
Setelah dua hari Sari tidak sadarkan diri. Pagi ini Sari membuka matanya secara perlahan, matanya mengerjap beberapa kali untuk membiaskan cahaya yang silau menusuk kedua kornea matanya.
"Air." lirihnya pelan,
Risma yang yang berada di samping wanita itu segera menghencitan bacaan al-qurannya, ia segera mengambil air dan ia serahkan kepada adik iparnya, dengan susah paya Sari menyedot air dari dalam sedotan.
"Makasih mba."
"Gimana keadaanmu dek?"
Sari tidak menjawab tangannya yang tidak terhubung dengan selang infus secara hati-hati menyentuh perutnya. Rata, itu yang ia rasa ia juga merasakan perih di sekitar perutnya.
"Mbak, bayiku."
"Bayimu, sudah kembali kepangkuan pemiliknya dek, semua yang kita miliki adalah titipan Allah, dan bisa kapan saja diambil oleh pemilik yang sesungguhnya." Risma berusaha menenangkan adik iparnya ia usap secara lembut kepala yang terbungkus hijab itu.
Sari terisak dalam diamnya, ia menyadari sepenuhnya apa yang di ucapkan kakak iparnya adalah kebenaran tapi ia tetap saja merasa kehilangan, selama tiga tahun ia menantikan seorang anak yang justru harus kembali tiada. Dia merasa menjadi ibu yang buruk yang tidak bisa menjadi pelindung untuk anaknya.
"Jangan menangis dek, yang tabah yah." Risma memeluk adik iparnya untuk menyalurkan kekuatan, meskipun melarang Sari menangis Risma juga malah ikut menangis bersama.
"Biarkan Sari menangis kali ini mbak, setidaknya ini untuk yang terakhir kali. Aku adalah ibu yang buryk mbak."
"Stt, tidak ada ibu yang buruk di dunia ini, ini semua adalah ujian, apapun yang terjadi sudah sesuai dengan takdir Allah, Dek."
"Mbak panggilkan dokter ya."
__ADS_1
Setelah di periksa dokter dan setelah merasa lebih tenang akhirnya Sari mampu berlapang dada mengiklaskan semuanya.
"Dek, Riza ingin menemuimu. Sudah dari kemarin Riza menunggumu untuk memperbolehkannya berbicara padamu, apa sekarang kau mau menemuinya.?" Sudah dua hari pula Sari sadar dan tidak mengijinkan Riza untuk menemuinya.
Selama dua hari Sari merenung dan berpikir matang-matang, Sari memperbolehkan semua orang menemuinya selain Riza suaminya, Sari sudah menyiapkan mental untuk menghadapi keputusan yang menurutnya adalah jalan terbaik.
"Ya, mbak sekarang Riza bisa menemuiku, aku juga ada hal penting yang ingin aku sampaikan." perasaan Risma mulai tak enak.
Kemarin Sari diam-diam menyuruh salah santri wati mengambil tas yang sudah ia persiapkan sebelumnya terdapat beberapa dokumen dan barang penting. Seluruh biaya pengobatannya selama di rumah sakit sudah di tanggung pihak pertaminah, karna memang kecelakaan itu terjadi juga atas kelalaian pihak kedua.
"Sari ..." Riza memanggil lirih nama istrinya yang tengah tertunduk beristighfar. Wajah cantik itu terlihat sayu dan lemah, juga kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan sekalipun dengan senyumannya.
"Riza. Kau pernah berkata padaku aku boleh pergi atau tetap bertahankan?"
Riza masih diam dan mendengarkan dadanya tiba-tiba terasa diremas dengan kuat sesak dan sakit.
Respon ini tidak Riza bayangkan sama sekali, ia pikir jika sari akan memakinya habis-habisan dan menyalahkannya atad meninggalnya bayi mereka, tapi yang terjadi justru sebaliknya wanita itu terlihat tenang tapi sangat menyedihkan. Terus terang saja jika boleh memilih Riza lebih ingin jika Sari mengamuk atau apapun tapi jangan ini jangan hal ini, ia belum siap jika sari pergi dari hidupnya.
