Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Si Batu Bernafas


__ADS_3

Allah maha baik. Kahfi belum melakukan apapun sekain melapor ke pihak yang berwajib. Tapi vidio itu sudah menjamur di kalangan masyarakat. Padahal Kahfi tidak melakukan apapu. Entahlah bagai mana caranya vidio perbincangan Zahra dan dokter Ferdy bisa tersebar.


Dokter Ferdy di pecat secara tidak hormat oleh direktur tempatnya mengabdikan diri. Dirinya juga di tuntut hukuman dengan lima belas tahun penjara juga denda maksimal dua milyar karna telah melanggar kode etik kedokteran. Sedangkan Zahra sendiri terancam di jatuhi hukuman lima tahun penjara dan denda lima ratus juta karna sudah mempermainkan dan menyuruh orang lain untuk memalsukan rekap medis kesehatan seseorang. sebenarnya itu hanya gambaran hukuman untuk keduanya, karna belum di putuskan secara resmi, mengingat banyak sekali yang harus di lalui setiap pasenya.


Zahra mendesak Ferdy supaya dokter itu melakukan tuntutan balik karna Kahfi membuat dokter Ferdy menderita patah di tulang tangan dan ini bisa di pidanakan.


Tentu saja Ridwan tidak akan membiarkan putranya mendekam di balik jeruji besi dengan segala upaya yang Ridwan lakukan akhirnya Kahfi tidak harus menginap di penjara.


Pusing dan muntah setiap pagi yang di derita Kahfi sama sekali belum membaik meskipun sudah tidak mengkonsumsi obat palsu yang di berika Ferdy padanya.


"Mas lihat-lihat perutmu semakin datar Ay." Ujar Kahfi, setelah sebelumnya menjalani percintaan mereka. Ia kembali bersemangat ketika mengetahui tak ada penyakit apapun pada dirinya. Ya Kahfi sudah melakukan cek kesehatan di antar oleh kedua orang tuanya. Karna Ayah dan ibunya ingin memastikan jika putra mereka sehat.


"Masa sih Mas?"


"Iya. Ay kapan Ayang terakhir datang bulan?"


"Ga tau Mas, datang bulan Lexi tak teratur semenjak meminum pil penunda kehamilan."


"Nanti kita periksa ya?"


Lexi mengangguk di sela nafasnya yang memburu.


"Ay, kita liburan yuk sekalian mengunjungi pak Ahmad. Orang yang menolongku saat aku kecelakaan waktu itu."


"Ayo Mas, tempatnya dimana?"


"Di sebuah desa yang cukup asri juga dengan udara yang cukup dingin. Di sana juga ada air terjunnya, bahkan terlihat dari rumah Pak Ahmad."


"Wah aku ingin ke sana Mas."


"Ya nanti ya. Mas atur jadwal dulu."


Kahfi memeluk tubuh istrinya. Hilang sudah kekhawatiran yang setiap malam belakangan ini menyelimuti malamnya. Ia cukup tenang setidaknya tidak di hantui dengan bagai mana caranya pamit pada istrinya jika saat itu yang ia derita benar-benar terjadi.


"Aku mencintaimu." Kahfi mencium kening istrinya dengan sangat lama.

__ADS_1


.


Kahfa kembali mengajar di sekolah kali ini ia dikejutkan saat di ruangan guru ada ada seorang siswi yang ia kenali dari wanginya saja, ya baunya seperti kuburan baru menurut Kahfa sangat semerbak. Kahfa menduga Green menumpahkan sebotol parfume ke tubuhnya sehingga wanginya begitu menyengat.


"Green sudah ibu katakan berhenti bersolek di sekolah. Ini sekolah tempatmu menuntut ilmu bukan ajang pashion show." ujar guru wanita setengah baya itu.


"Bu. Saya tidak bersolek bahkan saya tau hari ini upacara sehingga saya memakai rok lebih panjang dari biasanya juga lihar tangan baju saya juga tidak di gulung." Green berdiri di hadapan gurunya. Kahfa juga secara reflek melihat ke arah Greendia. Ya gadis itu mengenakan pakaian sedikit lebih panjang dari biasanya.


"Lipstik juga soflens kamu pikir ini bukan bersolek?" Bukan guru wanita itu yang berbicara melainkan Kahfa. Pria dewasa itu bahkan menunjuk wajah Greendia.


"Kamu tak percaya diri jika tampil polos layaknya pelajar Greendia. Atau kau memang buruk rupa." Kahfa memang sepedas itu saat berkomentar.


"Ini asli pak! Mau bukti. Sini mendekat biar ku cip ok sekalian bibir Bapak, luntur ga warna bibir saya?"


