
Kahfi dan Lexi tiba di rumah sakit pagi-pagi sekali, setelah melakukan perjalanan setelah subuh.
Raut wajah ke tiga orang, Kimmy, Ridwan, dan Ghaza di depan oprasi terlihat sangat menydihkan.
"Ibu, Ayah." Panggil Kahfi pelan pada kedua orang tuanya, tangisan Kimmy pecahlah sudah, di saat ia terpuruh akan kehilangan cucu pertamanya, justru Allah juga mengembalikan putranya sebagai penghiburan.
Kimmy wanita yang telah berhijrah itu mengetahui benar jika Allah akan dengan berbagai cara memberikan ujian kepada keluarganya sebagai bentuk kecintaan Tuhan kepada hambanya.
"Kahfi." Kimmy langsung memeluk erat tubuh wanita pertama yang ia sayangi wanita yang mencintainya tanpa alasan.
"Kahfi." Ridwan juga mengembangkan senyumnya di tengah hatinya yang berduka. Hanya Ghaza saja yang masih setia dengan wajah sayu yang ia perlihatkan sejak tadi. Ia juga akan mendapat kemarahan dari istrinya. Ghaza tak memiliki alasan untuk tersenyum kali ini, ia hanya sedang menyiapkan hati dan mentalnya. Ini pilihannya ya pilihannya untuk kehilangan buah cintanya, ya dari pada Ghaza harus kehilangan semestanya ia lebih memilih keputusan yang menyakitkan juga.
Ghaza sudah meminta ibu mertuanya untuk pulang, karna Kimmy terlihat sangat kelelahan, bisa bisa jika terus di paksakan mertuanya bisa sakit. Tapi ibu mertuanya selalu saja menolak.
__ADS_1
.
Setelah dua jam menjalankan oprasi, di sinilah Kayla berada. Di sebuah ruang inap yang sunyi, hanya Ghaza yang menemaninya, menemani dan menatap Kayla penuh kasih sayang.
Ia semakin terpukul saat dokter mengatakan jika kemungkinan Kayla akan sulit hamil, ia menangis beberapa kali tergugu dalam isakan yang kerap kali lolos darinya. Bukan Ghaza sangat terpukul karna Kayla akan susah punya anak, sungguh Ghaza tak mengapa jika tak memiliki anak asalkan ia tetap bersama wanitanya. Tapi bagai mana dengan Kayla jika wanita itu tau kebenarannya, ya maka Ghaza tak perlu berkata apapun jika Kayla tak bertanya.
Ridwan dan semua orang pulang untuk memakamkan anak yang belum sempat ia tau kelamin bayinya.
Ghaza tak bisa ikut, bagai manapun ia akan menyambut saat Kayla terbangun dari tidurnya yang sudah berjam-jam.
.
Jodoh, maut, rejeki dan takdir seseorang berada di tangan Allah, setelah bengebumikan jenajah bayi Ghaza dan Kayla yang baru berumur tujuh belas minggu, di sinilah Kahfi dan Lexi berada. Disebuah restoran tak jauh dari pondok, tidak hanya mereka saja yang berada di situ, Kahfi dan Cinta juga turut hadir di sana. Tentu saja untuk menimalisir terjadinya fitnah.
__ADS_1
"Lexi, maaf sepertinya kita harus kembali menunda pernikahan kita." Kahfi mulai membuka suara, dengan sesekali memusatkan pada Lexi sebagai pusatnya.
Lexi tersenyum canggung, ia sudah menduga ini akan terjadi. Sebenarnya ia akan menangis saat Kahfi kembali mengingkari janjinya untuk menikahinya esok hari, tapi mau bagai mana lagi Lexi juga tidak bisa egois keluarga tantrnya kini tengah berduka dengan kepergian bayi Ghaza dan Kayla, Lexi juga merasakan kehilangan, beberapa hari lalu ia turut menyentuh perut Kayla dan sekarang perut itu tidak ada isinya lagi.
Lexi tidak menjawab sepatah katapun cintanya masih belum halal untuk terbalas.
"Kahfi, menurutku kau tidak usah membatalkan pernikahan kalian, kalian bisa menikah di rumah sakit jika kau khawatir pada Kay, kasihan Lexi sudah menunggumu." Kahfa memberi usul.
"Abang tak mengerti, aku tak bisa Bang, kita bisa menunggu satu atau dua tahun lagi." ucap Kahfi ringan, Lexi membulatkan matanya, ia maklumi jika alasan Kahfi menunda pernikahan mereka karna adiknya tengah berduka, tapi jika harus menunda satu atau dua tahun itu Lexi tak sesabar itu.
"Mas, ko gitu sih? Jika menunda pernikahan satu atau dua minggu lagi aku tak masalah. Tapi jika sampai dua tahun aku keberatan." Lexi berdiri dari duduknya.
"Jika kau keberatan lebih baik batalkan saja."
__ADS_1
Apa maksudnya?