
Dan benar saja perkiraan Kahfa Lexi benar-benar merajuk padanya.
Saat di meja makanpun Lexi tak mengajaknya berbicara. Ini gawat ini tak bisa di biarkan.
Kahfa dan Lexi. Mereka sekarang tengah berada di kamar, Zayn sudah di amankan neneknya.
"Lexi,,, Greendia akan pindah esok pagi, aku tak tega pula menyuruhnya pindah malam-malam."
"Ya tidak usah di suruh pindah, akan lebih baik jika kau temani dia tidur juga." Sindir Lexi, ia kesal karna Kahfa sudah bercakap besar akan memastikan Greendia pindah malam ini nyatanya gadis itu masih tinggal seatap dengannya. Entahlah Lexi merasa harinya sedikit bermasalah, di mana ia menganggap Green sebagai ancaman untuknya.
"Lexi, jangan berbicara seperti itu tak baik." ujar Kahfa lembut, ia tak ingin malm ini beelalu sia-sia, ia menginginkan hal indah seperti tadi siang. Bisa celaka jika Lexinya merajuk.
Tok ... Tok ...
"Kahfa, kau ada jadwal mengajar Nak. Jangan abai terhadap tanggung jawabmu." Ridwan memberitahu putranya sesaat pintu kamar Kahfa terbuka.
__ADS_1
Sial acara membujuk Lexi harus tertunda.
"Aku harus mengajar dulu. Jangan kunci pintunya oke!" Kahfa berlalu dengan satu kitab di tangannya, yang tak sempat Lexi baca itu kitab apa.
.
Saat kembali dari mengajar Kahfa kelimpungan saat tak menfapati Lexi di kamarnya dan di kamar almarhum adiknya Kahfi, bayangan tentang Lexi yang melarikan diri kembali menghantuinya. Apa mungkin karna hal seoele Lexi kembali kabur?
Tak ada yang tak mungkin mengingat kenekaran wanita itu yang berada di batas wajar, membuat Kahfa segera menemui kedua orang tuanya untuk memberitahu keadaan Lexi yang hilang. Namun niatnya urung kala pekerja di rumahnya memberi rahu jika Lexi berada di kamarnya yang dulu.
"Ada apa?" Ayah Ridwan menepuk bahu putranya yang terlihat mundar mandir di depan pintu kamar Lexi.
"Lexi merajuk Yah, dan dia mengunci pintu. Lihatlah dia sampai mengancam jika aku melewati pintu ini dia akan pergi lagi ketempat yang lebih sulit ku temui. Lexi benar-benar ahli dalam bersembunyi." Kahfa bahkan memijat pangkal hidungnya. Bukan ia tak bisa membuka pintu itu, tapi Kahfa ngeri akan ancamannya, Lexi selalu nekad.
"Kahfa, linggis dan tangga ada di garasi." Ujar Ridwan berlalu dari sana dengan senyuman penuh maksud.
__ADS_1
"Linggis dan tangga." gunam Kahfa.
"Terimakasih Ayah memang bijak sana." teriak kahfa saat ayahnya mulai menuruni tangga. Memang dari segi usia dan kematangan berpikir Ridwan tak perlu di ragukan lagi.
Lexi hanya mengancam jika Kahfa melewati pintu itu Lexi akan kabur, tidak dengan pintu balkon kan?
Malam-malam Kahfa membawa tangga dan linggis, mebuat beberapa santri terheran-heran tapi mereka tak berani bertanya. Kahfa bahkan menyuruh santrinya untuk menaruh kembali tangga saat ia berhasil berada di atas baljon kamar Lexi.
"Kau pikir, kau saja yang pandai aku juga pandai sayang." Kahfa tersenyum penuh kemenangan kemudian mencongkel pintu balcon yang sebagian besar terbuat dari kaca.
Cukup sulit ternyata, kahfa bahkan sudah berkeringat. Namun kelelahannya terbayar sudah saat Kahfa menyaksikan seorang wanita yang ia inginkan tengah tertidur terlentang dengan gaun malam yang sangat indah berwarna merah darah, sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Dua kelembutan itu menyembul tanpa malu-malu keluar dari tempat yang menampungnya.
"Maha suci Allah yang menciptakan keindahan dengan takaran yang pas dan sesuai." Kahfa memegangi jantungnya yang berdegub kencang. Darahnya bergejolak dengan gila.
Tidak salah orang menamainya wanita racun dunia, dan memang benar adanya jiwa Kahfa sudah tercemar akan racun yang terdapat pada diri Lexi.
__ADS_1
Kahfa hanya mematung dengan pujian-pujian terhadap keindahan penciptaan Tuhannya.