
Kahfi paling enak memeluk tubuh mungil istrinya, lebih hangat, setelah menikah Kahfi menjadi nyaman saat berada di kamarnya.
"Mas, apa boleh kita tukaran ponsel?" tanya Lexi hati-hati. Tapi seandainya tidak boleh pun Leci tidak papa, mungkin Kahfi ingin memiliki privasi sekalipun dengan istrinya sendiri.
"Tapi tidak papa jika Mas keberatan."
Bukannya mengiyakan Kahfi justru menatap dalam wajah cantik istrinya.
"Hayoo, Ayangnyas Mas tidak percaya sama Mas ya?"
"Bukan seperti itu. Tapi, tapi ..." Lexi kebingungan untuk menjelaskan, tak mungkin bukan ia jujur dan mengatakan pada Kahfi jika ia mencurigai jika Zahra akan menghubunginya.
"Ya sudah, jika itu membuat Ayang senang tidak papa, Abang hanya perlu memindahkan nomor kontak klian Mas ke ponselmu." Kahfi hanya tak ingin istrinya berpikir buruk tentang dirinya.
Sial ...
Benar dugaan Lexi, wanita bernama Zahra itu kembali menghubungi Kahfi meskipun tak di respon, malah hari ini lebih parah. Wanita itu menghubungi Kahfi melalui nomor Wa, entah dari berantah mana Zahra mengetahui nomor suaminya.
Lancang ...
Gadis itu mengajak Kahfi bertemu.
'Aku tau kau membacanya. Kahfi, temui aku di Caffe morinaza pukul satu siang.'
'Aku mengenakan baju dan kerudung coklat pramuka.' ujarnya kembali.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Lexi memutuskan akan menemui, bibit pelakor itu, ia menatap kaca yang di sana terdapat satu jerawat yang memerah membuat ia kehilangan percaya dirinya sebagian.
Hempaskan bibit pelakor atau ia akan terus mencurigai suaminya.
Lexi pergi ke Caffe yang di maksud oleh Zahra, ia sengaja pergi terlambat tiga puluh menit agar ia mampu memantau situasinya. Ia sedikit memaklumi mungkin gadis bernama Zahra itu tidak mengetahui jika Kahfi telah menikah.
Sebenarnya hal ini juga yang mengurungnya dalam rasa curiga terhadap Kahfi. Yang pertama pernikahan mereka yang tertutup dan di laksanakan dengan sangat sederhana, tak ada pesta resepsi atau apapun. Yang kedua Kahfi tidak ingin pernikahannya di ketahui publik, terbukti dengan Kahfi tak mengunggah foto pernikahannya ke media sosial, bahkan suaminya memperingati jika Lexi jangan sampai mengunggah atau mengetagnya di media sosial tentang pernikahan.
Ah, Lexi di buat pening saat memikirkan itu, bagai mana ia tak berburuk sangka. Sedangkan kemungkinan terbesarnya adalah jika Kahfi tengah menjaga hati seseorang.
Entah ia tengah salah paham atau terlalu berburuk sangka kepada suaminya sendiri. Yang jelas ia tidak ingin pernikahan yang baru terjadi kemarin hancur berantakan.
__ADS_1
Lexi mengedarkan pandangan tepat di area restoran. Wanita bernama Zahra itu bahkan sudah memesan private room untuk mereka bertemu, Zahra tentu saja mengira yang akan datang adalah Kahfi sahabatnya sedari kecil.
Istri Kahfi itu kini bertanya pada pelayan Caffe tentang ruangan khusus yang sudah di pesan Zahra.
Dengan langkah lebar Lexi melangkahkan kakinya, mendekat ke arah wanita yang mengenakan kerudung berwarna coklat peramuka. Wanita itu lebih tinggi dari pada Lexi, berwarna kulit sedikit lebih gelap dari pada Lexi, terdapat satu tahi lalat kecil di pipinya.
"Assalamu'alaikum ..." Lexi mengucapkan salam sebelum di persilahkan untuk duduk.
"Wa'alaikumsalam." Zahra mengerutkan kening, ia sedikit tak mengerti mengapa ada orang lain yang memasuki ruangan itu selain ia dan Kahfi.
Tadinya Zahra sudah senang tat kala Kahfi membalas 'Ya' atas pesan beruntunnya. Meski hanya dua huruf saja Zahra tetap bahagia karna pesannya di balas oleh temannya. Ia sedikitpun tak mengira jika yang membalas pesannya adalah Lexi.
"Apa benar kau wanita bernama Zahra?" Dengan angkuh Lexi mengangkat dagunya tinggi-tinggi, kedua tangannya ia letakan menyilang di atas perut. Lexi menyoroti sosok Zahra dengan tajam. Membuat Zahra terheran dan seakan di kuliti di sana.
