
Meski sibuk Kahfa masih sempat mengajar di pondok pesantren, ia mengamalkan ilmu yang dia miliki pada santi dan santri wati.
Pagi hari sepulang Kahfa mengajar di kelasnya Lexi berusaha menyambut kedatangan Kahfa.
"Bang Lexi tidak tau apa yang biasa Abang minum di pagi hari. Tapi Kahfi lebih menyukai teh rempah, jadi aku membuatkan minuman yang sama." Lexi meletakan secangkir teh di hadapan Kahfa.
Sebenarnya Kahfa bisa meminum apapun di pagi hari, tapi karna ada nama Kahfi di dalamnya mendadak moodnya terasa buruk. Bahkan Kahfa marah saat hidupnya di bayang-bayangi Kahfi. Padahal sedari awal Kahfa sudah sudah menduga hal ini akan terjadi tapi tetap saja egonya sebagai seorang pria kerap kali muncul. Ia tak bisa di samakan dengan pria lain termasuk adiknya sendiri.
Kahfa menatap tajam wajah Lexi. "Belajar untuk menuruti keinginanku dan jangan menyamakan seleraku dengan Kahfi. Aku lebih menyukai kopi dan ingat itu!" Kahfa berlalu tanpa sedikitpun menyentuh minuman miliknya. Ia juga menggeser kasar kursi miliknya dengan sangat kasar. Mereka memang tidak cocok.
"Sebenarnya jika kau berniat melayaniku. Kau bisa bertanya pada ibuku Lexi. Kau memang sengajakan melakukan itu agar aku marah dan merusak moodku pagi ini." Kahfa berujar sinis.
Lexi tak memiliki maksud seperti itu tapi Kahfa menuduhnya.
Selera Kahfa dan Kahfi memang bertolak belakang hanya Lexi saja selera mereka yang sama.
Lexi mematung. Ia akan mengingat apa yang di katakan Kahfa padanya. Sungguh tak mudah untuk Lexi mengganti kebiasaannya.
Lexi membuatkan Kahfa kopi hitam dengan sedikit gula, sesuai selera Kahfa. Tapi sepertinya Lexi salah resep buktinya Kahfa tak meminum kopinya. Terserah saja lah Lexi malas kembali berdebat.
Sebenarnya yang Kahfa inginkan hanya satu jangan ada nama Kahfi yang membayangi hari-hari mereka. Tapi Lexi selalu melibatkan nama itu.
Kahfa menimang Zayn, sebelum berangkat bekerja. Entahlah Kahfa sangat menyayangi bayi itu. Ia ingin selalu melindunginya.
"Lexi. Uwa Risma akan menginap kerumah ini, dia kakak perempuannya Ayah, aku menyayanginya, dia ibu kedua untukku. Tolong kau jaga sikaf padanya ya?"
"Memangnya aku harus bersikaf bagaimana Bang?" Lexi merasa dirinya memang selalu salah berprilaku di hadapan Kahfa.
"Cukup dengan tidak mengungkit Kahfi di hadapan Uwa Risma." ucap Kahfa tegas, bukan tanpa alasan Kahfa berkata demikian Uwa Risma memang sangat menyayangi Kahfa dan adiknya, untuk dari itu Kahfa memperingati Lexi agar Uwa Risma tidak merasa sedih karna mengingat Kahfi.
"Ba-baik Bang." ucap Lexi pada akhirnya. Ia menunduk sedih. Matanya mulai berkaca-kaca menghilangkan Kahfi sangat mustahil Lexi lakukan.
.
Saat Uwa Risma benar-benar datang dan akan menginap di rumah mereka, Lexi hanya diam saja ia hanya berbicara jika ada yang bertanya padanya selain itu dia akan diam. Lexi tak ingin ia kelepasan membahas Kahfi dan Kahfa akan marah padanya.
__ADS_1
Mereka bercakap-cakap ringan di ruang keluarga, hanya Lexi yang merasa asing sendiri. Ia seakan orang baru yang benar-benar terdampar di sana. Kahfa pula membiarkan Lexi begitu saja, baginya jika Lexi tidak berada dalam situasi terancam Kahfa tak berkewajiban untuk melindunginya.
Akhirnya Lexi memilih undur diri, Lexi memilih pamit menuju ke kamar Kahfa dan berniat menidurkan putranya.
Setelah kepergian Lexi. Uwa Risma menyampaikan kegundahannya yang merasa Lexi tak menyukai keberadaannya. Memang ini pertama kali Uma Risma bertemu dengan Lexi tapi gadis itu terlihat murung dan menghindari wanita paruh baya itu. Membuat Risma berpikir jika Lexi tak menyukainya.
"Kahfa kau kan suaminya. Ajarkan istrimu bagaimana caranya bersikap pada orang yang lebih tua jangan selalu membuang muka saat di ajak bicara." Bisa di lihat Uwa Risma sangat tersinggung dengan perlakuan Lexi.
"Baik Wa."
"Kahfa." Lexi menggelengkan pelan kepalanya, Kimmy memberi tanda agar Kahfa tidak melakukan apapun. Kimmy sangat tau perangai Lexi seperti apa.
