Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Malam Pertama Yang Sukses


__ADS_3

Di tempat lain ...


Rupanya Lexi tengah sakit selama dua hari belakangan ini pantas saja Lexi selalu mengatakan ingin tidur awal, tapi yang sebenarnya terjadi Lexi tak ingin Kahfi mengetahui jika ia sakit. Takutnya Kahfi mengkhawatirkannya. Setidaknya itulah yang ibunya katakan.


"Ayang, Mas pulang!"


Kahfi bergunam dan menghampiri istrinya yang masih terlelap di ranjang mereka. Dengan posisi terlentang memamerkan semua keindahan yang sepertinya diap untuk ia nikmati.


Tapi Kahfi di buat tercengang saat gaun tidur yang Lexi kenakan sangat tipis seperti jaring ikan, juga dengan tali yang berada di pundaknya yang meeupakan sebuah pita kecil, yang dapat Kahfi pastikan sekali tarik pakian itu akan lepas dari tubuh istrinya.


Gaun berwarna merah terang sangat kontras dengan warna kulit Lexi yang putih, pinggiran gaun itu di hiasi renda-renda kecil.


Belahan dada yang sangat rendah, memamerkan dua kelembutan yang menyembul di antara gaun dan pita kecil sebagai penyangganya. "Ya Allah Lexi tak mengenakan pants." hanya ada kain tipis dengan tali yang berbentuk segi tiga yang menutupi daerah inti gadisnya.


Kahfi semakin mendekat. Membelai wajah Lexi dengan punggung tangannya secara perlahan.


"Kau sangat cantik."


"Apa kau sudah mempersiapkan diri seperti ini untuk menyambutku?" Kahfi tak kuasa menahannya lebih lama.


Ia sentuh kening dan leher Lexi, terasa masih hangat di punggung tangannya. Sepertinya Lexi belum sembuh benar, tapi ia berusaha untuk menyambutnya.


"Istri nakal." Kahfi mencium rambut Lexi yang wangi.


Ia segera lucuti dirinya sendiri.


"Bukankah yang di haramkan oleh agama adalah ona ni atau mans tru basi dengan tangan sendiri?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia tiba-tiba merasa bodoh dengan sesuatu yang ia ketahu dengan baik.


"Mas pinjam tangan Ayang ya biar Mas ga dosa-dosa banget. Hehehe." Kahfi tertawa sendiri.


Meraih tangan kanan Lexi dan mengecupnya secara pelan. Ia tak ingin istrinya terbangun saat ia tengah melakukan hal yang berbau mesum itu.


Sebenarnya bisa saja Kahfi membangunkan istrinya tapi rasa tak tega itu muncul pada diri Kahfi. Ia akan mencoba memuaskan dirinya sendiri dengan tangan istrinya.


Kahfi sudah tak mengenakan apapun.


Tubuh kekarnya terlihat indah dan berkilauan di antara sorotan lampu tidur yang temaram.


"Bismilah..."


Bisa-bisanya Kahfi mengucapkan basmalah saat mau melakukan hal ini. Menurutnya ini bukan hal salah karna Lexi istrinya sendiri.


Pria itu meraih tangan lentik istrinya dan menyentuhkannya pada titik tempat Gairahnya terkumpul yang entah sejak kapan daerah itu begitu tegak dan menantang.


"Maaf aku mencuri nafkah batinku." bisik Kahfi.


Kahfi memainkan jemari tangan Lexi di inti tubuhnya. Dengan perlahan pula Kahfi menyingkap pakaian Lexi hingga sebatas leher istrinya. Kahfi berfantasi tengah menggahi istri cantiknya. Kahfi juga tidak tinggal diam ia bergerak teratur.


Sesekali Kahfi terpejam, ia sangat menikmati kegiatannya.


Lexi merasa tidurnya terganggu.dengan tiba-tiba ia membuka mata dan ia terkejut saat mendapati tangannya di mainkan Kahfi di tempat terlarang seorang pria.


"Hah ... Hah.. ." Kahfi terengah dengan nafas yang memburu.


