Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Luka yang ia sengaja


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan Bang?"


Untuk kali ini tak salah Kahfa mengatakan Kahfi bodoh. Dia memang terlihat bodoh.


"Pertama minta maaflah pada Lexi. Jelaskan yang terjadi padanya ini hanya kesalah pahaman saja. Yang kedua temui Zahra bawa sekalian Lexi dan peringatkan Zahra untuk tidak lagi terlibat denganmu, apalagi menemui dan menghubungimu." Kahfa layaknya sang pahlawan memberikan petuah pada adiknya.


"Ya Bang nanti aku akan membawa Lexi untuk menemuinya."


"Kau mengatakan jika Zahra mendatangimu dan Ghaza pada istrimu.?"


"Tidak Bang. Ku pikir jika Lexi tidak mengetahuinya Bang," Kahfi menunduk ia merasa bersalah pantas saja Lexi mendiamkan juga marah padanya.


"Kenapa? Karna kau pikir ini adalah hal sepele?"


Kahfi diam dia memang menganggap seperti itu.


"Kahfi apapun yang terjadi di luar sana kau harus mengatakannya pada istrimu. Tak perduli seberapa kecil hal itu istrimu berhak tau jika kau tak ingin dalam masalah."


"Iya Bang. Aku mengerti."


"Jangan katakan jika kau merahasiahkan pernikahanmu dari Zahra?"


"Tidak Bang. Aku sudah mengatakan jika aku sudah menikah dengan Lexi. Tapi dia biasa saja dan memberiku ucapan selamat. Sejak dulu dia memang pengertian." Ya memang Zahra tak menunjukan keterkejutan atau ketidak terimaannya di hadapan Kahfi, justru wanita itu malah mengucapkan selamat.


Kahfa mengerutkan kening otaknya menebak jika Zahra sedang merencanakan sesuatu, entahlah semenjak ia melihat langsung pesan yang di kirimkan ke onsel Lexi Kahfa tidak bisa berpikir baik tentang Zahra.


"Bersikap tegaslah Kahfi, statusmu sudah berubah. Kau tak harus berbaik hati pada setiap orang. Batasi setiap interaksimu dengan orang lain."


"Iya Bang. Aku mengerti. Terimakasih sudah menasehatiku."


"Aku menyayangimu juga Kayla. Aku ingin kalian bahagia. Sudah seharusnya aku melakukan hal ini." Kahfa menepuk bahu adiknya.


Saat Kahfa menjalankan kursi rodanya menuju ranjang Kahfi dengan sigap mendekat hendak membatu kakaknya.


"Abang mau tidur? Biar ku bantu."


"Tidak usah Kahfi. Aku bisa melakukannya sendiri, Pergilah ke kamarmu kasihan istrimu pasti menunggu." Kahfi menolak tawaran adiknya.


"Lexi marah padaku Bang, tidak mungkin dia menungguku. Pasti dia sudah tidur."

__ADS_1


"Jelas saja Leci marah kau malah bertingkah dengan si Zahara itu."


"Bang hentikan candaanmu. Aku tak ingin Lexi kembali salah paham."


"Oke-oke."


"Aku permisi. Assalamu'alaikum."


.


Kahfi hendak memasuki kamarnya.


Lexi yang semula merenung langsung mengambil buku yang tergeletak di atas nakas, sepertinya buku tebal itu milik Kahfi, Lexi tengah berusaha berpura-pura membaca buku bersampul kuning di genggamannya.


"Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumsalam." jawab Lexi dalam hati.


"Ay, ada yang membaca salam itu di jawab bukan malah pura-pura tuli." Kahfi duduk di ujung ranjang.


"Orang udah ku jawab."


"Mana? Mas gak denger?"


Kahfi menghembuskan nafas lelah, sepertinya Lexi memang masih marah fix ini mah.


"Ayang lagi apa? Kok belum tidur?"


Kahfi mendekat sedangkan Lexi malah bergeser menjauh.


"Ayang lagi apa?" sekali lagi Kahfi bertanya.


"Lagi baca buku lah, memang sedang apa lagi?" terus menerus saja Lexi berkata ketus dan sinis.


"Oh. Mas baru tau jika Ayang memiliki kemampuan membaca dengan cara membalik bukunya." Kahfi mengulum senyumnya ia sukses membuat Lexi merasa di permalukan.


Wajah Lexi memerah, ia baru menyadari jika buku yang di pegang olehnya terbalik. Ingin rasanya Lexi mengubur dirinya hidup-hidup.


"Aku sudah selesai membaca dari tadi." Sangkal Lexi, tentu saja itu sebagai alasan.

__ADS_1


Lexi menggulir tubuhnya untuk menaruh buku ketempatnya semula. Ia juga tak berniat berbicara kepada Kahfi juga ponselnya yang rusak menjadi tambahan pikirannya.


