Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Abang Katarak?


__ADS_3

Setelah menenangkan diri kini Ghaza berada sebuah kursi taman rumah sakit, ia masih mengingat tentang apa yang di takutkan oleh istrinya.


Ghaza sendiri tidak menyakahkan istrinya, wajar saja jika Kayla merasa tertekan dengan apa yang kini menimpa keluarga kecil mereka, poligami adalah momok menakutkan bagi setiap wanita tak terkecuali Kayla sendiri.


"Assalamualaikum ..."


"Wa'aikumsalam warahmatullah ..."


Ayudialah yang datang, ia mendekat dan duduk di samping putranya ia juga mengetahui gurat sedih di wajah putranya.


"Apa kau merasa berhutang pada keluarga angkatmu itu?" Ayudia menyangka jika alasan putranya tak ingin melepas Kayla karna sebagai hutang budi, maka jika iya ia ingin membebaskan Ghaza dari belengggu hutang budi. Ia ingin melihat putranya bebas memilih, lagian seorang ibu mana yang rela menyaksikan putranya harus bersama seorang pesakitan.


"Tentu saja Bu, jika tanpa kemurahatian keluarga Omar, mungkin aku akan menjadi seorang gelandangan di usia belia. Tapi terlepas dari itu semua rasa terhadap Kayla tidaklah terpengaruh oleh itu semua Bu, aku menyayanginya bahkan sedari Kayla bayi. Entahlah terserah Ibu mau menganggapku gila atau apapun, tapi rasa yang ku miliki memang sebesar itu. Sekalipun Kayla atau Ibu menyuruhku pergi aku tak akan melakukannya Bu, hanya atas ijin Allah malaikat Izraail yang bisa memisahkan kami." Ayudia mengerti maksud dari kalimat itu, artinya Ghaza mengatakan jika hanya kematian yang menjadi pembatasnya.


"Jika aku sampai melukainya, itu artinya aku melukai diriku sendiri Bu,"


"Bu, Ghaza tidak tau pikiran Ibu, tapi jika Ibu masih menganggapku putra Ibu, tolong jangan pernah menyinggung apapun tentang istriku, dan lagi jangan menuntut apapun pada istriku." Ghaza menghadap ke arah ibunya, ia ambil tangan ibunya dan ia kecup. "Restui Ghaza akan cinta gila yang Ghaza meliki pada istri Ghaza."


Ayudia balas memeluk putranya. "Tanpa di minta Ibu merestuimu Nak, Ibu tak akan menuntut apapun darinya Ibu janji." Pecah sudah tangis Ayudia di pelukan putranya, ia bersalah cinta putranya pada Kayla tak terukur, lalu bagaimana bisa ia harus mengorbankan putranya demi kata cucu.

__ADS_1


"Terimakasih Bu, sekalipun tanpa anak Ghaza tak akan membagi hati Ghaza, sekalipun ibu marah Ghaza tidak perduli." ungkap Ghaza kembali.


"Iya, Nak lakukan apapun yang membuatmu bahagia."


Dari kejauhan Kahfi mematung menyaksikan serta mencuri dengar percakapan Ghaza dan ibunya, ia salut pada adik iparnya. "Semoga Allah selalu merestui cinta kalian." gunam Kahfi pelan, ia tersenyum bahagia ternyata pilihan orang tuanya memang terbaik. Ia guda mengulum senyum saat mengingat Lexi yang telah sah menjadi istrinya.


Kahfi mendekat, dan setelah mengucapkan salam ia mengatakan jika Kayla ingin bertemu dengan Ghaza.


.


Di ruang rawat inap Kayla hanya ada, Kayla dan Ghaza saja. Sedangkan yang lain sudah pulang sejak tadi karna atas ijin Ghaza.


"A-abang ko duduknya jauh-jauhan sih? Sini lah!" Kayla menepuk ranjang di sebelahnya mengintrupsi agar lelakinya duduk di sebelahnya.


Ghaza mengulum senyumnya, dan menurut permintaan istri menggemaskannya.


"Bang ..."


"Hmm ..."

__ADS_1


"Kay minta maaf! Kay salah." cicitnya pelan.


"Apa salah Kay? Katakan dengan benar!"


"Kay, mengatakan Kalimat yang menyinggung Abang, bahkan Kay menyuruh Abang pergi padahal Kay bisa sakit parah jika Abang benar-benar pergi."


"Tapi jika Abang mau mendua suat saat nanti jangan sampai Kay tau jika tau maka saat itu juga cinta Kay akan berakhir." cerocosnya lagi.


"Abang tak berniat membuat cintamu berakhir, kita akan terus membuat anak. Bukankah perosesnya menyenangkan?" Goda Ghaza, ia tak menanggapi kalimat Kayla yang meragukan cintanya, yang perlu Ghaza lakukan adalah terus membuktikan cintanya pada wanita yang kini di pelukannya.


"Abang bukannya saudari tiri abang cantik?" Tiba-tiba Kayla membahas Berlian, wanita memang pandai mencari penyakit. Ghaza berpikir ini pertanyaan jebakan, salah-salah ia menjawab Kayla akan kembali merajuk.


"Yang paling cantik bagi Abang hanya Kay. Semua wanita di mata Abang terlihat buram."


"Apa Abang katarak?"


Ada saja pertanyaan Kayla yang menggelik bagi Ghaza.


"Ya sepertinya begitu. Hanya kamu yang terlihat jelas di mata Abang."

__ADS_1


"Ish, gombal." Kayla memalingkan wajah dengan pipi yang merona.


__ADS_2