"Mas Kahfi."


Sumpah demi apapun, Lexi belum pernah melihat penampakan suaminya yang tengah seperti ini. Tubuhnya sedikit lembab dengan keringat yang mengembun di sekitar tubuhnya terutana di bagian dada dan perutnya, menunjukan jika Kahfi cukup lama melakukan hal itu.


Raut wajah seperti menahan sakit serta nikmat secara bersamaan di tampilkan di wajah tampan suaminya.


Kahfi sama terkejutnya, tapi ia masih melakukan hal gila itu.


Gila. ... Kahfi menggigit pelan bibir bagian bawahnya, yang justru menambah kadar gairahnya.

__ADS_1


"Mass!!"


Lexi menarik tangan Tangannya dari genggaman dan gairah suaminya.


Plak ...


Lexi melepaskan satu tamparan di wajah suaminya. Tidak sakit tapi cukup membuat Kahfi terkejut.


Kekecewaan tercetak jelas di wajah Lexi. Gadis itu merasa terhianati, saat suaminya memainkan tangannya dengan sesuatu dari diri suaminya.


"Aku masih bisa melayanimu mengapa kau melih tanganku sialan?" Wah mode bar-bar Lexi aktif di hadapan suaminya.


"Aku, aku." Kahfi tergagap. Jujur saja ia sama kagetnya saat ulahnya di pergoki Lexi.


Bukk. ..


Lexi mendorong dada Kahfi hingga pria kekar itu terjungkal dan terlentang di atas ranjang. Lexi melepas sesuatu yang menutupi daerah intinya, segera Lexi melesat menaiki tubuh Kahfi.


"Ay. Apa yang kau lakukan?" sebenarnya Kahfi mendorong tubuh Lexi tapi-


Plak ...


Lagi Lexi menampar Kahfi untuk kedua kalinya. Adakah yang seperti ini. Kahfi bahkan mendapat kekerasan sebelum permainan di mulai.


Lexi menduduki perut Kahfi.


"Ayang." Suara Kahfi tercekat dengan kepala di atas headboard tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan? Jangan gegabah Ay." Kahfi panik saat Lexi berjong kok dengan posisi gai rah kahfi yang tepat di pintu masuk istrinya.


"Ay jangan nekad!"


"Diam!"


Mata Lexi melotot.


"Ah, sakit." pekik Lexi, gadis itu melepas ciumannya saat sebagian tubuh Kahfi memasukinya.


"Ay ... Ahh. " Kahfi menegur, tapi ia tak berniat melepaskannya, ia menikmati sensasi hangat dan memabukan yang menjepit ujung senjatanya.


Lexi terperosok semakin dalam dengan rasa yang menyakitkan. Dengan posisi Lexi masih di atas.


Jlep


Lexi menurunkan tubuhnya menelan habis kebanggaan suaminya.


"Sakit. Mas. Hwaaaa... "


Lexi menangis sedangkan Kahfi reflek menahan pinggul Lexiagar tetap di posisinya. Ini indah, ini nikmat! Inikah rasanya surga dunia yang semua orang perbincangkan. Wajar saja semua orang menyukai ini, rasanya memang sangat luar biasa.


"Ay, jangan bergerak dulu! Biarkan Mas mengecilkannya, agar Ayang tidak terlalu sakit. "


Sebisa mungkin Kahfi menenangkan diri, agar bagian tubuhnya mengecil supasa bisa keluar tanpa harus menyakiti istrinya.


"Sakit... Hiks. "


"Sialan." untuk pertama kalinya Kahfi mengumpat. Senjatanya bukannya mengecil tapi malah ua rasa semakib membesar dan menginginkan lebih.


Dengan sekali gulingan Kahfi melepaskan diri. Noda darah segar yang tertinggal di senjatanya menjadi bukti jika keperawan Lexi sudah ia ambil dengan cara yang tak biasa.


"Hiks.. Sakit sekali." Lexi meringkuk dan memegangi miliknya yang berdarah.


