Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Apa Kabar Lexiku?


__ADS_3

"Astaghfirullah, calon kakak iparku sepertinya selain patah tulang dan patah hati, aku rasa kewarasannyapun ikut patah." gunam Lexi.


Lexi meringis pelan, tawaran Kahfa terdengar menggiurkan seandainya hati Lexi belum di miliki oleh Kahfi. Dulu bisa saja Lexi mengatakan bahkan memilih salah satu putra Ridwan dengan memejamkan mata ia tak akan menyesal, karna semua putra tantenya sangat tampan, tapi nyatanya tidak sesederhana itu. Hati yang sudah di belenggu serta di bawa oleh Kahfi. Tampan saja tidak cukup untuk membuat gadis cantik itu tertarik atau berpindah hati dari Kahfi.


"Maaf Gus Kahfa, jika apa yang akan Lexi katakan sedikit menyinggung Gus Kahfa!"


Teg, belum Lexi berbicara banyak hal, cukup hanya satu kalimat itu mampu membuat Kahfa menebak jika Lexi menolaknya secara kasar. Tapi tutur bahasa Lexi terdengar santun dan penuh perhitungan, ternyata gadis yang selalu di ragukan Kahfa memiliki daya tarik tersendiri, tapi sayang yang menyadarinya lebih awal adalah Kahfi.


"Bagiku apa yang terjadi kali ini adalah ujian untuk cinta kami. Rasanya aku tak perduli saat seorang pria melamarku dengan setengah dunia karna kekayaannya, atau sosok pria jelmaan Dewa sekalipun. Sepertinya aku sakit jiwa aku tak bisa melenyapkan Mas Kahfi dalam ingatanku. Aku tergila-gila dengan adikmu Gus Kahfa." Ada binar bahagia di kedua maniknya yang indah. Lexi bahkan meraih air minum di sampingnya dan meneguknya beberapa kali.


Kahfa tercenung sesaat menikmati raut merona dan salah tingkah sepupunya.


"Apa yang membuatmu menyukai Kahfi?" Tanya Kahfa menasaran.


"Entahlah, semua perlakuannya terlihat manis di mataku. Astaghfirullah, manis apanya ya? Aku melihatnya bukan mencicipinya." tanya Lexi pada dirinya sendiri. "Ya Tuhan otakku." Lexi mengeplak kepalanya karna kata mencicipi terdengar ambigu, jangan sampai Kayla dan Kahfa berfikir macam-macam.


"Bahkan hanya sekedar menanyakan keberadaanku saja Mas Kahfi mampu menciptakan taman di hatiku."


"Taman?" Kayla tak mengerti.


"Maksudku dia lebih dari membuat aku berbunga-bunga."


"Oalah, bahasa orang bucin memang beda." Cibir Kayla, Lexi sendiri merasa heran dengan perasaannya yang semakin hari semakin meletup-letup, rindunya semakin tinggi dengan pria yang bernama Kahfi itu.


"Bagai mana jika Kahfi kembali dengan orang baru?" pertanyaan Kahfa menghancurkan fantasi Lexi yang meninggi, seketika senyuman lebar itu surut dari bibirnya.


Kayla sampai merasa ikut terkhianati dengan kalimat Abangnya yang tak tertebak.

__ADS_1


"Abang." Kayla melototkan matanya.


"Aku hanya berkata seandainya Kay, semua kemungkinan itu bisa terjadi."


Benar juga apa yang di ucapkan Kahfa bukan hal mustahil jika Kahfinya berpaling pada orang baru, jika pria itu tersesat atau bisa jadi Kahfi amnesia atau melupakan keberadaan Lexi yang menungginya.


"Tidak apa, aku akan menerima takdirku." suara Lexi tercekat di tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tersumpal.


"Aku mencintainya tulus tanpa syarat apapun. Jika seandainya ia terlibat cinta baru itu urusannya. Urusanku hanya satu tetap mencintainya dengan segala resiko yang ku ambil." Lexi membuang muka, mudah saja bagi Lexi berkata demikian. Berbeda dengan hatinya yang panas dan bergejolak. Hey jangan mengatakan Lexi gadis munafik karna berkata tidak jujur, ia hanya sedang mrncoba menghibur dirinya sendiri, karna imannya setipis kertas yang terbagi dua.


"Sial, aku terpengaruh ucapan Gus Kahfa. Rasanya ingin menenggelamkan diri di danau buatan di hadapanku." rutuk Lexi dalam hati.


"Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah." gunam Lexi pelan, Lexi menatap kesal Kahfa karna mengusik ketenangannya dalam mencintai pangerannya.


Menyadari tatapan Lexi padanya tiba-tiba terbesit di benaknya untuk semakin jauh menggoda gadis itu.


"Tidak akan." Bantah Lexi tegas.


Kayla merasa heran kembali saat Kahfa mencoba membuat Lexi kesal.


"Kay sepertinya karna patah hati Abangmu kebelet kahwin, akan lebih baik kau carikan calonnya. Aku yakin banyak santri wati yang tertarik dengan Gus Kahfa." Lexi berniat membuat Kahfa merasa tidak laku.


"Ck, aku tidak berencana menempuh jalur perjodohan."


"Kay sepertinya Cinta cocok untuk menikah dengan Gus Kahfa." usul Leci. "Gadis baik dan terlohat shaliha." lanjutnya lagi.


"Ck. Memangnya aku tidak laku. Seandainya saja kaki tak patah aku tendang kau ke danau itu." Lexi melotot, Kahfa sudah kembali ke mode menyebalkannya.

__ADS_1


"Tendanglah jika kau mampu." Lexi tersenyum mengejek.


.


Kahfi sekarang tengah duduk di kasur lantai usang milik pak Ahmad, pria tua itu terbatuk beberapa kali juga dengan suhu tubuh yang memanas.


"Bapak sakit?" tanya Kahfi perhatian.


"Iya Nak, Bapak sedikit tak enak badan." ujar Pak Ahmad jujur.


"Bapak istirahat saja jangan berjualan jika tak enak badan." Kahfi tak tega melihat pria tua yang sudah menolongnya.


Bapak itu tersenyum getir, ia tidak mengatakan pada Kahfi jika ia sangat miskin bahkan dapurnya tak akan mengepul jika ia tak berjualan.


"Apa bapak memiliki ponsel?" tanya Kahfi.


Pak Ahmad menggelengkan kepalanya.


"Nanti Bapak pinjamkan ponsel pada tetangga. Atau kau bisa mencatat nomor posel keluargamu biar Bapak yang menghubungi keluargamu." ujar Pak Ahmad.


"Saya tak ingat nomornya. Saya ingin mencari keluarga saya lewat sosial media."


"Nak Kahfi di desa ini sangat sulit jaringan apaligi jaringan internet, listrik saja baru sampai ke desa ini baru lima tahun yang lalu." ujar Pak Ahmad terus terang.


Kahfi mematung di tempatnya dudu, berari ini adalah Desa terpencil, pikirnya lalu bagai mana ia menghubungi keluarganya terutama ibunya dan Lexi.


"Apa kabar Lexiku?" gunam Kahfi. "Semoga kau dalam keadaan Baik." Kahfi menejamkan matanya mencari cara agar dapat menghubungi keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2