Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Nama Asing Di Do'a Kahfi


__ADS_3

Kahfi dan Lexi berada di kamar yang sama, dengan lampu yang temaram karna lampu itama kamarnya sudah Kahfi matikan.


Lexi di buat salah tingkah dengan keadaan kali ini, yang dimana ia merasa serba salah mau bertingkah bagai mana.


"Ay." Kahfi memanggil istrinya, mendekat dan meraih tangan istrinya.


"Ya ada apa?" suara lembut Lexi selembut beledu, membuat Kahfi seketika meremang oleh tingkah gadisnya.


"Aku ingin membahas sesuatu denganmu, apa boleh?" Kahfi berucap pelan tatapan teduhnya seakan menenggelamkan manik Lexi.


"Tentang apa?"


"Tentang bayi." ucap Kahfi kembali, mampus! Belum juga belah duren prianya sudah membahas bayi, di mana-mana prosesnya dulu jangan membicarakan hasilnya.


Duh halal gak sih perkosah laki sendiri. Lexi mendesahkan nafasnya pasrah.


"Maksud Mas, kita perlu merencanakan segala sesuatu dengan matang dan terencana." Kahfi mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.


"Mas boleh tidak jika kita menunda memiliki anak? Mungkin selama setahun, aku ingin menikmati masa-masa bersama dirimu." Lexi mencoba menebak apa yang akan di katakan Kahfi padanya.


Tanpa di duga Kahfi mengangguk setuju. "Tidak masalah, kita memang harus memiliki waktu yang berkualitas untuk bersama, satu sampai dua tahun misalnya!" Kahfi setuju.


Kahfi tiba-tiba memeluk istrinya dengan erat, membaui lekuk leher Lexi yang jenjang.


"Mas, aku tengah datang bulan."


"Astaghfirullah. Mas lupa" Kahfi menggosok wajahnya frustasi, kecewa tentu saja. Malam yang ia nantikan takan terpenuhi malam ini nampaknya tingkat kesabarannya harus ekstra di pertebal, ia harus masih berpuasa diantara status barunya sebagai seorang suami.


"Maaf."


"Aku tidak Papa. Ya sudah lebih baik kita tidur saja." Kahfi merebahkan tubuhnya dan menarik tubuh Lexi kedalam pelukannya.


"Kau pernah menjalin hubungan dengan seseorang?" tiba-tiba Lexi mendongan dan bertanya.

__ADS_1


Kahfi diam. Matanya jauh menerawang tentang masalalunya, ingatannya kembali di tarik mundur pada waktu empat tahun yang lalu, yang dimana kala itu ia menjalani hubungan tanpa setatus pada seorang gadis. Gadis yang umurnya sama dengan dirinya, Kahfi pernah melamar seorang gadis tapi lamarannya di tangguhkan gadis itu. Dengan alasan tak ingin menikah muda, gadis itu melanjutkan pendidikannya di negara perancis sana.


Gadis bernama Zahra itu meminta waktu tiga tahun untuk menunggunya, tapi meski sudah empat tahun berlalu gadis itu tak juga muncul apa lagi memberikan jawaban atas lamarannya tempo hari.


Kahfi tidak menginformasi lebih lanjut tentang Zahra, tidak pula mengakhiri apapun karna mereka tidak pernah memulai apapun selain pertemanan. Meski tidak Kahfi pungkiri kadang nama wanita itu ia selipkan dalam do'anya. Dan setelah beberapa waktu Kahfi hampir melupakannya karna kehadiran Lexi, nama itu kembali muncul di antara perbincangannya dengan Lexi.


"Mas."


"Mas." beberapa Lexi memanggil Kahfi, pria itu masih membisu dengan gambaran masa lalunya sampai Lexi mengguncang pelan dadanya, fan membuat Kahfi tersentak.


"Ya, ada apa?"


Lexi menyadari hal tak beres yang terjadi pada Kahfi, tapi ia memilih bungkam dan diam. Ini masih terlalu awal untuknya mengorek informasi lebih jauh dari pria yang baru menjadi suaminya.


