
Kayla masih kesal dengan perlakuan Gus Ghaza tapi meskipun seperti itu ia akan mengerjakan hukumannya selepas subuh manti.
"Tae, semoga saja kau jodohku, aku menyukaimu apalagi jika kau memiliki Tuhan yang sama denganku. Aku ingin menghancurkan tembok pembatas antara kita." Kay mengecup album kekasih halunya ia mulai terlelap dengan memeluk potret idol favoritnya.
Ridwan yang hendak mengecek keadaan putrinya tertegun saat melihat Ghaza terduduk di ruang tengah dengan mata yang menatap langsung kearah pintu kamar adik angkatnya.
"Kau sedang apa?" Ridwan menepuk pundak anak angkatnya, Ghaza langsung terhenyak karna terkejut.
"Aku, aku." Ghaza tergagap, bingung harus menjawab apa, ia seakan maling tertangkap basah oleh pemilik rumah.
"Kau sedang mengawasi Kay?" Tanya Ridwan tepat sasaran.
"Aku hanya khawatir padanya, sejak tadi dia tidak keluar kamar, aku takut terjadi sesuatu padanya." Ghaza tertunduk setelah mengakui kekhawatirannya. Meskipun Ghaza terlihat dingin dan tertutup, tidak memperdulikan hal di sekitarnya. Tapi kedalaman anak itu sangat hangat dan perhatian. Hanya Ridwan saja yang memahami anak itu.
"Jika kau khawatir, kenapa kau tak masuk ke kamarnya untuk memastikan keadaannya?" pancing Ridwan lagi, ia ingin tau sejauh apa anak itu menerapkan aturan dalam hidupnya.
"Sebenarnya, aku ingin sekali memastikan keadaannya di dalam sana, tapi aku tidak segila itu Yah, dia bukan mahramku meskipun aku menyayanginya aku tak ingin Tuhanku marah saat aku bertindak bodoh." Ghaza masih menatap pintu kamar Kay.
"Aku juga menghormati Ayah dan Ibu."
__ADS_1
"Kau tetap kakaknya, aku percaya itu." ucapan Ridwan seakan menyadarkan Ghaza jika sampai kapanpun
"Mau memastikan keadaannya dengan Ayah?" Ridwan menawarkan.
Ghaza berbinar saat mendengarnya. "Iya Yah, aku mau." Ghaza langsung berdiri dari duduknya.
Keduanya memasuki kamar Kay yang kuncinya di buka oleh Ridwan.
Kay tidur tanpa selimut ia terlihat meringkuk memeluk potret kekasih halunya.
"Astaghfirullah Kay." Ridwan meraih potet itu dari pelukan putrinya.
Ridwan menyelimuti putrinya dan mencium kening Kay dan kepalanya bergantian.
Rambut hitam nan panjang itu terurai menutupi sebagian wajahnya. Ghaza menatap takjub tubuh yang meringkuk di hadapannya. Ghaza mematung menikmati tubuh mungil itu dengan rambut indah. Ingin sekali Ridwan ikut terbaring.
Dalam hati Ghaza tersimpan rasa iri saat kakak kembar Kay memeluk dan mencium wajah gadis itu. Ghaza ingin melakukan hal yang sama tapi ia mrnahannya sehingga Kayla lah yang kadang memeluk dan mengecup pipinya dulu, tapi itu sudah lama terjadi di saat Ayahnya melarang gadis itu untuk melakukan hal sama padanya.
Kayla adalah gadis yang ekspresif dimana dia selalu mengungkapkan hal yang ia rasa dengan perbuatannya.
__ADS_1
Ghaza hanya melihat Kay tanpa berani menyentuh ataupun mendekati adik iparnya, baginya hanya dengan seperti ini ia sudah tenang. Terkutuklah ia sebagai saudara yang kadang tak bisa mengendalikan hasratnya sehingga ia memilih untuk menjauh dan menjaga jarak dari Kayla.
.
Setelah shalat subuh Kayla tak memasuki kelasnya, di saat semua santri tengah mengaji Al-quran bersama di mesjid dirinya tengah kepayahan membersihkan toilat pria, sebagai bentuk ia patuh pada perintah ustadznya.
Sampai pagi menjelang, saat semua santri telah kembali ke asrama, begitu juga dengan Ghaza. Gus tampan itu menghampiri Ibunya yang tengah membuat sarapan.
"Bu, dimana Kay? Apa dia belum bangun?"
"Dia sudah bangun dari tadi. Setelah Shalat subuh di mesjid ia belum kembali pulang. Sepertinya dia mengaji di mesjid." jelas Kimmy.
"Tidak ada Kay saat tadi tadarush, aku pikir Kay tidak kemesjid karna kedatangan tamu bulanannya." Ghaza bingung sendiri, kemana perginya adik angkatnya itu.
"Yah, apa kau melihat Kay?" Kimmy bertanya pada suaminya dan memberikan secangkir teh hangat pada pria itu.
"Tidak. Tapi sepertinya Kay tengah mengerjakan hukumannya." Ridwan menyeruput pelan tehnya, setelah mengatakan jawabannya.
"Benarkah?" tanya Ghaza tak percaya.
__ADS_1
"Aku lebih mengenal putriku dari siapapun." Ungkap Ridwan bangga. "Jika kau tidak percaya. Kau boleh mengeceknya sendiri." Ridwan meletakan cangkirnya di atas meja, dan menuntun anak angkatnya untuk mencari keberadaan putrinya.