
Mau seperti apa cara Berlian mendekati Ghaza tetap saja pria itu kokoh tak tersentuh.
"Bu, aku mohon sama ibu tolong bujuk Ghaza agar mau menikahiku juga. Ibu kan ibu kandungnya pasti Ghaza akan mendengarkan ibu. Ghaza adalah anak yang baik ia pastri takan membantah ucapan ibu." Berlian berusaha menghasut ibu sambunnya dari berbagai sisi, sungguh ia sangat mencintai Ghaza.
Ayudia terdiam cukup lama Ghaza memang putranya yang baik tapi ia yakit putranya itu tak akan goyah sepertinya daripada membuat Kayla terluka Ghaza akan lebih memilih melukai dirinya sendiri.
"Ibu tak ingin memiliki cucu kah?" Berlian mencoba menyerang sisi feminim ibu sambungnya.
"Bukan tak ingin Lian, ibu hanya tak bisa memaksa Ghaza Ibu mengenalnya dia tak mungkin menuruti siapapun jika itu berkaitan dengan istrinya." Ayudia menekankan setiap katanya berharap Berlian akan mengerti.
"Ibu tak akan tau jika tak mencobanya!" Berlian masih bersi keras.
Mencoba untuk kembali di benci putranya? Ayudia tsk ingin mengambil resiko seberat itu. Ia lebih baik kehilangan apapun dari pada Ghazanya kembali menderita apa lagi karna campur tangannya, sungguh Ayudia tidak sekejam itu. Cukup di masa lalu saja Ayudia melukai batin dan fisik putranya tidak untuk kali ini.
Ghazanya sangat malang tumbuh tampa belas kasihnya apa lagi seorang ayah. Seorang anak yang terlahir tanpa ikatan pernikahan tentu saja hari-hari yang di lalui Ghaza tidaklah mudah tapi Ayudia sangat bangga dengan putranya. Ghaza mampu berdiri di kakinya sendiri. Menjadi pria bertanggung jawab juga amat memulyakan istrinya.
"Bu aku sakit, dan ingin menikah dengan Ghaza. Ibu kan bisa berbohong sedikit, mengatakan jika aku sakit parah dan permintaan terakhirku adalah menikah dengan Ghaza. Tak masalah jika nanti Ghaza akan menceraikanku. Aku hanya ingin memiliki Ghaza sesaat saja Bu." Barlian menggoncang bayu ibu sambungnya yang berdiri tepat di hadapannya.
"Berlian, Ibu yakin sekalipun kau tengah sekarat atau bahkan mati Ghaza tak akan menoleh ke arahmu. Pengaruh Kayla di hidup Ghaza sangat dahsyat, Ghaza tidak dapat tergoyahkan." Ayudia bahkan kehilangan kesabaran saat berbicara dengan putri tirinya.
"Nak berhentibmencintai seorang diri. Ibu tau bagai mana rasanya. Sakit dan lelah bukan?"
"Jika ibu tau harusnya ibu bisa mendukungku." Barlian pergi meninggalkan kamar ibu tirinya.
Entah mengapa akhir-akhir ini juga Ayudia sering kali tak enak badan, tubuhnya sering kali terasa lemah dan kerap kali terserang demam, meski begitu Ayudia tak ingin merepotkan putranya, ia cukup memanggil dokter kerumahnya atau minta di antarkan supirnya untuk kerumah sakit. Daya tahan tubuhnya yang menurun tidak di jadikan alasan oleh Ayudia untuk mengekang putranya
Berlian kehabisan rencana, saat Ibu Ayudia tidak enak badan diam-diam Berlian mengirimi Ghaza pesan dengan ponsel ibu sambungnya mengatakan jika ia sangat sakit dan merasa tak kuat. Padahal yang sebenarnya terjadi Ayudia hanya meriang biasa bahkan ia sudah meminum obat yang di berikan dokter padanya.
Seoarang anak mana yang akan diam saja saat di kabarkan ibunya tengah sakit, padahal jam sudah menunjukan pukul satu malam.
Berlian bersorak gembira saat laporan di ponsel ibunya menunjukan jika pesannya telah di baca oleh Ghaza. Ia mulai melakukan rencananya.
Pesan itu masuk malam hari, bahkan bisa di katakan pagi hari karna pesan itu Ghaza terima pukul satu pabi lebih sepuluh menit.
Ghaza yang tak tega membangunkan istrinya akhirnya hanya pamit menggunakan kertas memo, memberitahukan jika ia melihat ibunya yang tengah sakit.
Sepanjang perjalana Ghaza di buat khwatir tentang ke adaan ibunya.
Saat sampai pun Ghaza tak memikirkan apapun selain ibunya. Juga Kayla. Istrinya itu selalu egois meskipun Ghaza tengah memikirkan ibunya tapi pikiran tentang Kayla tak bisa ia lenyapkan.
__ADS_1
Ghaza di sambut oleh Ujang tukang kebun yang bekerja di rumah ibunya.