"Tidurlah ucapnya Kahfi lirih." pria itu mengecup kening istrinya ia tak menjawab pertanyaan Lexi tentang masalalunya yang mana membuat Lexi di buat gamang akan bungkamnya Kahfi.


Apakah Lexi sudah menikah dengan seorang pria yang belum selesai dengan masalalunya. Meski Lexi memejamkan matanya lain halnya dengan isi otaknya pikirannya berlarian entah kemana. Bayangan tentang Kahfi memperlakukan wanita sangat lembut sukses membuatnya panas dingin.


Tengah malam Lexi terbangun dari tidurnya, sebenarnya bukan tengah malam sekitar sepertiga malam mungkin karna jam di dindingnya, menunjukan pukul setengah tiga malam.


Tapi tiba-tiba hati Lexi terasa di tikam belati saat ada nama lain yang di sebut suaminya di malam pertama pernikahan, Lexi tidak mungkin salah mendengar Kahfi menyebut nama Zahra di antara kicauan dan aduannya pada penciptanya.


"Lindungi Zahra Ya Allah dimanapun ia berada." gunaman itu terdengar tulus dan tanpa paksaan.


Hilang sudah rasa bahagia yang membuncah sedari tadi. Banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepala Lexi, tentang siapa Zahra? Ada hubungan apa suaminya dengan nama itu, nama yang di sebut suaminya dalam salat malamnya berhasil memporak puorandakan kekaguman Lexi pada suaminya.


Apakah sikaf lembut Kahfi hanya kamuplase, atau semacam penyamaran belaka?


Lalu bagaimana tentang pengakuan cinta pria itu jika ada nama wanita lain di belakangnya?


Pada siapa Lexi harus bertanya mengenai nama Zahra yang mendadak Lexi benci sekarang.


Apakah Lexi tertipu oleh perangai yang Kahfi tunjukan?

__ADS_1


siapa pula yang akan menyalahkan siapa? Lagipula siapa yang mengetahui isi hati seseorang?


Lexi terisak pelan dalam diamnya, ia menangis tergugu. Sungguh ia tak menyangka Kahfi mampu menorehkan luka di hatinya yang selalu lemahnya di hadapan pria itu.


Kahfi menyudahi dzikirnya. Ia mengambil Al-quran dan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdunya.


Pria itu tidak menyadari sama sekali jika wanitanya menangis.


Tenggorokan Lexi terasa kering ia butuh minum, dengan perlahan Lexi turun dari ranjangnya mengambil bergonya dan keluar tanpa di sadari oleh Kahfi yang tengah khusu melantunkan ayat suci.


.


"Rambutmu tak basah!" Ledek Kahfa yang berpas-pasan dengan Lexi di dapur, yang tengah menenggak minumnya.


Kahfa langsung diam saat menyadari mata Lexi yang sayu juga terdapat sisa-sisa air mata di sana.


"Apa Kahfi impoten?" tiba-toba saja pernyataan itu tercetus dari mulut Kahfa dengan penuh rasa ingin tahu.


"Kamu nanyeaa? Kamu bertanyeaa-tanyeaa."


"Apa tak ada pertanyaan yang lebih sopan dari ini?" Lexi mencebikan bibir, menaruh gelas dengan kasar.


"Aku hanya menebak, dan sepertinya tebakanku benar. Percuma nikah bikin anak kagak bisa." Kahfa tertawa renyah meledek adik iparnya.


Yang mana membuat Lexi semakin meradang karna emosi juga hormon datang bulannya.


"Ga usah sok pinter, laku saja belom."


"Yah ga papa lah ya belom laku juga dari pada udah nikah eh, ga MP kan aneh." Kahfa semakin tertawa terbahak puas hati ia berhasil membuat Lexi kesal.


"Abang." panggil Lexi pelan. Ada apa nih? Mengapa bisa adik iparnya menggunakan mode menggemaskan seperti ini.


Untuk pertama kalinya Lexi memanggil Kahfa dengan sebutan Abang sama seperti Kayla dan Kahfi, padalah biasanya gadis itu memanggil Kahfa dengan sebutan Gus.

__ADS_1


"Ada apa?" Kahfa mendengus.


"Kau mengenal wanita yang bernama Zahra?"


__ADS_2