
"Kau cemburu?"
Kahfa menaikan satu alisnya.
"Ce-cemburu?" Lexi turut mengerutkan kening, ia juga tengah berpikir apa benar dirinya tengah cemburu? Mengingat ia tak memiliki perasaan apapun terhadap pria di hadapannya. Selain dari rasa bersalah.
"Bang, bukankah cemburu di peruntukan bagi orang-orang yang saling mencintai? Kita menikah hanya karna wasiat, aku rasa aku cukup tau diri jika harus mencemburuimu." Lexi tersenyum samar entah mengapa ia merasa sudah berbohong pada dirinya sendiri.
"Tapi aku selalu mencemburuimu. Sekalipun kau membicarakan orang yang telah tiada." Lexi mematung. Tiba-tiba saja ia merasa bodoh, bagai mana mungkin Kahfa cemburu pada orang yang telah tiada.
"Abang, ku rasa Abang terlalu banyak bergaul dengan Gus Ghaza, sehingga Abang ngelantur dalam betbicara."
Kahfa menghembuskan nafas kasar percuma juga mendesak Lexi sepertinya istrinya itu tidak memiliki perasaan untuknya.
Kahfa meregangkan otot-ototnya, entah mengapa sejak sore tadi badannya merasa tak enak. Mungkin saja ia masuk angin karna akhir-akhir ini kadang Kahfa membawa pekerjaannya ke rumah, ia juga tidur di malam yang lumayan larut.
"Zayn sama Mama dulu ya. Papa mau di kerok nenek dulu. Badan Papa tak enak, mungkin masuk angin," Kahfa menyerahkan bayi dalam dekapannya pada pelukan ibunya. Dalam hati Kahfa berharap jika Lexi akan menghentikannya dan menawarkan diri Lexi untuk mengerok tubuhnya.
__ADS_1
"Abang, Abang ingin mempermalukan Lexi ya? Ingin agar Ibu menegur Lexi karna tak mengurus Abang." Lexi mengerucutkan bibirnya kesal.
Kahfa tersenyum dengan kedua mata yang sedikit menyipit, juga mengambil kembali tubuh Zayn di gendongan istrinya.
"Memangnya, Lexi mau ngerokin Abang?"
Lexi mengangguk mengiyakan. "Nanti setelah Zayn tidur Lexi akan mengerok Abang Ya?"
Lexi pun menyusui bayinya terlebih dahulu tentu saja dengan membelakangi Kahfa. Ia tak ingin jika Kahfa melihat miliknya, ia masih malu akan suaminya sendiri.
Setelah Zayn terlelat ia meletakan putranya di boks bayi. Kahfa dengan cekatan memindahkan perintilan-printilan kecil di bosk bayinya, hanya tersisa bantal kecil saja di sana untuk alas tidur putranya.
Lexi meraih koin dan minyak telon yang sudah di siapkan oleh Kahfa terlebih dahulu.
"Badan Abang lumayan panas." Lexi meraba punggung suaminya.
"Iya, sepertinya Abang juga demam." ujar Kahfa pelan.
__ADS_1
Lexi tak dapat tidur dengan nyenyak sekalipun ia sudah mengerok dan memberikan Kahfa obat. Ia kerap kali terbangun mengecek keadaan Kahfa, ia takut kejadian di tinggal untuk selama-lamanya terulang kembali.
"Abang, Abang."
Lexi memanggil beberapa kali, juga mengguncang tubuh Kahfa.
"Ada apa? Dari tadi kau selalubmembangunkanku. Apa kau tak mengantuk?" Kahfa terduduk, mengucek matanya dan sesekali melirik ke arah bayinya.
"Aku takut Abang tak bangun lagi." Lexi menunduk. Kekhawatirannya tidak di buat-buat, Lexi benar-benar takut jika seandainya ia harus kembali kehilangan.
"Sepertinya kau sangat takut kehilanganku!" Goda Kahfa, dan tanpa di duga Lexi mengangguk,
"Ya aku takut kehilangan Abang." Lexi memeluk erat suaminya, tidak ia pungkiri ia mulai terbiasa dengan kehadiran suaminya.
.
Pagi-pagi sekali Lexi menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal. Orang itu meminta agar dirinya menemui orang itu di sebuah Caffe.
__ADS_1
Pesan singkat yang berisikan tentang masa lalu Daddynya, sontak membuat Lexi penasaran. Tapi Lexi di lema kala orang itu mengatakan jangan memberi tahu siapapun akan pertemuan mereka.
Siapa orang itu?