"Ayang nekad sekali. Apa masih sakit?"

__ADS_1


"Aku marah sama Mas, aku sudah berdandan dan mengenakan baju dinas untuk menyambut Mad! api apa yang Mas lakukan? Mas malah bermain dengan tanganku. Apa Mas menderita kelainan atau aku kurang menarik?" Lexi kesal dan menangis dengan tangan yang masih memegangi miliknya.


"Bukan seperti itu, Ay. Tubuhhmu belum sehat Mas tak ingin kau terpaksa melakukannya."


"Aku cemburu pada tanganku. Harusnya mas memilih sesuatu yang layak untuk kau nikmati. Nikmati aku sesukamu jangan tanganku lagi!"


Lexi menyuruhnya menikmati tubuh yang ia inginkan sejak lama. Dengan cepat tampa alasan apapun, Kahfi membaca doa dan segera mengungkung tubuh istrinya.


"Mas mau apa?"


"Menikmatimu!"


"Aku masih sakit, besok saja."


"Tidak bisa. Mas janji akan pelan-pelan."


Lexi tak bersuara lagi. Ajaibnya Kahfi melakukan sentuhan-sentuhan sebagai stimulasi di tubuh Lexi sampai suara era ngan dan Desa han keluar bergantian dari mulut Lexi.


Merasa Lexi sudah siap, Kahfi memasukinya. Meski masih terasa sakit, tapi Lexi sangat menikmati sentuhan suaminya yang lembut dan menuntut.


Tidak ada kata paksaan di sini semua berjalan begitu saja. Kahfi memuaskan semua dahaganya. Ia menumpahkan semuanya pada tubuh halal miliknya. Tenang dan lega itulah yang dirasa oleh Kahfi.


Lexi sudah tak memiliki tenaga untuk mengimbangi Kahfi yang tengah kalaf, bagai seorang musafir yang baru saja memuaskan rasa laparnya selama beberapa waktu.


Bukan hanya sekali, Kahfi menggapai surga dunia bahkan ia mengulangi rasa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Sampai adzan subuh berkumandang Kahfi baru saja menyelesaikan permainannya, full malam ini Kahfi tidak memejamkan mata sejenakpun.


"Terimakasih. Mas sangat puas." Kahfi mengecup kening Lexi yang berkeringat. Ia juga melabuhkan kecupan di rambut Lexi yang terasa lembab. Aroma percintaan sangat kuar terasa di kamar itu.


"Ay, ayo mandi bersama. Kita harus subuhan. Kau boleh tidur lagi setelah shalat subuh." ujar lembut Kahfi.


"Mas shalat di rumah gak kemesjid?"


"Gak akan keburu kalo kemesjid Ay."


"Kan Kay tadi udah ingetin Mas, Mas bilang nanggung. Nanggung apa coba?"


"Ya nanggung enaknya Ay." Kahfi tertawa.


"Sini Mas gendong ke kamar mandi." Kahfi sangat peka istrinya pasti kesakitan karna ulahnya.


"Awh, sakit banget." Lexi meringis saat membasuh miliknya dengan air hangat.


"Coba mas lihat." Kahfi berjongkok melihat penampakan milik istrinya yang membekak karna ulahnya.


Ia juga berdesih ngilu. Sekaligus ingin mengulangi lagi.


"Jangan gitu liatinnya." Lexi merapatkan kakinya Bisa-bisa terlalu lama Kahfi melihat itu subuh mereka akan terlewat.


"Ayo mandi."


Kahfi mengajarkan Lexi mandi wajib yang benar.


Mereka shalat berjamaah di kamar mereka.


"Untung Mas punya alasan habis dinas jika tidak, pasti Kahfa akan menyuruh Mas pakai mukena karna shalat di rumah."


"Nanti siang Mas minta lagi ya?"


"Ih, masih sakit."


"Ya udah deh nanti malam."

__ADS_1


"Mas Kahfi mesum."


"Hari ini mas sangat bahagia, karna malam pertama kita sukses."


__ADS_2