
Beberapa menit sudah berlalu, namun Kahfa masih memaku di tempatnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Lexi menggeliat dalam tidurnya. Sampai baju tipis yang ia kenakan turut tersingkap sehingga turut memamerkan paa hanya yang putih mulus.
Glek ...
Kahfa dapat mendengar saliva yang ia telan sendiri. Kahfa juga tak mengerti sejak kapan dirinya se mesum ini.
Kahfa kembali mengecek pintu balcon memastikan pintu kaca itu masih bisa berpungsi. Tapi sepertinya esok Kahfa harus memperbaikikinya, atau meminta Ghaza untuk menghubungi kenalannya untuk memperbaiki pintu yang ia rusak menggunakan linggis.
Kahfa mengulum senyum kala dirinya menyadari apa yang ia lakukan adalah tindakan kriminal. Tapi Kahfa memiliki alasan untuk itu, tentu saja Kahfa tengah memilah kalimat yang pas sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Lexi nanti.
Kahfa hendak melucuti seluruh pakaian yang ia kenakan, namun ia mengurungkan niatnya sebelum membaca do'a terlebih dahulu. Kemudian turut naik keatas ranjang yang di pergunakan Lexi untuk berbaring.
Do'a yang seharusnya di bacakan bersama pasangan halal, lagi-lagi hanya Kahfa ucapkan sendiri. Apa Kahfa terlalu egois atau serakah? Sungguh Kahfa tak perduli! Ia hanya hendak mengambil haknya bukan hak milik orang lain.
Dengan perlahan Kahfa mendekat dan menatap penuh minat tubuh di bawahnya, sebentar kahfa mengalihkan tatapan pada jam dinding di kamar itu. Malam menunjukan pukul setengah sebelas malam.
Kahfa mulai membenamkan ciuman di bibir Lexi, "Maafkan aku! aku hannya mengambil hakku saja." Selanjutnya Kahfa mulai beraksi, jemari panjangnya mulai menjelajahi ke tenpat yang ia kehendaki.
Kahfa segera membuka habis pakaian ia dan istrinya.
Lexi mele-nguh beberapa kali mungkin perempuan satu anak itu kini tengah bermimpi, atau mungkin saja tanpa sadar Lexi mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yan Kahfa berikan.
Kahfa di buat semakin menegang kala lengu-han Lexi berubah menjadi des-sahan tertahan membuat gejolak di tubuh Kahfa semakin di bakar gair-ah.
"Apa yang kau lakukan?" Lexi memincingkan mata di antara temaramnya lampu kamar. Sedangkan Kahfa sendiri tengah berada di atas tubuh Lexi dengan mulut yang di penuhi kelembutan istrinya.
Kahfa menjauhkan mulutnya sebentar dan menyamakat tubuhnya sehingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
"Hehehe ... Aku akan mendatangimu kembali. Maaf jika mengganggu tidurmu." Kahfa melebarkan senyumannya sampai deretan gigi rapi nan putih itu dapat terlihat sepenuhnya.
__ADS_1
Terkejut, juga rasa tak percaya menggulung pikiran Lexi, bagaimana tidak Kahfa adalah seorang pria kaku dan dingin juga dengan mulut sepedas boncabe level empat belas.
"Dasar pencuri!" Hardik Lexi.
"Aku hanya ingin memakai milikku, lagi pula ini hakku." Kahfa malah membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya tanpa malu-malu.
Lexi baru menyadari jika tubuhnya sama polosnya dengan Kahfa.
"Mengambil sesuatu tanpa ijin itu perbuatan tercela."
"Aku hanya ingin mengambil hakku, lagi pula belum ku mulai." Kahfa masih bisa menyangkal dengan pongahnya.
"Beruntung kau bangun, jadi aku tak harus pelan-pelan."
"Jadi jika aku bangun kau bisa kasar begitu."
"bukan itu konsepnya."
Ini bahaya bisa-bisa Lexi menyerahkan diri dengan suka rela jika membiarkan Kahfa berbuat semaunya.
"Kau hanya melarangku untuk melewati pintu kamarkan? Aku kemari lewat pintu balcon. Sudahi ngambeknya, besok Green juga akan pindah."
Lexi melirik ke arah balcon sebentar.
"Terserah. Sekalipun kau mengajaknya tinggal kekamarmu."
Kahfa mengangkat wajahnya. "Astaghfirulloh,,, aku kemari untuk membuat adik Zayn bukan untuk berdebat denganmu." Kahfa kembali membenamkan wajahnya, juga mengigit leher wangi itu sesuka hatinya. Lexi bisa menjamin setelah ini tubuhnya pasti akan di hiasi ruam hasil karya suami brutalnya. Astaga apa Kahfa se brutal itu?
"Kahfa awas ih berat." Lexi mencoba menyingkirkan tubuh Kahfa, sebenarnya ia mulai terhanyut akan permainan yang di tawarkan pria halalnya namun ia madih menjung-jung tinggi rasa malunya. Lebih tepatnya Lexi gengsi untuk mengakui jika ia sudah terhanyut oleh pesona dan permainan suaminya.
"Orang aku ingin masa di suruh awas sih. Mana bisa seperti ini." Kahfa menbawa tangan Lexi untuk menyentuh bukti gairahnya yan menegang dan menjulang sedari tadi.
__ADS_1
"Kau merasakannya, dia sudah siap tempur jika pemiliknya mempersilahkan." bisik Kahfa parau.
"Lalu jika aku melarang dia akan patuh?"
"Tentu saja tidak."
"Sudah ku duga."
"Mari membaca do'a bersama!" ajak Kahfa.
"Tidak sopan! Kau ingin berdo'a dengan tubuh bu-gil begini?"
Kahfa terbangun dan mendudukan tubuh istrinya.
Ya Allah sepertinya mulut pedas Kahfa sudah berpindah terhadap istrinya.
Kahfa menarik selimut dan menutupi tubuh Lexi dari kepala hingga seluruh tubuhnya.
"Sebenarnya aku sudah berdoa tadi. Sekarang giliranmu membaca do'a. Ayo ucapkan!"
"Aku tidak mau."
"Dengan atau tanpa do'a sekalipun aku akan tetap mendatangimu Lexi. Aku berujar sungguh-sungguh."
Akhirnya dengan berat hati Lexi membacakan do'a yang sudah ia hapal sebelumnya.
"Ayo mulai!" Kahfa langsung menerjang tubuh seksi Lexi yang terbalut selimut.
Lexi terpekik kaget.
"Kahfa."
__ADS_1
"Yes Honey."