
Ayudia bahkan meminta izin pada Ridwan dan Kimmy untuk mengenalkan Kahfa dan Berlian. Namun baik Kahfa maupun Berlian keduanya sama-sama tidak tertarik.
Kahfa masih dengan wanita idamannya yang mencari sosok soleha. Sedangkan Berlian jangan sholeha, gadis itu bahkan enggan melakukan jewajiban utamanya srbagai seorang muslim. Pakaiannya lumayan sopan hanya saja Berlian belum mau untuk mengenakan hijabnya. Tapi jika Ghaza menikahinya Berlian bertekad akan berubah demi pria tampan pujaannya. Sayang hilal untuk Berlian masuk kerumah tangga Ghaza tidak terlihat sama sekali.
Sedangkan di mata Berlian, semua keindahan dan kesempurnaan sudah di serap habis oleh pria pujaannya Ghaza. Entah dari mana Ghaza mewarisi pesona dewanya.
Kahfa sampai marah pada Ibu dan Ayahnya yang berencana menjodohkannya kembali. Bisa jadi Kahfa masih terauma akan perjodohannya yang gagal dengan Aisyah. Lagi pula Kahfa tengah fokus pada kesembuhan kakinya.
.
Ghaza mwnemui Kahfa di ruangannya. "Kahfa kau tau Zahra sudah kembali. Kemarin dia menemuiku memintaku supaya perusahaan kita menjadi pemasok rempah dan minyak ke restorannya. Sayangnya syaratnya ia ingin Kahfi yang menjalani kerjasamanya." ujar Ghaza jujur.
"Menolak satu klian tidak akan membuat perusahaan kita bangkrut Ghaza! Jangan biarkan Kahfi bertemu dengannya." tekan Kahfa kembali.
"Sebenarnya ada hal yang lebih gampang, jika yang kau khawatirkan tumah tangga adikmu rusak," usul Ghaza.
"Apa?"
"Kau nikahi Zahra, maka semuanya beres semua aman terkendali. Kau dapat jodoh begitu juga dengan Zahra. Hubungan adikmu dan istrinya akan sejahtera."
"Tidak semudah itu perguso. Kau pikir tengah mengawinkan kambing. Aku ini pria mahal tidak ingin terlibat dengan wanita seambius Zahra." Kahfa masih tak menyukai Zahra akan kejadian empat tahun lalu di tambah Zahra malah terang-terangan ingin memiliki Kahfi yang bersetatus suami orang. Gadis gila pikir Kahfa.
"Kau mencari yang seperti apa? Kahfa, Berlian pun kau tolak."
"Jika ada, aku ingin mencari yang seperti Lexi. Emhm maksudku yang madih muda serta masih kinyis-kinyis." Kahfa meralat ucapannya takut terjadi kesalah pahaman.
"Bagai mana keadaan Kayla, apa sudah sembuh dari penyakit pecemburunya?" Kahfa mengganti topik.
"Belum yang ada Kayla malah semakin bertingkah aneh." lirih Ghaza.
Tidak ada yang benar-benar mulus dalam berumah tangga. Nyatanya itu benar ada saja cobaan dan masalah dalam setiap orang yang menjalani rumah tangga.
Begitu juga rumah tangga yang di jalani oleh Ghaza dan Kayla. Ghaza pikir karna ia sudah berhasil menikahi dan membuat Kayla menyukainnya tak akan lagi ada masalah atau cobaan di masa depan. Namun nyatanya sekarang terdapat cobaan yang menurut Ghaza sendiri sangat sulit untuk di lalui.
Bukan karna ia begitu menginginkan sosok bayi, melainkan Kayla kerap kali kehilangan kendali dan menyalahkan dirinya sendiri kadang pula Kayla sering menunjukan kecurigaan yang tidak berdasar sehingga jika Ghaza tidak banyak mengalah maka pertengkaranlah yang akan terjadi.
__ADS_1
Tapi anehnya seberapa Kayla terus berbuat di luar batas tak sedikitpun Ghaza berpikir untuk mencari hal baru apa lagi menhadirkan wanita lain di hidupnya.
"Abang baru pulang?"
Kayla menyambut suaminya yang pulang dengan bibir mengerucut. Ia kesal lantaran Ghaza pulang sangat larut, hampir pukul sebelas malam.
"Abang sudah makan?"
"Sudah, Kay sendiri bagai mana?"
