
"Kahfaaa."
Ya Allah, dalam setiap keadaan apapun Kahfa menyukai saat Lexi menyebut namanya.
"Yess Lexiii."
"Aku ingin merevisi surat kontrak kita."
Jangankan merevisi membatalkannyapun sungguh Kahfa sangat relaaa. Lillahita'ala malah.
"Bagian mana yang ingin kau revisi."
"Bagian yang membolehkanmu menikah lagi. Aku berubah pikiran! Aku keberatan mengenai hal itu. Aku merasa menjadi penghianat sesama kaumku jika aku membiarkan suamiku menikah lagi. Aku tak ingin berbagi pria dengan wanita manapun."
Kahfa mengulum senyumannya juga melipat bibirnya kedalam, bahkan hidungnya sampai kembang kempis khawatir tawanya meledak. Dan dari serentetan kalimat yang keluar dari mulut Lexi yang paling indah terdengar adalah kata di mana Lexi mengakuinya sebagai seorang suami.
"Oke. Bukannya kau adalah pihak pertama, dan keputusanmu mutlak." Kahfa menatap Lexi yang menganggukan kepalnya.
"Iya juga ya."
"Kau tak berniat membatalkan kontrak dan menjadi istriku sesungguhnya."
"Aku belum terpikir ke arah sana."
__ADS_1
"Baiklah."
Kahfa semakin mendekat ia merasa senang kala Lexi tidak sering membahas Kahfi ketika bersamanya. Semua itu Lexi lakukan karna tak ingin melukai perasaan Kahfa. Meskipun perasaannya hambar pada pria itu tapi Lexi berusaha meraba diri seandainya ia berada di posisi Kahfa pasti ia akan terluka jika pasangannya membahas nama lain.
"Abang aku boleh menyetor hapalankan sama Abang. Aku sudah menghapal surat pendek dari surat An-nas sampai surat An-naba. Aku sengaja menghapalnya dari surat terakhir menuju ke surat an-naba."
"Ya, kau boleh menyetor hapalannya padaku. Jika ada yang tidak kau mengerti kau boleh bertanya padaku."
.
"Abang tidak ada kelas malam ini?"
Kahfa menggeleng ia masih asyik bermain dengan Zayn yang kini sudah bisa tengkurap di ranjangnya.
"Papa Kahfi pasti senang melihat Zayn sudah pintar." Kahfa melirik Lexi sejenak, Lexi hanya diam tanpa berniat menanggapi lebih jauh. "Pasti Papa Kahfi sangat bangga karna Mama Zayn berhasil melalu masa sulitnya. Terimakasih sudah menjadi wanita hebat." Kahfa meraih tangan Lexi dan menaruhnya di atara wajahnya.
Lexi tersenyum pelan. Hatinya masih rentan kala membahas Kahfi.
"Terimakasih sudah menyayangi dan melindungi kami." Lexi memeluk tubuh suaminya. Membenamkan seluruh wajahnya di dada bidang Kahfa, pria itu tak kalah erat memeluk istrinya menghujani begitu banyak kecupan di puncak kepala Lexi.
Kahfa mengurai pelukan, mengangkat dagu Lexi menggunakan teluntuk tangan kanannya. Ia meneliti wajah yang sudah berhasil menawan perasaannya yang entah sejak kapan Kahfapun tak tau.
Sebenarnya Kahfa memang tertarik dengan Lexi sejak gadis itu pertama kali berada di rumahnya, namun dirinya terlalu naif selalu menepis perasaannya juga membalut rasa terlarangnya dengan mulut pedasnya. Di samping semua itu Kahfa tak ingin terlibat perselisihan antara saudaranya seperti yang pernah terjadi antara om dan ayahnya yang menyukai wanita yang sama. Namun cara Allah menggambar takdir tidaklah dapat ia tebak. Nyatanya Lexi berhasil ia miliki meskipun sebelumnya menjadi milik adiknya sungguh Kahfa tidak keberatan sama sekali.
__ADS_1
Kahfa menarik jarum pentul yang tersampir di bawah dahu istrinya hingga hijabnya terbuka.
"Ba-bang aku, aku belum siap." cicit Lexi.
Kahfa malah tergelak kencang. "Siap untuk apa? Jangan katakan kau berpikir mesum." Kahfa semakin terpingkal.
"Zayn! Lihat mamamu nakal." Kahfa mengadu pada bayi yang kini tengah mengemut ke lima jemarinya bergantian.
"Abang jangan mengajarkan putraku yang tidak-tidak."
"Anak kita." Ralat Kahfa.
"Jangan menggunakan kerudung saat kita tengah berada di dalam kamar. Aku menyukai rambutmu yang tergerai." Aku Kahfa jujur.
Lexi mengangguk. Mau bagai manapun ia memang harus membuka hati untuk pria itu. Setidaknya ia harus berusaha.
"Bang boleh aku bertanya?"
Hem.
Kahfa hanya berdehem melanjutkan aktifitasnya menimang bayinya.
"Apa Abang menyukai Greendia?"
__ADS_1
"Kau cemburu?"