
"Kayla."
"Kayla."
Ghaza terus meracau menyebutkan nama istrinya tanpa henti.
Berlian semakin mendekat dan hendak menanggalkan pakaniannya sendiri.
"Kau masuk perangkapku Ghaza." Berlian tersenyum penuh kemenangan.
"Astaghfirullah."
"Ya Allah aku berlindung dari segala fitnah dunia, juga godaan syetan yang terkutuk." Lirih Ghaza sembari memejamkan matanya.
Bayangan Kayla meninggalkannya terlintas begitu saja mengembalikan kewarasnnya.
Ghaza membuka matanya dan mendorong Berlian di hadapannya hingga wanita itu terjungkal ke belakang mengenai gucci dan pecah berserakan.
Tunda sejenak tentang gucci itu.
Berlian marah. Diantara keremangan cahaya ia memasuki kamarnya dan membuka pintunya dengan lebar.
"Masuk ke kamarku jika kau tak ingin tersiksa.!" Berlian melirik kearah selatan bagian tubuh Ghaza.
"Ya Allah ku mohon biarkan aku pergi." Ghaza seperti sseorang kehilangan arah ia mencoba membuka pintu yang hasilnya akan sia-sia semua pintu terkunci.
"Aku membutuhkan istriku ya Allah." Ghaza memohon. Ia bahkan menangis tanpa daya. Hasratnya sudah tak sanggup ia bendung, berkali-kali Ghaza menyentuh miliknya di balik celananya sendiri yang sudah menggembung.
"Ibu."
Ghaza segera memasuki kamar ibunya, hanya kamar ibunya yang bisa ia buka. Tadinya Ghaza berniat ingin mandi air dingin di kamar mandi ibunya, tapi sekali lagi Allah memberinya jalan. Terdapat jendela kaca di kamar ibunya meski kaca itu permanen dan tak bisa di buka. Setidaknya kaca itu bisa di hancurkan.
Ghaza menyibak gorden kamar itu. Ia bisa langsung melihat mobilnya terparkir di sana.
Beberapa kali Ghaza mencoba menendang kaca bening di kamar itu tapi sepertinya kaca itu kuat dan tebal. Sedikit Ghaza melirik kearah ibunya yang tampak tenang ia tau ibunya tidur dengan obat sehingga tak terganggu dengan gaduh yang ada.
Ekor mata Ghaza menangkap kursi meja rias di kamar itu. Dengan langkah lebar Ghaza meraih dan dengan ancang-ancang yang tepat-
Prangg ...
Kaca itu hancur berkeping-keping. Berlian tidak mengetahui sama sekali kekacauan di kamar ibu sambungnya karna kamar Ayudia memang kedap suara.
Ibunya juga ia tinggalkan begitu saja.
Ghaza segera berlalu memasuki mobil miliknya, beruntung kuncinya sedari tadi ia kantongi.
__ADS_1
Di perjalanan Ghaza di buat gila. Ia membuka semua kancing kemejanya, membagi pokusnya menyetir yang di atas rata-rata. Dengan miliknya yang semakin berdenyut minta penuntasan.
sekitar pukul dua dini hari Kayla terbangun, ia mencari keberadaan suaminya yang tak ada di sampingnua lagi. Di bantal suaminya terdapat secarik kertas, yang mengatakan jika Ghaza pergi kerumah ibunya.
Kayla terbangun dan kemudian memasuki kamar mandi, terlebih dahulu Kayla mandi. Meski tidak melakukan hubungan dengan suaminya Kayla tetap mandi hanya saja ia tidak keramas. Kayla melaksanakan shalat malam dan berdo'a bermunajat. Kayla juga membuka lembaran demi lembaran suci dan membacanya dengan penuh penghayatan.
Brakk...
Ghaza membuka kamar dan membantingnya.
"Astaghfirullah Abang!"
Kayla semakin terkejut dengan penampilan Ghaza yang sangat berantakan, terlihat seperti orang mabuk, bahkan Ghaza berjalan menyerong.
"Apa yang terjadi?" Kayla menaruh kitab suci di tempatnya.
"Panas Kay!"
"Layani Abang Kay!"
Ghaza menangkap istrinya dan membawa istrinya ke atas peraduan.
"Maaf jika Abang menyakitimu."
Ghaza membenamkan ciuman dalam di bibir istrinya.
"Abang kenapa? Jangan buat Kay takut!" Kayla bergetar ketakutan, ia tak mengenali sentuhan suaminya yang tak terkendali juga kasar dan terburu-buru.
Ghaza bahkan mencabik-cabik pakaian Kayla.
"Abang sadar ini Kay, Bang!" Kayla memelas tapi membuat Ghaza melembut.
"Maaf Kay, Abang tak bisa ini terlalu menyiksa." tidak tau sebanyak apa dosis yang di berikan oleh Berlian tapi Ghaza merasa tubuhnya sangat panas.
