Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
End


__ADS_3

"Terimakasih." Kahfa menseka kening istrinya juga membenamkan kecupan di dahi itu.


Kahfa langsung menggulingkan tubuhnya kesamping dan langsung terlelap setelahnya. Lexi berpikir apakah sudah menjadi kebiasaan seorang pria jika sudah terpuaskan mereka akan tertidur setelahnya. Bukan hanya Kahfa yang seperti itu, Kahfi juga sama. Oleh sebab itu Lexi mengambil kesimpulan demikian.


Lexi tidak menjawab ia hendak segera beranjak untuk ke kamar mandi, sudah menjadi kebiasaannya jika setelah bercinta ia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum kembali terlelap.


.


Sesuai apa yang Kahfa katakan pagi-pagi sekali Greendia benar-benar kembali ke asrama putri.


Saat sarapan Kahfa tak menyurutkan senyumannya. Terang saja ia sangat bahagia kala Lexi sepertinya mulai menerima kehadiran dirinya tanpa sedikitpun melibatkan nama Kahfi di dalamnya. Lexi sudah menjadi wanita dewasa dengan seribu pesonanya. Pemikiran Lexi juga membuat Kahfa terkagum-kagum dengan perubahan yang di tunjukan Lexi.


Kahfa benar-benar menunjukan perasaannya kali ini ia tak lagi berkata pedas pada istrinya, Kahfa juga selalu merendahkan suaranya kala ia tengah berbicara kepada Lexi.


Waktu terus bergulir hingga beberapa waktu. Semakin lama Lexi semakin di buat nyaman oleh keberadaan Kahfa. Lexi tak menyangka pria bermulut pedas dengan minim ekspresi itu menunjukan perhatiannya dengan sangat jelas terhadapnya.


Suatu malam Kahfa memandang seluruh potret Lexi yang ia miliki di laptopnya, juga dengan beberapa tulisan yang ia sematkan di dalamnya dengan cinta yang ia anggap sepihak.


"Sekarang aku tak berdosa lagi sekalipun aku mencitai dengan sangat jelas dan menunjukannya. Sekalipun banyak wanita yang hampir kunikahi kau tetap menjadi wanita pemenang sejak awal Lexi." Kahfa mengusap layar laptopnya dengan penuh perasaan.


Tok ... Tok ...


"Om Kahfa, Kakek memanggil." terdengar suara mungil saat Kahfa membuka pintu, rupanya Zayn yang mendatanginya.


Kahfa terburu-buru saat mengetahui ayahnya memanggil, ia langsung pergi tanpa masuk dulu keruang kerjanya, membiarkan laptonya masih menyala.


Lexi memasuki ruang kerja Kahfa dan mencari keberadaan suaminya yang entah ke mana.

__ADS_1


"Kemana dia? Bukankah ia meminta secangkir teh?" Lexi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sosok sang suami. Namun matanya tersita oleh laptop yang menyala di atas meja kerja Kahfa.


Lexi di buat penasaran oleh laptop yang menyala.


Ibu satu anak itu mendekati laptop Kahfa yang menyala berniat akan mematikan laptop itu. Tapi perhatiannya tersita kala di sana ia mendapati banyak potret dirinya yang Lexi yakin jika foto itu di ambil secara diam-diam.


Lexi semakin di buat tertegun kala tangannya membuka beberapa file yang merupakan catatan hati seorang Kahfa. Banyak sekali curahan Kahfa yang mengungkapkan kekakuman pria itu terhadapnya termasuk saat Lexi baru beberapa hari tinggal di sana.


Mata Lexi terbelalak setelah membuka beberapa catatan Kahfa di laptop miliknya.


"Lahfa menyukaiku sejak lama bahkan sebelum aku menikah dengan Kahfi. Lalu sikap ketus yang ia tunjukan apakan untuk menutupi perasaannya?" Lexi di buat bertanya-tanya.


Wanita itu melanjutkan kekepoannya membaca file yang tersimpan di laptop suaminya.


"Ya Allah, aku benar-benar tak menyangka." Lexi menutup mulutnya sendiri kala Kahfa mencatat kerap kali cemburu saat Lexi bersama Kahfi yang kala itu sebagai suaminya.


Lexi semaki di buat tercengang kala di sana terdapat jika Kahfa menjadikan wasiat Kahfi alibi dan senjata untuk memperistrinya.


Lexi membaca acak di antara banyaknya file di sana. Juga beberapa ungkapan Kahfa yang menyatakan ia mencintai Lexi.


Kahfa kembali memasuki ruangannya. Pria itu di buat tertegun kala sang istri tengah berada di meja kerjanya dengan laptop miliknya di hadapan Lexi.


"Apa yang kau lihat?" Kahfa mendekat dengan hati berdebar.


Lexi sama terkejutnya akan kehadiran Kahfa di sampingnya. Wajah Kahfa sudah memerah ia yakin Lexi sudah mengetahui rahasiahnya yang bertahun-tahun ia sembunyikan. Dasar ceroboh! Kahfa bahkan memaki dirinya sendiri.


"Be-benarkah apa yang ku lihat ini?" Lexi bertanya memecah keheningan.

__ADS_1


Kahfa masih membisu. Sepertinya tak guna juga ia mengelak dan membantah semua memang harus terbongkar sekarang.


"Ya Lexi aku mencintaimu lebih dari 7 tahun lamanya. Aku tak akan mengelak lagi." jujur Kahfa pada akhirnya.


"Semua yang kau lihat benar adanya. Tak ada gunanya aku menyembunyakan perasaanku. Lagi pula mencintai seseorang bukan sebuah kejahatan. Maaf, tapi saat kau menjadi adik iparku tak sekalipun aku berpikir picik apa lagi serakah. Aku tetap mendoakan kebahagiaanmu dan Kahfi. Tak sekalipun aku berniat merebutmu dari adikku." Kahfa duduk di atas meja menelisik wajah Lexi yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Aku tau."


"Maaf sudah membuatmu mencintaiku seorang diri." Lexi menunduk dengan mata berkaca-kaca.


Kahfa mengangkat dagu Lexi.


"Kau tak marah karna aku mencintaimu meski kau masih menjadi istri dari adikku?"


"Tidak. Bukankan katamu mencintai seseorang bukan sebuah kejahatan?"


Kahfa melebarkan senyumnya.


"Terimakasih sudah memahami perasaanku." Kahfa membawa Lexi dalam pelukannya.


"Aku berjanji tidak akan mencitaiku sendirian lagi. Aku juga mulai mencintaimu." tidak berbisik tapi Lexi berujar pelan tepat di dada Kahfa yang kini memeluknya.


"Terimakasih aku akan membahagiakanmu semampuku. Ini indah Lexi, terimakasih kau sudah bersedia menjadi istriku." Kahfa menghujani kepala Lexi dengan begitu banyak ciuman.


"Ya kita akan bahagia."


Setelah hari itu baik Kahfa maupun Lexi benar-benar menjalani pernikahan mereka dengan normal, juga dengan keberadaan Zayn membuat hidup mereka semakin berwarna.

__ADS_1


Hanya ada senyuman kebahagiaan yang mewarnai hari-hari mereka berikutnya.


TAMAT.


__ADS_2