"Aku juga sudah makan."
"Iya Kay, Abang mandi dulu."
Setelah mencium puncak kepala Kayla Ghaza berlalu akan membersihkan diri ia sangat lelah hari ini. Bahkan di saat di perjalanan ia terpejam saat Kahfi yang mengemudi, kepalanya sangat sakit karna suatu hal yang terjadi malam tadi.
"Astaghfirullah. Aku lupa tidak mencium tubuh Abang terlebih dahulu, bagai mana jika ada bau yang mencurigakan." Ya Kayla sangat posesif akhir-akhir ini, bahkan saat mendapati bau lain di tubuh suaminya Kayla langsung marah dan berkemas hendak pulang kerumah Ayahnya. Jika saja Kahfi tak mengatakan jiga pengharum mobilnya tumpah mengenai tubuh Ghaza sehingga badannya dan baju Ghaza baunya persis seperti mobil milik Kahfi.
Dan kejadian itu bukan kali pertama dan satu-satunya. Kayla juga kembali merajuk saat tubuh Ghaza beraroma vanilla. Padahal wajar saja tubuh Kahfi wangi vanilla, suaminya itu baru selesai mengecek pabrik rempah panila milik ayahnya.
Ghaza juga tak habis pikir, hal lain apa yang merasuki Kayla sehingga wanitanya sebegitu posesifnya sekarang ini, meski tak di tampik oleh Ghaza jika ia menyukai ini. Itu artinya Kaylanya mencintainya. Tapi kadang ada pula hal jenuh yang menyerang Ghaza sehingga kadang ia bertranformasi menjadi kaum mendang-mending. Ya mending Kayla ngasih jatah tambahan misalnya di pagi hari sebelum Ghaza bekerja.
"Mas mana bajunya?" Kayla sudah menengadahkan tangan meminta baju yang di pakai Ghaza seharian. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya dengan mencium sendiri baju suaminya.
"Sudah Abang rendam di dalam ember." Ghaza melanjutkan langkah menuju ranjang yang terdapat pakaian ganti yang siapkan istrinya.
Kayla malah semakin curiga pasalnya selama ini Ghaza tidak pernah merendam pakaiannya sendiri.
Kayla memasuki dan mengecek, memastikan sendiri apa yang terjadi dengan kemeja suaminya.
Kayla mengangkat kemeja Ghaza yang berada di ember dan menelitinya dengan sangat hati-hati.
Terdapat bercak merah yang mulai memudar karna rendaman, di kerah kemeja berwarna putih tulang itu.
Pikiran Kayla langsung melayang memikirkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
mungkinkah Ghaza berniat menghilangkan bukti ini. Kayla harus menanyakannya atau ia tak akan bisa tidur semalaman karna kepikiran.
"Abang bercak merah ini bekas apa?" Kayla setengah berlari membawa baju basahnya hingga menetes ke lantai bembuat genangan di sana. "Jawab jujur."
Ghaza tak berniat melihat manik Kayla atau ia akan ketahuan berbohong.
"Ha-hanya noda saus tomat." Gugup Ghaza ia paling tidak bisa berbohong, apa lagi dengan Kayla.
"Tidak mungkin saus tomat letaknya di bagian belakang!" Kayla memincingkan mata. Ia tau suaminya tengah berbohong.
"Kenapa Abang menyembunyikannya?"
"Buksn di sembunyikan tadi memang tertutup jas Kan?"
"Kenapa Abang rendam?" Kayla layaknya anggota kepolisian yang mengintrogasi tersangka pelaku kejahatan.
"Biar tidak susah hilang saat di cuci."
Wah fix ini mak noda lipstik monolog Kayla dalam hati.
Ghaza di buat gemetar takut Kayla mengetahui kebenarannya. Pun kepalanya yang kini kembali terasa berdenyut.
"Kay." Ghaza memegangi kepalanya. "Kepala abang sakit." Ghaza tidak berbohong kali ini.
"Itu hanya akal-akalan Abang agar aku tidak mencari tau kan."
"Kay Abang beneran sakit."
"Sebelum pulang Abang mampir ke mana.?"
"Aku dan Kahfi tidak mampir kemanapun selain ke pom bensin."
Aku akan mencari tau, jika kau berbohong aku akan menghukummu. Apa lagi jika sebelum pulang kau mampir ke tempat lain."
"Aku akan menghukummu!"
__ADS_1