Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Siapa?


__ADS_3

"Aku lelah Mas, aku ingin tidur lagi."


"Ya tidurlah."


"Mas kok semalem Mas berisik banget sih? Hah, hah-hahan mulu. kalo irang lain denger gimana?" Lexi tiba-tiba bertanya hal semalam, ia menyuruh suaminya untuk diam atau memelankan suaranya. Tapi Kahfi malah mengatakan jika Lexi tak mengerti. apanya yang tidak mengerti Lexi juga merasakan hal yang sama saat itu.


"Ga kuat sih Ay, enak banget." Kahfi cengengesan seperti tupai.


"Kalo ada yang denger malu Mas, rusuh amat malam pertama."


Kahfi tertawa ia juga heran mengapa mulutnya berisik sekali saat melakukan maju mundur? Apa ia memiliki kelainan pikir Kahfi. Lantas pada siapa Kahfi akan bertanya? Malulah masa bertanya masalah gituan sama orang lain.


"Gak bakalan ada yang denger kamar ini kedap suara. sengaja Mas setting agar bisa teriak kencang-kenceng." ucap Kahfi pada akhirnya.


"Mas aku tidur lagi ya?"


Ya. Lexi menaiki ranjang dan mulai berbaring di susul oleh Kahfi, ia juga sama lelahnya karna dengan Lexi, sepertinya ia juga butuh tidur.


Kahfi memeluk tubuh mungil istrinya. Menyembunyikan tubuh ringkih itu dengan balutan tubuh kekarnya.


"Mas mau tidur juga?"


"Iya Ay, mas juga lelah."


Baik Kahfi maupun Lexi melewatkan sarapan mereka. Kahfi terbangun saat matahari sudah meninggi. Tapi ajaibnya tak ada yang membangunkannya dan Lexi, padahal biasanya ibu Kimmy pasti akan menggedor kamar mereka jika waktu sarapan tiba.


"Aku tak ingat ada yang membangunkan, apa karna aku terlalu lelap tertidur atau Ibu memahami situasi." Kahfi memasuki kamar mandi dan membasuh wajahnya.


"Ay, bangun kita harus makan sayang." Kahfi mengguncang pelan tubuh Lexi yang terlelap. Tapi Lexi tak bergeming sepertinya istrinya benar-benar kelelahan.


Kahfi beranjak keluar, perlahan menuruni tangga dengan bersholawat kecil, ia merasa sudah menjadi pejantan tangguh karna membuat istrinya berteriak menyebutkan namanya.


Kahfi juga merasa lucu saat mengingat Lexilah yang memulai panjang mereka, dalam artian istrinyalah yang sudah memper kosahnya. Adakah yang lebih aneh dari malam pertama yang mereka lalui. Dalam hati ia bertanya apakah Kayla adiknya melakukan hal yang sama? Mengingat sifat keduanya sebelas dua belas.


"Gila kau senyum-senyum sendiri!" Kahfa seenak jidatnya nyeletuk di depan ruang keluarga. Sepertinya pria itu tengah menikmati teh di siang hari.


Di luar rumah terdengar hiruk pikuk suara para santri dan santri wati sepertinya mereka tengah bergotong royong untuk membersihkan seluruh penjuru pondok.


Ya jika weekend seperti ini para santi akan membersihkan halaman, parit dan semua yang berada di wilayah pondok.


Santri yang ada jumlahnya tidak sebanyak dahulu, hanya tinggal beberapa dari daerah jauh sedang sisanya dari sekitaran kota itu. Sepertinya kejayaan pondok pesantren ini sudah berkurang. Ridwan pun sebagai penerus pondok juga di sibukan dengan hal-hal lain.


"Bang Ayah ibu kemana?" Kahfi mengubah topik.

__ADS_1


"Ayah sedang mengawasi para santri gotong royong." Kimmy mendekat dengan nampan berisi dua cangkir teh dan kue kering.


"Bu aku lapar, aku ingin makan dulu ya?"


"Mari ibu temani." Kimmy kembali beranjak menemani putranya kemeja makan, nampan yang ia bawa kembali ke dapur, begitu juga dengan Kahfa. Pria berkursi roda itu turut mengikuti adik dan ibunya.


Kahfi layaknya orang yang tidak makan selama berminggu-minggu, tenaga dan energinya di kuras habis dengan aktifitas semalam. Kahfi bahkan sampai menambah dua kali makanannya membuat Kimmy akhornya bertanya.


"Laper banget Nak?"