Ghaza memasukan miliknya dengan kasar. Kayla mencoba menikmati permainan suaminya yang menghentak-hentaknya dengan kuat hingga ia terguncang.
Meski bercampur rasa sakit Kayla bisa merasakan sensasi berbeda dari kegiatan yang tengah mereka lakukan. Secara sadar Kayla melakukan perlayan terbaiknya. Dengan perlahan mulai menikmati.
"Ini benar Kaylaku kan?" Ghaza kembali memastikan.
"Jika bukan Abang mau apa?" Tak terduga Ghaza menghentikan kegiatannya ia hendak menarik miliknya dari dalam kehangatan istrinya.
"Ini aku Bang. Kaylamu, kau boleh mendatangiku dan menikmati aku."
"Aku tidak berhalusinasikan?"
__ADS_1
"Tidak aku memang Kaylamu." Meski tak mengerti dengan kalimat Ghaza Kayla tetap menanggapi ucapan suaminya.
"Jika kau bukan Kaylaku aku akan melenyapkan diriku sendiri setelah ini." Ghaza kembali mengguncang tubuh istrinya.
Kayla di buat terheran-heran di sela desah an nya, mengapa Ghaza seakan tak sadar malam ini.
Ghaza bahkan membalik dan membuat istrinya dalam posisi menu ngging dan mendanginya dari arah belakang, mengunci tangan istrinya juga dengan kepala Kay yang terbenam di atas ranjang. Membuat kayla berteriak tertahan antara sakit dan nikmat yang muncul secara bersamaan.
Kayla akui selama hampir setahun menikah malam ini adalah malam yang berbeda dan menggelora. Aneh memasuki pikiran Kayla, biasanya setelah dua kali pelepasan Ghaza akan mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu baru kembali memulai permainan. Setidaknya Ghaza membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk mengembalikan tenaganya. Tapi kali ini Ghaza menggaulinya tanpa henti. Juga semangat yang tak padam-padam.
Apa yang terjadi? Apa Ghaza meminum alkohol?
Tak tercium bau alkohol sama sekali.
Adzan subuh sudah berkumandang Ghaza masih bergerak. Memegang kendali permainan.
"Bang sadar, ini sudah subuh." lirih Kayla.
"Kita subuhan dulu. Jika abang masih ingin Abang boleh melanjutkannya nanti." ujar Kayla kembali. Bak menjadi tuli, seakan rungu Ghaza tak berpungsi ia tetap pada aktifitasnya.
Semakin lama Kayla tak kuat untuk membuka matanya sehingga ia tak mampu lagi untuk tetap menjaga kesadarannya. Kayla secaya perlanyan melemah dan tiidak sadarkan diri.
Ghaza baru menyudahi permainannya, sesaat menyadari tubuh Kayla lunglai di bawahnya, meski begitu Ghaza tetap memaksa menyampaikan puncaknya meski tubuh istrinya yang lemah.
Ghaza memasuki kamar mandi dan mensucikan diri. Setelah itu Ghaza shalat subuh meskipun sang fajar sudah menyingsing di peraduannya.
Ghaza memastikan jika wanita yang selesai ia campuri adalah istrinya sendiri.
Hatinya merasa tenang saat wanita yang masih terbaring itu adalah istrinya.
"Ya Allah, aku benar-benar kasar saat menyentuhmu!" begitu banyak jejak kepemilikan di tubuh Kayla dari betis, paha, juga bagian atas tubuh gadis itu di penuhi. Ghaza mengusap kedua lutut Kayla yang lecet. Tadi ia sangat bersemangat sehingga mengabaikan rintihan yang terdengar seksi di telinganya.
Pinggang Kayla juga terdapat memar, ia ingat saat mencengkram pinggang ramping itu dengan sangat kasar, demi menciptakan hentakan yang menghujam lebih dalam.
Ghaza mengecup sekilas bekas oprasi di perut istrinya. "Semoga aku tidak melukainya." Ghaza berharap tak melukai bekas luka itu.
"Maafkan Abang ya." Ghaza mengecup puncak kepala istrinya.
Banyak tissue yang bertebaran di sekitar ranjang. Ghaza tersenyum saat mengingat berapa banyak ia mencapai puncak. Ghaza memungut tissue-tissue bekas pakai itu dan memasukannya kedalam tempat sampah.
Ponsel Kayla berdering, nomor tidak di kenal melakukan panggilan Ghaza mengangkatnya.
Terdengar sapaan dari sebrang sana seorang perempuan dan Ghaza mengenali suara itu.
"Kayla bukan hanya kau yang bisa memiliki Ghaza. Akupun bisa. Semalam kami melakukan malam yang sangat indah di bawah keremangan malam." Wanita itu tertawa mengejek.
__ADS_1
Ghaza tersenyum lebar, tanpa suara.
"Darimana kau yakin itu aku? Aku bahkan menghabiskan malam yang indah dengan wanitaku."