"Ay. Mas mau meminta maaf sama Ayang soal foto dan vidio juga pesan tak sopan yang Ayang terima." Kahfi sudah menggenggam kedua tangan Lexi entah sejak kapan. "Ayang jangan marah lagi ya. Mas janji ga bakalan terulang lagi." Kahfi terlihat menyesal. Dia mencium pergelangan tangan Lexi dengan sangat lama.


Tapi Lexi masih heran dan bertanya dari mana Kahfi mengetaui tentang itu sedangkan ponselnya yang rusak saja tak ia ketahui ada di mana.


"Mas tau dari Bang Kahfa." ujar Kahfi mengetahui apa yang ada di pikiran Lexi.


"Mas mau klarifikasi masalah itu Ay. Sungguh Mas tak sengaja bertemu dengan Zahra. Lagi pula di sana bukan hanya ada mas saja ada juga Ghaza di sana."


Lexi masih diam ia tidak tau harus menanggapi seperti apa?


Kahfi menjelaskan tentang pertemuan yang tidak di sengaja antara ia dan Zahra. Tapi sepertinya tidak mempengaruhi Lexi sama sekali. Wanita itu masih setia dengan kebisuannya.


Ya Lexi masih menyalahkan Kahfi harusnya suaminya itu berbicara padanya sebelum Kahfa mengatakan alasannya marah, tentang pertemuannya dengan Zahra, sebelum ia mengetahui alasan kemarahannya dari Kahfa.


"Aku lelah ingin tidur." Lexi mengacuhkan Kahfi. Baginya percuma saja Kahfi meminta maaf ia lebih dulu sudah terluka. Lagipula jika Lexi memaafkan Kahfi lebih mudah maka Kahfi tak akan memili efek jera dan kemungkinan Kahfi melakukan kesalahan yang sama bahksn mungkin lebih besar.


.


"Aku menyayangimu Lexi. Tapi rasaku ini tidak lantas membuatku gelap mata. Maaf di masa lalu aku sudah mengklaimmu sebagai gadis aneh. Tapi nyatanya aku terhanyut dalam pesonamu. Tapi kau tenang saja. Aku tak akan melakukan hal kotor untuk memisahkanmu dari pria yang kau cintai. Sebisaku aku akan membuat Kahfi terus mengarahkan pandangan dan cintanya hanya tertuju padamu." Kahfa mengusap potret Lexi yang berada di ponselnya.


Kahfa tau dirinya bersalah mencintai adik iparnya sendiri. Tapi mengenai rasa siapa yang mampu mengendalikannya. Tapi yang hanya bisa ia lakukan adalah menjaga Lexi dari kejauhan. Juga menjaga hatinya agar tidak semakin terluka kala Lexi mengucapkan kalimat-kalimat cinta pada Kahfi.


Sejak kapan Kahfa menyukai Lexi? Jawabannya entahlah Kahfa sendiri tidak tau. Tapi mengingat Lexi yang begitu mencintai Kahfa membuatnya berkecil hati. Lagi pula ini salahnya di saat Ibu Kimmy menanyainya tentang pendapat mengenai Lexi Kahfa malah menolaknya keberadaan gadis itu.


Ya Kahfa terlalu sombong dengan dirinya yang merasa tinggi, hingga ia berpikir jika wanita yang ingin menjadi pasangannya harus berakhlakulkarrimah. Sedangkan ia melupakan jika Allah adalah sebaik-baik perencana sesuatu.


Kahfa menyesal sudah memandang remeh adik iparnya. Nyatanya dengan kepakirannya akan ilmu Lexi selalu mengusiknya dengan pesona dan caranya sendiri.


Bagi Kahfa tahta tertinggi mencintai adalah membiarkan Lexi dengan cintanya ia hanya melihat dan turut bahagia dengan kebahagiaan adik serta adik iparnya.


Mati-matian Kahfa selalu menyembunyikan perasaannya. Hal yang paling melukainya adalah melihat Lexi terluka di hadapannya sendiri. Dengan keterbatasan yang ia miliki ia ingin selalu melihat kebahagiaan di mata adik iparnya. Cinta tak harus memiliki, semboyan itu yang menaungi Kahfa dengan segala kesalahan yang ia sengaja.


Kesalahan yang sengaja ia tantang dengan mencintai adik iparnya sendiri berbalut luka yang ia rasakan seorang diri.


Tak apa sungguh. Justru dengan seperti ini Kahfa merasa dirinya lebih hidup dan berwarna.


Kahfa sangat menikmati debaran jantungnya saat mengingat Lexi. Ia sangat menikmati kekaguman yang ia sembunyikan di balik kata pedasnya.

__ADS_1


Kahfa tak menuntut untuk Lexi membalas rasanya.


Ia juga menikmati rasa sesak dalam dadanya saat Lexi mengucapkan banyak cinta untuk adiknya. Ya luka yang di dapat Kahfa adalah luka yang ia sengaja.


__ADS_2