"Ya Bu." jawab Kahfi di tengah kunyahannya.


"Dinasmu yang lain sukses?" tanya Kahfa datar.


"Uhuk-uhuk." Kahfi di buat terbatuk-batuk.


"Bang." tegur Kimmy.


"Ibu tau? Kahfi shalat di rumah sepertinya gantian mukena sama istrinya."


"Abang berhenti meledek adikmu. Kau juga nanti akan merasakannya sendiri setelah menikah." tutur Kimmy, ia paham ke arah mana ledekan putra sulungnya.


Kahfa bungkam di kala ibunya sudah berkata demikian ia memilih untuk diam, dari pada Kimmy memutuskan mengenalkannya dengan gadis lain. Dua kali Kahfa di langkahi menikah oleh adiknya cukup membuatnya trauma juga rasa percaya diri yang memudar. Tidak adakah wanita yang sesuai kriterianya.


Saat membuka pintu Kahfi melihat Lexi tengah mencari sesuatu di antara laci nakasnya.


Kahfi meletakan nampan di atas nakas samping tempat tidur.


"Ayang cari apa?"


"Itu loh Mas, Aku mencari pil kontrasepsi aku terlupa tidak meminumnya semalam." Lexi terlihat panik karna pil itu tidak ia temukan.


"Ayang belum minum pilnya?"


Lexi mengangguk. Ia tersenyum saat menemukan sesuatu yang ia cari dan langsung mencongkel isi kecil berwarna putih itu.


"Ay lebih baik jangan di minum dulu pilnya sebelum Ayang datang bulan." Kahfi segera meraih obat itu dan ia gengang di jemari panjangnya.


"Kenapa?"


"Abang khawatir semalam pembuahannya berhasil, tak baik untukmu dan calon anak kita jika memang pembuahannya berhasil."


"Ya Allah aku lupa Bang, aku benar-benar ceroboh. Bagaimana jika aku hamil?" tanya Lexi cemas, sebelumnya mereka sudah berdiskusi akan menunda kehamilan satu atau dua tahun pertama di awal-awal pernikahan. Tapi karna kecerobohannya Lexi menjadi parno sendiri.

__ADS_1


"Jika Ayang hamil tidak papa. Stukuri saja, anak itu rejeki. Jika belum tidak masalah. Udah ya jangan terlalu di pikirkan, biarkan semuanya mengalir seperti air. Jangan merasa terbebani dengan hal apapun. Lebih baik Ayang makan dulu." Kahfi menyuruh istrinya duduk di sopa kamar dan ia beralin mengambil makanannya.


Kahfi memperhatikan bagaimana cara Lexi berjalan yang justru semakin lucu menurutnya.


"Ay jalanmu lucu. Kaya pake terompah. Atau seperti zombie." Ledek Kahfi, pandai juga ternyata ia menggoda istrinya.


"Bang, di sini kaya ada yang ganjel sampai sekarang."


Hahaha


Kahfi terbahak.


"Mungkin karna belum terbiasa itu sebabnya kita harus sering-sering melakukannya biar terbiasa."


"Ih Ayang."


Hening.


Lexi pokus pada makanannya, sedangkan Kahfi tengah mengecek email di laptopnya ada beberapa email yang masuk tapi sudah terhapus, padahal seingatnya ia tidak melakukannya. Lalu siapa yang menghapusnya bagai mana jika email itu penting.


Kahfi tidak langsung bertanya pada istrinya. Ia membiarkan istrinya menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Tapi ia menduga jika Lexilah yang menghapusnya beberapa waktu lalu Lexi menggunakan ponselnya.


Setelah memastikan Lexi menyelesaikan makannya Kahfi mulai bertanya.


"Ay, apa Ayang menghapus email masuk Mad?" tanya Kahfi penuh selidik, Kahfi memincingkan mata meneliti Lexi yang kini terlihat gugup.


"Aku, aku ... Ya, aku menghapusnya Mas." ucap Lexi pelan.


"Kenapa?" Kahfi masih bertanya lembut, ia tak akan bisa berkata kasar apa lagi terhadap istrinya.


"Karna aku tak nyaman."


"Apa yang membuatmu tak nyaman?"


"Isi email itu!"


"Memang apa isinya.?" Kahfi di buat penasaran atas jawaba-hawabang Lexi yang singkat.


"Seorang wanita mengajakmu bertemu dan aku tak suka." Lexi melipat tangan di perut.


"Siapa?"


"Zahra."

__ADS_1


Deggg.


__ADS_2