Ya Allah Kahfa di buat terkejut si Green ini memang sepertinya cucu kakek Sugiono.


"Dan lihat!" Green membolakan matanya. "Jika Bapak menyangka ini soflens saya menantang Bapak untuk mencopotnya." Green berdiri mendekatkan wajah di hadapan Kahfa.


"Sopan sekali kamu!" Cibir Kahfi, ia membuang pandangan karna kelakuan Greendia yang nyeleneh.


"Ini semua asli Pak. Lihat!" Green meraih tissue di atas meja gurunya dan mengelapnya berkali-kali. Dan tak ada jejak kemerahan disana berarti bibir semerah tomat masak itu asli adanya.


"Byee ... Pak Guru tukang fitnah." Green mengambil tas di atas kursi.


"Saya gak Fitnah ya. Saya cuma nanya." sangkal Kahfa cepat.


"Jangan karna saya masih anak-anak ya! Saya bisa membedakan mana pertanyaan dan mana pernyataan. Dasar manulatif." Green dia pergi dengan membanting pintu, meninggalkan beberapa guru yang sudah hapal tabiat gadis itu.


Di karnakan masih kesal Greendia bolos di mata pelajaran Kahfa, gadis itu lebih tertarik nongkrong di kantin bersama kedua temannya Anna dan Mela.


Kahfa yang sudah bisa menebak kemana Green pergi lebih memilih membiarkannya. Kahfa sudah di beri tau bagaimana thabiat gadis itu hanya bisa menghela nafas.


.


"Sedang apa kamu?"

__ADS_1


"Menurut Bapak?"


Saat adzan dzuhur tiba tanpa sengaja Kahfa melihat Green di depan mushola tengah membuka sepatu, Green mengambil wudhu meski di tempat terpisah tapi tak lantas menghalangi pandangan Kahfa akan gadis itu.


"Green seorang muslim." Pikir Kahfa.


Kahfi juga melihat kedua temannya turut melaksanakan Shalat di mushola itu.


Saat menjelang pulang Kahfa di buat kembali terkejut, penampilan Green kini berubah kembali layaknya seorang gadis tomboy yang mengenakan celana jeans juga jaket kulit berwarna hitam menutup seragam sekolahnya. Di lengannya terdapat helm full face. Gadis itu menaiki motor mirip belalang berwarna merah.


Kahfa masih bergeming dalam mobilnya, memperhatikan Gadis itu tampak cekatan saat hendak menjalankan motornya.


Kahfa di buat takjub, dalam sehari ia mendapati seorang gadis yang beragam tingkahnya. Sungguh di luar dugaannya Green penuh dengan kejutan.


.


Entah apa yang di lakukan Berlian di kantor milik Ridwan.


Ghaza bahkan melongo saat gadis itu menemuinya di pintu ruangannya.


"Sedang apa kau di sini?" Ghaza berujar sewot, tak ia tutup-tutupi ketidak sukanya pada saudari tirinya itu.


"Mengantarkan makan siang. Kudengar kau tak pernah membawa bekal dan aku membawakanmu nasi dan rendang, kata Ibu ini kesukaanmu." ujar Berlian selembut mungkin ia menutupi ketersinggungannya dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Tetap di tempatmu jangan masuk keruanganku."


"Berlian pulanglah sebelum aku memanggil pihak ke amanan. Kau tidak usah repot-repot mengantarkan makanan untukku. Aku tidak kekurangan uang untuk membeli banyak makanan." Ghaza memang setegas itu, yang ia takutkan Kayla salah paham tentang ini. Bisa saja kan ada yang memotret mereka diam-diam persis seperti yang di lakukan Zahra tempo hari untuk mengguncang hubungan Kahfi dan Lexi.


"Aduh kepalaku pusing." Berlian tiba-tiba memekik. Entah Berlian berpura-pura atau kepalanya memang sakit, tapi Ghaza tidak mendekat sama sekali. Ia tak ingin mengambil resiko, ia takut Kaylanya terluka.


Prangg.


Rantang yang di bawa berlian berserakan karna terjatuh sampai isinya berhamburan.


Bahkan saat Berlian limbung dan tumbangpun Ghaza masih di tempatnya duduk. Ghaxa hanya meminta bawahannya untuk membawa berlian kerumah sakit tanpa dirinya menemani, Ghaza juga meminta OB membersihkan tumpahan makanan di pintu ruangannya. Ghaza tak sedikitpun merasa iba sekalipun gadis otu saudari tirinya sendiri, ia tetap melanjutkan aktifitasnya tanpa terpengaruh sama sekali.

__ADS_1


Terserah orang lain menganggapnya apa.


Kariawan yang lain bahkan menamai Ghaza si batu bernafas karna kejadian itu.


__ADS_2