Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Jangan terluka


__ADS_3

"Aku juga pernah ikut shalat teraweh tante. Tahun lalu." Ceplos Lexi lagi.


Ya Allah semua orang di meja makan mengelus dada masing-masing, adakah hal lebih konyol dari wanita yang tengah beranjak dewasa ini. Ia bukan muslim tapi kelakuannya membuat orang terheran-heran.


"Tapi aku tidak ikut ibadah, tadinya aku hanya penasaran sebelum berubah menjadi rasa takut."


"Takut?" tanya Kahfi.


"Aku pingsan dan sampai sakit tante karna kejadian itu."


"Pingsan kenapa?" Kahfa kali ini yang bertanya.


"Aku takut saat semua orang bersujud mencium lantai tantai apa lagi pasukan wanita hih, brr. Mirip seperti pocong. Di film horor" Lexi bergidik ketakutan.


"Padahal Daddy sudah menjelaskan asalannya tapi tetap saja aku merasa horor dengan pasukan wanita yang tengah shalat itu." Lexi kini mengusap tangannya. Ia merinding juga dengan bulu kuduknya yang berdiri.


"Memangnya Lexi agamanya apa?" Kahfi bertanya lembut.


"Aku dan Mommy tidak memiliki agama. Bagiku selama aku tidak merugikan orang lain aku adalah orang baik. Tapi bagi Daddy aku harus menuruti keyakinan Deddy. Kata Deddyku mau sebaik apa orang itu mau sebanyak apa amal perbuatan seorang manusia jika orang itu tidak beragama ataupun tidak memeluk agama islam. Maka lunturlah setiap kebaikannya, bahkan di akhirat kelat atau apapun namanya alam setelah kematian orang itu tak akan pernah mencium bau surga apa lagi menikmatinya. Kan aku jadi serem bayanginnya." Lexi selalu sesederhana itu dalam berpikir.

__ADS_1


"Kau percaya apa yang di katakan Daddymu?" Kahfi kembali bertanya.


"Sebelumnya Daddy tidak pernah berbohong kepadaku. Jadi aku sangat percaya padanya." Lexi terus bercerita sampai makan malam selesai.


"Tante, besok aku ingin tidur di asrama bersama santri-santri lain."


.


Di rumah sakit.


"Kay makannya pelan-pelan Sayang, tak ada yang akan mengambil kuemu." Ghaza memperingatkan istrinya yang tengah memakan bolu tape, dan hampir habis satu loyang penuh.


"Aku lapar Bang."


"Akhh ..."


"Ya Allah Ghaza." Ayudia ikut berseru. Melihat darah mengucur dari jari putranya buah pear yang tengah Ghaza kupas ikur berwarna merah karna tercemar darah Ghaza.


"Astaghfirullah Abang hati-hati." Kayla repleks berdiri membuat kue yang ada di pangkuannya jatuh dan tumpah di atas lantai. Kayla mendekat kearah suaminya.

__ADS_1


Kayla meraih tangan kiri Ghaza dan memasukannya dalam mulut mungilnya, menyesap jemari itu, hingga darah Ghaza ikut tertelan oleh wanita hamil itu.


"Kay apa yang kamu lakukan?" Ghaza menegur, sedangkan Kayla tidak memperdulikan ia masih sibuk menyesaap darah yang keluar dari jemari suaminya.


"Kay itu perbuatan dilarang, memakan darah adalah diblarang." Ghaza kembali berujar.


"Astaghfirullah Kay lupa Bang." Kayla segera melepaskan sesapannya.


Wanita yang tengah hamil muda itu kemudian meniup luka suaminya dan meminta handsaplas pada perawat yang kebetulan keruangan itu.


"Kau hampir membuatku jantungan Bang." Kayla mendengus saat selesai membalut luka suaminya.


"Kay khawatir sama Abang?"


"Tentu saja. Abang suami Kay, abang belum siap jika harus menjadi janda muda beranak satu." dengus Kayla kembali.


"Ya Allah Kay darimana ada ceritanya teriris jari saat memoyong buah bisa menyebabkan kematian. Kau terlalu berlebihan Sayang." Ghaza memencet hidung bangir istrinya.


"Jika seperti itu jangan terluka di depanku." Kayla mengusap hidungnya yang memerah.

__ADS_1


"Iya, iya Abang tidak akan terluka lagi. Cerewet sekali Mama Kay ini." Ghaza meledek istrinya.


Ayudia memperhatikan Ghaza yang selalu tersenyum saat bersama istrinya. Terkutuklah dirinya karna pernah berniat ingin memisahkan putranya dengan gadis itu.


__ADS_2