"Maaf, apa anda mengenal saya?" Dengan sopan Zahra berkata. Tutur kata sopan, tegas, dan elegan seakan mengatakan jika Zahra seorang berpendidikan.
Percuma berpendidikan jika niatnya menjadi pelakor batin Lexi. Tapi sekian detik kemudian Lexi meralat pemikirannya, kan Zahra tidak tau jika Kahfi menikah. Emosi Lexi teredam sebentar.
"Mungkin kita tak saling kenal. Tapi aku akan memperkenalkan diri padamu!"
"Namaku Lexi, aku istri dari temanmu Kahfi Omar."
Jeger ...
Meski Zahra telah mengetahui jika Kahfi sudah menikah, tapi tetap saja ia merasa terkejut terlebih gadis itu yang menemuinya sendiri, tanpa siapapun. Lalu dimana Kahfi? Pernyataan itu muncul begitu saja di benaknya. Sakit sungguh demi apapun Zahra merasa terhianati meski Kahfi tidak menjanjikan apapun padanya.
Tanpa di suruh Lexi duduk di kursi tepat di hadapan Zahra dengan mata berembun.
"Aku kemari ingin pemperingatimu untuk tidak menghubungi atau menemui suamiku lagi. Atau aku-"
"Kau mau apa?" tanya Zahra menantang.
"Aku bukan tipe orang yang pandai berbasa-basi. Bukan hal sulit bagiku untuk menyakiti seseorang yang berdosa apa lagi mengusik hidupku." Lexi memancarkan aura intimidasi pada lawan bicaranya dan itu sukses membungkam Zahra untuk beberapa waktu.
"Seperti inikah prangai gadis yang Kahfi nikahi? Sangat tidak cocok." cibir Zahra terang-terangan.
"Heh, jadi menurutmu siapa yang pantas? Kau? Hehehe, bahkan orang gilapun akan waras dulu jika harus memilih siapa?" Lexi tersenyum sinis. Seraya terkekeh meledek wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Aku bahkan S2 lulusan terbaik di kota paris. Sedangkan kau? bocah kemarin sore kurasa." Zahra tak menampik dan tak berlaku baik lagi pada gadis muda di hadapannya.
"Nyatanya, aku yang berhasilmemiliki Kahfi. Bahkan Kahfiku menolak untuk bertemu denganmu dan menyuruhku untuk memperingatkan kau supaya jangan mendekatinya lagi. Dia milikku!" Dengan tegas Lexi memperingati Zahra yang justru gadis itu semakin terkekeh di buatnya.
"Lexi, Lexi. Kau yakin Kahfi tidak akan kembali terjatuh pada pesonaku?"
"Lexi kau hanya orang baru yang hadir di hidup Kahfi. Sedangkan aku," Zahra menunjuk dirinya sendiri dengan tertawa puas. "Aku adalah cinta pertamanya. Selama lebih dari bertahun-tahun Kahfi mencintaiku dalam diam, dan jika kau bertanya aku mengetahuinya dari mana? Aku mengetahuinya dari mulut Kahfi langsung saat melamarku."
Lexi terdiam ia mencoba mencermati apa yang Zahra katakan.
"Aku tidak perduli! Yang jelas akulah pemenangnya. Aku yang Kahfi nikahi." Lexi harus pergi ia tak ingin tangannya melukai wanita itu.
"Diam! Atau aku tak akan segan melukaimu!" Lexi hampir saja Lexi membanting tubuh semampai di hadapannya.
"Wuihh,"
Prok ... Prokk
Zahra bertepuk tangan, rasanya ia merasa tertantang dengan apa yang akan di lakukan gadis cantik di hadapannya.
Zahra akui gadis di hadapannya memang sangatlah cantik, pria mana yang mampu menolak kecantikan gadis di hadapannya.
.
Di tempat lain.
Tepatnya di sebuah ruangan ayahnya Kahfa berbincang dengan Kahfi.
"Kahfi, kemarin Lexi menanyakan tentang Zahra padaku. Kuharap kau bisa lebih tegas bersikaf, jangan sampai kau menghadirkan ratu lain di rumah tanggamu." Peringat Kahfa.
"Tidak lah Bang, Lexi saja sudah cukup." Kahfi malah tertawa menganggap obrolan Kahfi sebagai angin lalu.
"Aku serius! Wanita itu sangat rentan menderita penyakit hati. Sebenarnya bukan Lexi yang rugi, tapi kau sendiri."
"Maksud Abang?"
"Bukan hal sulit untuk Lexi mendapatkan pria seperti apapun. Sedangkan kau? Aku tak yakin bisa mendapatkan gadis sememesona Lexi." Kahfa sengaja mengatakan itu agar Kahfi berpikir realita.
__ADS_1