"Aku minta maaf Sari, semua yang terjadi adalah salahku, aku salah karna telah lalai dan dzalim padamu, aku mohon maaf untuk itu." Mata Riza mengembun cairan bening siap tumpah jika saja pria itu mengedip.
"Aku sudah memaafkanmu, yang aku minta sekarang adalah kau menalakku. Kita memulai hubungan dengan baik dan harus di akhiri dengan baik"
Jederrr...
Atap yang berada di atasnya seakan menimpa kepalanya sampai ia merasa pusing, bayangan ini tidak pernah terlintas sebelumnya di otak Riza.
__ADS_1
"Kau belum pulih, omonganmu masih ngaco, sekarang lebih baik kau tidur biar ku bantu." Riza hendak merebahkan tubuh istrinya namun gerakannya segera di hentikan ole Sari.
"Aku baik-baik saja. Aku tahu selama menikah denganmu aku banyak permintaan tapi tidak satupun permintaanku kau penuhi. Maka untuk kali ini aku memohon dengan sangat padamu dan tolong kabulkan permintaanku yang satu ini, talak aku sekarang." Sari masih berbicara dengan datar meskipun ia tengah memohon.
"Jika ingin kau bercerai dariku lebih baik kita berbicara nanti saja, akan ada pengacara yang akan mengurus semuanya termasuk nafkah dan harta dono gini, semuanya perlu waktu." Jelas Riza, satu bulir bening berhasil lolos dari pipinya.
"Aku tidak menginginkan apapun darimu, cukup talak aku maka semuanya akan selesai."
Meskipun Riza enggan dan berat hati, tapi ia berpikir mungkin saja Sari sedang emosi dan setelah kecewanya reda pasti wanita itu akan kembali menjadi istrinya, mengingat Sari sudah beberapa kali kabur dari rumah kerumah ibunya, paling lama dua hari setelahnya wanita itu akan kembali pulang lalu akan kemana Sari pergi setelah ibunya tiada.
"Sekarang kau tidak memiliki siapapun di luar sana, kecuali Citra dan keluargaku, jika aku menalakmu kau akan pergi kemana kau hanya sebatang kara." Riza memperingati istrinya supaya tidak sembarangan dalam berbicara.
"Kau tidak usah khawatir, apa yang akan terjadi nanti tidak akan mempengaruhi atau merugikan kehidupanmu, aku sudah tiga tahun di paksa mandiri, jadi bukan masalah besar untukku. Kau hanya perlu menceraikanku."
"Baiklah jika itu maumu, jika kau sudah tidak bisa membuktikan ucapanmu maka pulanglah padaku." Riza memperingati meskipun ia tidak ingin menceraikan sari entah karna apa alasannya Riza juga tidak tahu. Tapi yang pasti Riza akan memberikan Sari pelajaran bahwa hidup di luar sana sendirian tidak semudah yang wanita itu bayangkan.
"Aku masih mempunyai Allah, untukku menggantungkan nasib." Sari berjanji dalam dirinya srkalipun ia harus berjalan dengan merangkak ia tidak akan kembali pada pria ini.
"Kita lihat saja nanti."
"Sari Bunga, binti Hasan dengan ini aku menjatuhkan talak satu padamu, mulai detik ini kau bukan istriku lagi." Air mata Riza jatuh begitu saja berbarengan dengan jatuhnya talaknya pada istri pertamanya.
Sari tersenyum lega, "Terimaksih." Sari juga menunduk menyembunyikan tangisannya. Inilah akhir dari rumah tangga yang ia jalani akhirnya pernikahannya harus kandai dengan kurun waktu tiga tahun. Sari tidak menyalahkan siapapun saat ini ia hanya berusaha iklas untuk semua yang ia dapatkan.
Riza pergi dari sana dengan air mata yang sangat sulit ia kendalikan, sumpah demi nama tuhannya ia merasa ini adalah keputusan yang salah, istri pertamanya akhirnya memilih pergi dengan tanpa dirinya.
__ADS_1
Riza terus melangkah tanpa tujuan menjauhi ruang rawat, di luar kamar tidak ada siapapun keluarganya entah kemana Risma dan keluarganya pergi, yang bisa ia lakukan adalah menghadap penciptanya ia harus Shalat dan mengadukan semuanya dalam sujudnya.