
"Kahfi bagaimana pandanganmu mengenai Lexi.?"
"Aku belum mengenalnya dengan baik Bu. Tapi sejauh ini yang ku amati dia terlihat tengah memperbaiki diri." Ujar Kahfi malu-malu, rona di pipinya selalu muncul tanpa di undang dan penyebabnya adalah sebuah nama, Lexi.
"Kau mengamati sepupumu."
Kahfi gelagapan dengan mata yang membola nyaris keluar, ia bingung harus menjawab apa. Ya Allah Kahfi keceplosan barusan.
"Bukan begitu maksud Kahfi." Kahfi menunduk menyembunyikan wajah malunya.
"Jika Ibu meminang Lexi untukmu apa kau bersedia menjadi imam baginya?" Kimmy benar-benar seterus terang itu pada Kahfi.
Bukan penolakan ataupun mengiyakan secara terang-terangan Kahfi menanggapi kicauan ibunya. Kahfi malah melipat bibirnya dalam-dalam mencoba mengulum senyumnya dengan wajah yang semakin merona.
"Idih. Wajahmu mirip seperti seorang perawan yang di goda seorang pria tampan." Kahfa nyeletuk tiba-tiba tanpa di ajak berbicara.
Kahfi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Apa tidak terlalu cepat Bu?" Kahfi membuang muka malu akan pernyataannya sendiri.
"Maksudku, aku masih butuh mengenal Lexi lebih lama. Tapi aku tidak menolaknya jika Ibu memiliki niat baik untukku." Kalimat Kahfi terdengar ambigu di telinga Kahfa dan Kimmy. Membuat Ibunya menggeram gemas.
Jika tadi Kimmy tidak menyukai jawaban Kahfa yang terlalu jujur dan menyinggunya, kali ini Kimmy tidak menyukai jawaban Kahfi yang di nilainya tidak jelas.
"Katakan yang benar Kahfi jangan membuat ibu berpikir terlalu keras. Kau mengiyakan Ya atau tidak jika Ibu melamar Lexi untukku." Tanya Kimmy tak sabar.
"Iya, Bu jika Lexi mau menikah denganku aku tidak keberatan." Kahfi segera menutup wajahnya karna malu, menggunakan kedua belah telapak tangannya.
"Baiklah. Ibu akan membicarakn ini dengan Ommu. Agar jika ada yang melamar Lexi Ommu tidak langsung menerimanya." Kimmy mengangguk senang.
"Gercep sekali kau!" Cibir Kahfa. "Awas saja kau tidak boleh menikah sebelum aku menikah lebih dulu, aku tak ingin kembali di langkahi menikah untuk adikku. Cukup Kayla saja yang melangkahiku." Kahfa mendengkus tak suka jika adiknya mau melangkahinya.
__ADS_1
"Kau tenang saja Bang. Aku berencana menikah antara satu sampai dua tahun lagi. Jadi kau memiliki kesempatan untuk mencari wanita jelmaan bidadari yang kau impikan." Kahfi kini meledek kakak kembarnya.
"Sialan Kau."
"Kahfa. Nanti Ibu akan meminta Ayah untuk mencari calon untuk dirimu, mungkin Ayahmu memiliki kenalan." usul Kimmy, ia juga tak berniat menikahkan Kahfi sebelum Kahfa menikah lebih dulu.
"Tante sedang apa?" Lexi datang menghampiri ketiganya dengan pakaian baru, karna ia sudah mandi dan mengganti pakaian.
"Tante mau bikin sayur soup, Kay ngidam ingin makan itu." Kimmy menunjukan wortel yang kini tengah ia potong.
"Oh ya di mana Kay, tante?"
"Kay sedang jalan-jalan sama Ghaza Sayang, entajlah ibu hamil itu sangat banyak maunya." Kimmy terkekeh di akhir kalimat. Mengingat bagaimana putri bungsunya sangat manja baik padanya maupun pada Ghaza suaminya. Tawa Kimmy kini menular pada Lexi.
"Tapi aku senang melihat Kay sangat di sayangi suaminya." Aku Lexi terus terang.
"Sini Tante, biar Lexi bantu."
"Tidak usah Sayang, sedikit lagi juga selesai. Lagi pula sebentar lagi adzan Maghrib." Kimmy menahan tangan keponakannya yang hendak meraih pisau di genggamannya.