Kahfa yang sudah terlanjur di tegur Uwanya merasa ia memang harus mengingatkan Lexi. Dan mengingatkan Lexi dengan cara pelan tidak akan berhasil. Maka dari itu Kahfa harus mengambil tindakan.
Kahfa bergegas berlalu ke kamarnya, denhan menggenggamkan erat kedua tangannya.
Lexi terlihat tengah menidurkan Zayn di dalam box bayi, dengan penuh ke hati-hatian.
Kahfa yang siap marah untuk sejenak menurunkan amarahnya, ia tak ingin membangunkan Zayn yang ia tau pasti Lexi sangat susah payah menidurkannya.
Hampir setengah jam Kahfa menunggu.
Lexi masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Apa maksudmu dengan bertindak tidak sopan kepada Uwaku?" Kahfa berkacak pinggang dan berujar tegas. Tapi Lexi sedikitpun tak gentar ia merasa jika dirinya tidak bersalah sehingga ia lebih memilih untuk menyimak terlebih dulu.
"Bagian mana yang menurutmu aku bertindak tidak sopan? Apa aku memakinya atau berkata kasar padanya?" tantang Lexi tak secuilpun Lexi merasa takut.
"Kau membuang muka dan menunduk saat berbicara dengannya kau juga tidak bertingkah ramah, pada Uwaku seakan kau membenci Uwaku." Nada suara Kahfi semakin naik dan memekan telinga tapi Lexi masih tetap berusaha santai selagi dirinya bisa.
"Bukannya kau yang memintaku untuk tidak membahas Kahfi. Sebisaku aku menghindari untuk tidak bisa berbicara dengan Uwamu, lalu itu salahku jika Uwamu tak menyukaiku."
"Ya Lexi ini salahmu!!! Salahmu karna masih terbelenggu dengan Kahfii!"
"Jangan membentakku Kahfa ..." Lexi balik membentak Kahfa bahkan mengacungkan telunjuknya di hadapan wajah Kahfa.
__ADS_1
"Sekalipun kau adalah suamiku sekarang, kau tak memiliki hak untuk mengatur hidupku!Satu-satunya yang berhak mengaturku adalah diriku sendiri. Ingat itu!" Lexi menatap nyalang wajah Kahfa, dengan tatapan mengerikan juga penuh peringatan.
"Aku tidak pernah memaksamu untuk menerimaku dengan diriku yang seperti ini. Jika kau keberatan dengan diriku yang seperti ini kau boleh menalakku sekarang juga. Jika kau menganggap aku akan tunduk dengan bentakan yang kau lobtarkan kau salah besar Kahfa. Aku adalah diriku sendiri. Sikafmu yang seperti itu tak akan merubahku." Lexi tak berniat mendengarkan apapun lagi dari mulut Kahfa ia bergegas keluar dengan membanting pintu di ruang kerja Kahfa. Sampai dinding di antaranya bergetar saking kencangnya bantingan itu.
Seiring kakinya melangkah air matanya meluruh tanpa permisi. Baru beberapa hari saja Kahfa sudah berani membentaknya. Bagai mana mungkin ia tidak akan membandingkan sedangkan Kahfa bersikaf kasar padanya.
Sudah ku katakan hanya masalalu yang menjadi pemenangnya.
Kahfa mematung di tempatnya. Sesaat kemudian Kahfa menjambak rambutnya sendiri. Ia memaki dirinya sendiri yang kehilangan kontrolnya di hadapan Lexi. Harusnya ia paham bagai mana kepribadian Lexi yang keras kepala.
Lexi hanya luluh dengan Kahfi yang memperlalukannya dengan lembut. Lexi bukanlah wanita yang penurut. Wanita itu kerap kali memberontak.
Lexi langsung menghampiri putranya dengan berderai air mata.
"Semua yang di katakan Kahfa hanya kebohongan. Hanya Papamu yang bisa meberima Mama dengan baik." Lexi meraih bayinya dalam gengdongannya, ia butuh menenangkan diri. Dan ini bukan tempat yang tepat, ia harus pergi sebelum perasaannya menjadi lebih buruk lagi.
Lexi berpapasan dengan Kahfa. Meski Kahfa memanggilnya berulang kali Lexi tak perduli ia semakin mempercepat langkahnya.
Sekalipun Kahfa menodongkan senjata api ke arahnya. Sungguh tak akan membuat Lexi kehilangan nyali.
Brakk
Lexi menutup pintu. Tepat sebelum Kahfa sampai ia segera menguncinya.
Kamar Kahfilah yang ia pilih untuk menenangkan diri.
Dor ... Dor ...
Kahfa mengedor pintu kamar Kahfi. Ia tak perduli lagi di sana terdapat keponakannya, ia ingin mendobrak pintu itu.
"Lexi buka pintunya!"
"Lexi!"
Lexi tak perduli sekalipun Kahfa menghancurkan pintu ia akan tetap berada di sana, setidaknya sampai dirinya sedikit tenang.
__ADS_1