
"Aku mau mandi, bajumu sudah ku siapkan." Kahfi segera berlari ke kamar mandi, hidungnya juga di gelitik aroma sabun yang membuat jantungnya kembali berdetak tak terkendali.
"Ya Allah, ya Allah, jantungku tak aman. Lexi terlalu berbahaya dari dugaanku."
Sebelumnya Kahfi belum pernah merasakan hal semacam ini, ini yang pertama baginya ia membayangkan seandainya saja Kahfa tau apa yang terjadi padanya kali ini Kahfi yakin kakaknya akan menertawakan tingkahnya kali ini.
Kahfi tak langsung mandi ia berpikir apa yang harus ia lakukan saat malam pertama, rasanya Kahfi lebih baik menghapal beberap ayat atau buku dari pada harus di hadapkan dengan hal yang sangat menyulitkan menurutnya.
Menjadi seorang suami tidak semudah bayangannya, ia takut jika ia tak mampu menjadi seami seutuhnya untuk Lexi, mendadak ia tiba-tiba tidak siap dengan status yang di gelasnya saat ini.
Kahfi mandi juga segera memakai handuknya ia juga mengenakan pakaian di kamar mandi, akan sangat canggung baginya jika ia berpakaian di hadapan seorang gadis meskipun istrinya sendiri.
Mata hari juga mulai menunjukan sinar jingganya pertanda hari memang sudah sangat petang, lalu apa yang di kerjakan istrinya? Lexi masih saja rebahan dengan memainkan ponselnya. Entah apa yang di lakukan gadis itu tapi sepertinya Lexi tengah membaca sesuatu, mungkin artikel atau sosial media pikir Kahfi.
Kahfi tak bisa diam saja menyaksikan istrinya yang masih terlihat santai, ia harus menegur istrinya, tapi harus dengan cara lembut jangan sampai istrinya tersinggung apa lagi sampai merajuk.
"Rambutmu masih basah? Sini biar Mas bantu keringkan." Lexi dengan tergesah mendekat ke arah suaminya, ia juga membuka buntelan handuk kecil yang membalut rambut panjang yang setengah basahnya.
Gadis itu duduk di lantai, tepatnya di bawah ranjang di hadapan suaminya. Ia juga sedikit mendongakan kepalanya. Menatap wajah tampan yang berkali-kali lebih tampan saat terlihat dari bawah sana. Sungguh Lexi merasa sangat beruntung memiliki Kahfi sebagai suaminya, diantara milyaran manusia.
Aroma shampi langsung menguar, menggelitik inda penciuman Kahfi, sampai pria itu mati-matian menahan sesuatu hal yang tak bisa ia ungkapkan.
Kahfi tak dapat menghentikan indra penciumannya untuk mengendus puncak kepala Lexi.
"Kau sangat wangi. Aku menyukainya." Lagi-lagi Kahfi tersenyum manis, tindakan kecilnya mampu meluluh lantahkan pertahanan Lexi.
Dengan telaten Kahfi mengeringkan rambut Lexi, menggunakan handuk kecil berwarna putih tulang.
"Rambutmu juga sangat indah, hitam dan bergelombang."
"Mas Kahfi menyukainya?"
"Apapun yang ada padamu aku menyukainya."
Panas ... Panas ...
Lexi mengipas permukaan wajahnya menggunakan kesepuluh jemarinya, paket lengkap sekali sepupunya ini, sudah tampan romantis pula. Hah rasanya Lexi tidak keberatan jika harus mengoleksi selusin pria semanis Kahfi.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak bersiap untuk pergi kemesjid?"
"Aku kedatangan tamu bulananku Mas, aku bahkan kecewa ini adalah malam pertama kita." ucap Lexi lesu, ia bahkan menghela nafasnya.
"Kau sedang haid?" tanya Kahfi kembali, ia ingin memperjelas, takut pendengaraannya keliru.
"Hu'um."
"Lalu mengapa Ayang keramas Hemm?" Kahfi menghentikan gerakannya, dengan sangat ringan Kahfi menyelinapkan kedua tangannya di ketiak Lexi, dan dengan sekali gerakan Lexi sudah berpindah kepangkuan Kahfi. Persis seperti mengangkat seorang anak kecil begitulah Kahfi melakukannya.
Lexi tercengang, antara gugup, malu serta salah tingkah. Ia tak menduga jika Kahfi akan bertindak demikian padanya.
"Apa?"
"Mengapa Ayang keramas? Katanya sedang datang bulan!"
"Karna aku bau dan berkeringan rambutku juga lepek dan tak nyaman."
"Ay, dengerin Mas ya, yang sudah berlalu tidak papa. Tapi jika Ayang tengah berada di antara masa haid jangan keramas, memotong kuku ataupun menyisir rambut. Karna itu tidak di anjurkan dalam agama kita, tentu saja islam memiliki aturan yang baik dan lengkap." Kahfi menjelas apa saja larangan bagi orang yang tengah berada dalam masa haid, sampai Lexi terlihat takjub mendengarkannya.
"Sekarangkan Ayang sudah tau jadi jangan di ulang ya." Lexi mengangguk patuh.