"Jang bagai mana keadaan ibuku?"
"Sudah lebih baik Tuan tadi sudah di periksa dokter."
Ujang mengekori langkah anak majikannya menuju kamar ibu Ayudia, dia menekan sandi intu kamar ibunya.
Ghaza mendapati ibunya tengah terlelap, Ghaza meneriksa suhu badan ibunya ia bersyukur karna suhu tubuh ibunya normal. Dan meski begitu Ghaza mencoba membangunkan ibunya yang terlelap dengan sangat nyenyak.
"Ibu."
"Ibuu."
Beberapa kali Ghaza memanggil dan mengguncang pelan tubuh ibunya, wanita itu tak bangun sama sekali.
"Mungkin nyonya baru terlela Tuan Muda."
"Sepertinya iya."
Di atas nakas terdapat dua botol kecil air mineral dan segelas air putih. Ghaza meraih dua botol air itu untuk ia tenggak sendiri dan yang satu ia berikan pada Ujang.
Tidak hanya salah satunya Berlian mencampur kedua obat itu dengan obat tetes Via gra, yang bertujuan untuk meningkatkan fitalitas atau libi do seseoran untuk melakukan hubungan in tim.
Pada dasarnya, obat seperti sildenafil, atau tadalafil, meski sering dikenal sebagai obat perangsang, sebenarnya hanya ditujukan untuk membantu para pria yang mengalami masalah disfungsi ereksi. Obat-obatan itu tidak akan berfungsi jika penurunan gairah seksual atau libido disebabkan oleh faktor lain yang belum teratasi, seperti masalah psikis (kecemasan, depresi), akibat menderita penyakit tekanan darah tinggi, atau komplikasi dari diabetes.
"Tuan saya undur diri dulu, sepertinya saya belum mandi." Ujang merasa efek obat sepertinya ia merasa kegerahan. Begitu juga dengan Ghaza, pria dewasa itu memutuskan untuk keluar dari kamar ibunya dan otomatis kamar ibunya langsung terkunci.
Ghaza menyadari sesuat yang tak wajar pada tubuhnya. Tiba-tiba saja Hasrat kelelakiannya menjadi-jadi, ia menginginkan istrinya sekarang.
Ghaza harus pulang sekarang.
Keringat sudah membanjir pada diri Ghaza. Pakaiannya sudah basah. Ia mencoba membuka pintu-pintu yang sialnya terkunci entah sejak kapan. Semua akses di rumah itu mengunakan tralis besi sehingga Ghaza kesulitan melarikan diri.
Pusat gairahnya sudah On sejak tadi. Ghaza benar-benar merasa ke panasan. Air ia butuh air untuk mendinginkan kepala dan tubuhnya.
Saat Ghaza hendak memaduki kamar mandi Berlian menghampirinya memakai pakaian yang mirip jaring ikan. Nah baru Ghaza sadari ini sudah di rencanakan rupanya.
"Butuh bantuanku?" ucap Berlian menggoda. Berlian sangat percaya diri tubuhnya yang elok pasti mampu meluluhkan Ghaza.
__ADS_1
Pria itu menatap jijik dan meludah.
Cuih.
"Dasar murahan!"
Tubuh kekar Ghaza yang berkeringat tampak mengkilat di antara sorotan lampu yang remang-remang, karna lampu utama memang sudah mati.
Justru hal itu semakin terlihat seksih di mata berlian Ghaza menyingsing lengan kemejanya yang malah terlihat keren di mata Berlian. Juga dengan dua kancing pria itu yang terbuka di antara dada kekarnya. Rambut Ghaza juga tertlihat acak-acakan dan lembab. Sangat tampan dan menggairahkan.
Ghaza berniat membuka kamar mandi untuk mengurung dirinya. Tapi sial kamar mandi itu di kunci, dan Ghaza yakin ini pasti ulah Berlian.
"Jahanam Kau!" Ghaza berteriak lantang.
Akhirnya Ghaza mencoba membuka kamar lain satu persatu, tapi sayang semua terkunci. Ghaza menuju dapur ia mengguyur kepalanya dengan air dari wastafel, semoga saja dengan ini kepalanya mendingin.
"Air saja tak akan menyembuhkan hasratmu Mas, datanglah padaku. Dengan suka rela aku berserah diri."
"Najis mugholadhoh aku harus mendatangimu. Aku lebih memilih mati."
"Maka matilah. Dosisnya memang tinggi Ghaza, tak ada sesiapapun yang bisa menolongmu selain aku."
Berlian mendekatkan diri ke arah Ghaza. Pengaruh obat pandangannya berubah menjadi di penuhi Kayla.
"Astaghfirullah."
"Astaghfirullah."
Berkali-kali Ghaza menyadarkan dirinya tapi hasratnya sangat besar.
Ghaza layaknya seorang yang kehilangan akal.
"Kayla."
"Kayla."
Berlian semakin mendekat dan hendak menanggalkan pakaniannya sendiri.
"Kau masuk perangkapku Ghaza." Berlian tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1