibu Kimmy dan Ayah Ridwanmu juga mengakui jika Zayn benar-benar Kahfi selagi kecil.
"Terimakasih sudah menjadi bagian terindah di hidupku, meski dengan waktu singkat aku sangat bahagia telah di cintai dengan istimewa olehmu Mas. Aku mencintaimu." Lexi mendekap pigura berwajahkan Kahfi di sana.
Saat makan malam,
"Sayang kau dari mana saja?"
"Tidur Bu."
"Tidur saja kerjaanmu. Apa tak ada hal lain yang lebih memanfaat yang bisa kau lakukan?" Kahfa berujar, dingin. Bukan karna Kahfa membenci melainkan Kahfa memang datarkan.
Maksudnya Kahfa berniat baik berkata demikian. Kahfa tau di saat sendiri Lexi selalu larut dengan kerinduannya terhadap Kahfi. Kahfa hanya tak ingin Lexi semakin tenggelam dalam kehilangan.
Tapi Lexi mengartikan lain. Sepertinya Kahfa memang menganggap dirinya memang benalu di rumah itu.
Lexi menatap Kahfa sejenak.
"Tak ada yang lebih menyenangkan setelah kepergian Mas Kahfi. Karna untuk kembali memilikinya lagi aku perlu tidur, karna hanya dalam mimpi ia akan hadir menjadi priaku." Lexi menunduk sebulir air mata tak dapat ia cegah.
Ridwan dan Kimmy kompak menatap Kahfa dengan tatapan tajam. Kahfa sendiri tidak terpengaruh, ia benci saat Lexi terlihat lemah seperi ini.
__ADS_1
"Berhenti menghayal Lexi! Lanjutkan hidupmu jangan memimpikan hal-hal mustahil." Kahfa pergi meninggalkan meja makan meskipun makannya belum selesai.