Mendengar kata begituan Kahfi tiba-tiba merasa gerah, juga dengan celananya yang tiba-tiba merasa sesak dan seakan menyempit. Tapi Kahfi tidak boleh mengabaikan pertanyaan dari istrinya, ia wajib memberikan pemahaman pada istrinya itu.
"Ada enam hal yang di wajibkan melakukan manji besar, sebelum melakukan shalat dan ibadah lainnya yang mengharuskan suci dari kedua hadats besar dan hadats kecil. Sebelum membahas hadats besar, apa kau tau apa itu suci dara hadats kecil?"
"Ya Mas aku tau, hadats kecil kita harus mempunyai wudhu, aku sudah tau jika di bab wudhu tentang cara berwudhu dengan benar dan apa saja yang dapat membatalkan wudhu." ungkap Lexi, Lexi juga menyebut empat hal yang membatalkan wudhu dengan benar.
"Wah, istriku pandai sekali." puji Kahfi. Ia mendaratkan kecupan di pipi gadis itu sampai Lexi merona layaknya tomat siap panen.
"Baiklah kita bahas hal yang di wajibkan mandi besar." ucap Kahfi.
"Yang pertama adalah Haid, setelah haidmu selesai kau di wajibkan mandi besar di sertai niatnya." Kahfi mengucapkan niatnya lalu kemudian cara dan sunahnya mandi besar.
"Ingat, di sunahkan berwudhu terlebih dahulu sebelum mandi besar. Dan utamakan membasuh seluruh tubuh di mulai dari sebelah kanan." Kahfi mengelus rambut istrinya.
"Oh ada niatnya. Selama ini aku hanya mandi keramas biasa tanpa memperhatikan hal-hal lain. Ya Allah seawam itu diriku." ucap Lexi pelan. Ia memainkan kancing koko suaminya yampai terlihat oleh kedua matanya bahwa jakun Kahfi naik turun.
__ADS_1
"jika kau tidak tau tidak papa, tapi karna kau sudah tau perhatikan dan lakukan okay." Kahfi memencet pelan hidung mungil istrinya.
"Yang kedua apa Mas?"
"Yang kedua Wiladah, apa itu wiladah? Wiladah adalah darah yang keluar berbarengan atau sesaat ketika melahirkan. Itu juga di wajibkan mandi besar, meskipun di jaman sekarang itu sudah jarang di lakukan karna menurut medis wanita yang baru selesai melahirkan tidak dianjurkan mandi sebelum enam jam karna dapat berpengaruh pada kesehatang sang ibu." Lexi mengangguk paham tapi ia tetap ingin bertanya.
"Lalu apa boleh hal itu di lakukan Mas?"
"Tentu saja. Islam adalah agama yang penuh keringanan dan pengertian setiap hal ada aturannya masing-masing."
"Aku semakin bangga karna telah memeluk agama islam." ujar Lexi. "Lalu apa yang selanjutnya?"
"Yang ketiga adalah wanita nifas."
"Ya, aku soal wanita nifas, dan jarak sucinya mas, plaing sedikit satu hari, normalnya empat puluh hari, dan paling banyak enam puluh hari. Dan setelah itu wanita nifas wajib mandi besar dan kembali wajib melaksanan shalatkan?"
"Ya kau benar. Ay,"
"Yang ke empat apa Mas?"
"Yang ke empat adalah orang junub. Ehem, Kahfi berdehem sejenak, ia malu-malu saat hendak menjelaskannya."
"Junub? Seperti apa? Jika ini aku belum mengerti."
"Junub, Em, aktifitas sek sual. Kau mengerti itu?" Wajah Kahfi bahkan sampai memerah saat mengatakan itu.
"Ya aku mengerti, maksudnya bercintakan." Ya Tuhan Lexi pakai di perjelas segala.
"Ya bercinta, tapi jika sudah masuk, kalau sebelum masuk tidak papa, misal masih pemanasan pegang-pegangan atau cium-ciuman tidak di wajibkan mandi besar. Tapi jika sudah masuk meskipun belum keluar tetap harus mandi besar." ujar Kahfi cepat ia tidak ingin Lexi bertanya kali ini.
Bahkan Kahfi langsung memangkas yang kelima.
"Yang ke lima keluar maani, baik di laki-laki maupun perempuan keduanya di wajibkan mandi besar. Sekalipun tidak melakukan hubungan intim jika mendapati hal demikian tetap di wajibkan mandi besar." ucap Kahfi.
"Yang ke enam orang yang sudah meninggal, maka orang yang masih hidup di wajibkan memandikan jenajahnya. Sudah ya nanti Mas lanjut, jika ada pertanyaan nanti saja. Sebentar lagi maghrib, mas harus kemesjid." Kahfi menurunkan Lexi dari pangkyannya dan bergegas mengambil sejadah serta memakai peci hitamnya.
"Mas berangkat. Assalamualaikum."
__ADS_1
Kahfi sedikit berlari takut Lexi bertanya macam-nacam tentang poin keempat dan kelimanya. Mengingat Lexi sangat di penuhi dengan tingkah randomnya.