"Gus Kahfi, ada yang ingin ku tanyakan soal pembahasan tadi di kelas, tadi aku mau bertanya tapi malu takut ketahuan bodohnya. Tapi setelah ku pikir-pikir dan mengingat pepatah yang mengatakan malu bertanya sesat di jalan. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya aku tak ingin menjadi orang yang tersesat. Tidak papa kan aku bertanya di luar jam pelajaran." Lexi sudah menarik kursi dan ikut duduk bergabung dengan sepupu kembar dan tantenya.
"Ya, tidak papa tanyakan saja." Kahfi tersenyum tipis, canggung dan malu bercampur dalam dirinya.
"Aku sudah tidak shalat selama bertahun-tahun. Jadi setelah aku hapal bacaan dan gerakan shalat, aku ingin mengganti shalat yang ku tinggalkan apa boleh Gus Lexi mengqadha shalat yang sudah terlewat.?" Lexi bertanya hati-hati.
"Subhanallah. Maha suci Allah." jawab ketiganya serempak.
"Tentu saja. Lexi, itu adalah niat yang baik." bukan Kahfi yang menjawab melainkan Kahfa.
__ADS_1
"Nanti aku akan menyerahkan buku tuntunan shalat wajib padamu. Serta bagaimana cara mengqadha shalat fardu." rasa bangga dan kagum pada Lexi di hati Kahfi semakin meninggi.
"Terimakasih Gus. Tapi saya juga sudah mendowload tuntunan shalat dan akan memperdalam bacaan dan gerakannya pada Tante Kimmy." sahut Lexi kembali.
Lexi turun dari kursi dan hendak berlalu.
"Mau kemana Sayang?" Kimmy bertanya pada keponakannya.
"Itu tante mau ambil wudhu dan mau bersiap ikut ke mesjid." jawab Lexi.
"Lexi, kau kan sedang datang bulan kau tidak boleh memasuki mesjid dan Shalat, haram hukumnya bagi wanita yang dalam keadaan, haid, wiladah serta nifas untuk melakukan shalat wajib maupun shalat sunat." Ujar Kahfi lembut, sebisa mungkin ia menjelaskan agar Lexi memahami ucapannya.
Alih-alih ikut menjelaskan Kahfa dan Kimmy di buat bertanya-tanya dari mana Kahfi mengetahui jika Lexi tengah mendapatkan tamu bulanannya.
Lexi meringis antara malu pada semua orang karna Kahfi mengetahui jika dirinya tengah haid. Juga dengan rasa penasaran mengapa wanita dalam keadaan haid tidak boleh melakukan ibadah shalat.
"Mengapa wanita haid di larang shalat Gus?" Lexi kembali duduk di atas kursi yang tadi ia duduki.
"Begini Lexi. Wanita itu sangat spesial dan Allah mengistimewa wanita, sehingga Allah memberikan keringanan bagi kaum wanita untuk berlibur shalat saat tengah dalam keadaan haid dan nifas. Bahasa kerennya Allah nemberikan wanita libur untuk shalat saat dalam keadaan seperti itu dan tidak usah mengqadha ataupun menggantinya." ucap Kahfi kembali.
"Jadi kami para wanita benar-benar istimewa bagi islam.?" tanya Lexi polos.
"Ya Lexi."
"Allah sangat baik hati sekali pada ku." Lexi berbinar ia merasa berharga dan istimewa selain Daddy dan Mommynya ternyata ia di istimewakan Tuhannya yang baru ia kenal. Mata Lexi berkaca-kaca, cairan bening itu siap tumpah kapan saja jika ia mengedipkan matanya.
Kimmy mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh keonakannya, gadis remaja yang kini tengah mencari jati diri yang sesungguhnya. Kimmy marasa melihat cerminan dirinya pada Lexi, sayangnya Kimmy tidak seberuntung Lexi yang tumbuh di kelilingi orang tuayang di sayangnya. Lexi gadis yang tulus Kimmy dapat melihat ke tulusan di mata gadis itu, kemurnian serta kesederhanaan Lexi membawa pesona untuk dirinya dan Ridwan. Bahkan tadinya Ridwan terang-terangan mengaku pada Kimmy ingin melamar Lexi untuk di jadikan menantu, rencannya Ridwan ingin melamar Lexi untuk Kahfa.
"Ya, Sayang Allah sangat pemurah, pemaaf lagi maha menyayangi." Kimmy mengusap punggung keponakannya yang kini sudah terisak pelan.
__ADS_1