
Ditengah malam Ridwan kembali mengadu kepada tuhannya, meskipun sudah dua minggu berlalu tapi dirinya masih belum bisa melupakan apa yang terjadi pada istrinya, apa lagi tadi pagi Ridwan mengetahui jika istrinya tengah hamil, dan yang kini menggoncang pikirannya tentang anak siapa yang Kimmy kandung mengingat dia juga aktif melakukan hubungan intim sebelum kejadian naas itu.
Bukan Ridwan tidak mempercayai ucapan istrinya, hanya saja sebagai manusia biasa ia memiliki ego yang tinggi untuk memaafkan begitu saja kejadian dua minggu lalu.
Kimmy semakin terpukul dengan fakta yang kembali mengingatkan dirinya bahwa ia sudah di sentuh pria lain selain suaminya, ia sudah memohon ampun pada tuhannya tapi jika ia harus memohon pada suaminya itu hal mustahil Kimmy lakukan karna ia merasa tidak melakukan kesalahan, Ayolah, Kimmy tetaplah Kimmy, wanita yang keras kepala, ia merasa perasaan cintanya juga tak seutuh dahulu. Perlakuan dingin Ridwan sedikit demi sedikit mengikis rasa cintanya, bahkan ia tak merasakan sakit hati lagi saat Ayudia semakin gencar mendekati suami, baginya sekarang hanya pokus untuk kesehatan mental dan bayi yang kini ia kandung, tak perduli siapa ayahnya tapi yang jelas Tuhan telah memberikan amanah itu padanya.
"Kapan kau akan menikahi mantanmu itu?" Kimmy bertanya dengan acuh tak ada riak pada wajah cantiknya.
"Kau begitu antusias sekali ingin memiliki seorang madu!" Ridwan menganggap jika Kimmy menanyakan perihal Ayudia, karna menyadari kesalahannya Ridwan juga kesal pada istrinya setelah dua minggu berlalu istrinya tidak satu kalipun mengucapkan maaf padanya.
"Ya, aku sudah tidak sabar ingin menyandang status janda."
Degh,, Kali ini Ridwan kena mental, ia tidak berencana untuk menceraikan istrinya.
"Kau ingat sekarang kau sedang hamilkan, jadi berhenti membahas petceraian. Meskipun aku tidak mengetahui anak siapa yan kau kandung" Sarkasnya dengan sinis, Kimmy tersinggung dengan ucapan suaminya, meskipun dirinya juga ragu anak siapa yang menghuni rahmnya.
__ADS_1
"Kau tenang saja kita bisa bercerai setelah anak ini lahir, jadi selama itu jangan mimpi untuk menikahi wanita manapun."
"Sampai aku matipun aku tidak akan menceraikanmu. Meskipun kau mati sekalipun kau masih akan menjadi istriku, dan untuk masalah janji dan sumpahku itu tidak berlaku lagi semenjak kau di sentuh pria lain." Untuk kali ini Ridwan mengakui sudah bersikap egois tapi mau bagai mana lagi ia terlalu sakit hati dengan istrinya, tapi untuk membiarkan Kimmy pergipun ia juga tak sanggup.
Jika kehamilan pertamanya Ridwan sangat antusias berbeda dengan kali ini, Ridwan bersikap tak perduli lagi pula anak yang di kandung istrinya juga belum tentu anaknya.
"Lihat saja siapa yang akan paling menderita dari kisah ini, lanjutkan apa rencanamu Ridwan jika kau menikah lagipun itu lebih baik bukan, kau ingin membalas sakit hatimu bukan lakukan saja, nikahi wanita itu jika perlu sekarang juga, sungguh aku kasihan pada janin dalam rahimku, siapapun ayahnya ia sudah menjadi yatim karna tak memiliki ayah. Aku akan membiarkanmu menikah bukan karna mengakui kesalahaku atau membenarkan tuduhanmu, sebenarnya aku hanya ingin menghabiskan cinta yang sebenarnya hanya tersiksa sedikit, jika semuanya telah habis maka aku pastikan tidak ada yang dapat menghetikanku termasuk dirimu." Kimmy hendak beranjak tapi tangannya di cekal Ridwan.
"Jangan lupakan kau juga seorang ibu, apa kata orang jika kau memilih meninggalkan suami dan anak-anakku hanya karna jika aku menikah lagi, padahal itu di perbolehkan."
Pada akhirnya di sini ia berada, di dalam kamar kedua anaknya. "Kakak, adik, jika Ibu, pergi kalian jangan nakal ya yang nurut sama Ayah."
"Memangnya Ibu mau kemana? jangan pergi lagi, kemarin saja adik sampai demam saat ibu pergi." Si sulung Kahfa yang menjawab, di usianya yang baru lima tahun bocah itu sudah sangat pasih berbicara.
"Iya, ibu jangan pelgi-pelgi lagi, jangan tinggalin kita, jika ibu pelgi kita juga halus ikut." Kali ini adiknya yang berbicara bahkan bocah itu sudah berderai air mata.
__ADS_1
"Jika adik dan kakak ikut ibu, lalu siapa yang akan menemani ayah?"
"Biarkan saja ayah sudah besar, lagi pula Ayah masih ada Bibi Ayudia dan Ghaza, bukankah mereka akan menikah, kata om Riza seperti itu. Biarkan meteka hidup tanpa kita Bu" Aneh Kimmy tidak merasakan sakit sama sekali mendengar penuturan putranya.
"Iya, bu, kita bisa memulai hidup tanpa Ayah, tanpa semua olang, hanya kakak, ibu, aku dan adik bayi, Kafi janji tidak akan nakal lagi, Kafi akan jadi anak baik."
"Lagi pula Ghaza juga anak ayah, bahkan dia memanggil ayah juga sama seperti kami, bahkan sepertinya ayah lebih menyayangi Ghaza karna dia lebih penurut di banding Kafa."
Deg.. Ridwan memaku di depan kamar putranya.
Berbeda dengan Kimmy, Ridwan justru merasa kebalikannya Dadanya terasa sesak saat mendengar percakapan itu, kedua putranya ternyata merasa tersisihkan selama ini karna perlakuannya pada Ghaza, padahal Ridwan memerdulikan Ghaza tak lebih dari sekedar rasa kasihan dan prihatin.
Jangankan untuk kehilangan semua keluarganya bahkan Ridwan tak ingin kehilangan Kimmy, Harus dengan apa Ridwan menahan mereka agar tidak pergi meninggalkannya.
"Haruskah aku melupakan apa yang sudah terjadi, tapi apa yang harus ia lakukan." bahkan Uminya sekarang malah mendukungnya untuk menikah lagi karna kejadian kemarin.
__ADS_1
Tadinya Ridwan ingin balas sedikit menyakiti Kimmy dengan kabar pernikahannya tapi justru dirinya yang kewalahan dengan keadaan, ia lupa jika Kimmynya wanita tangguh yang tidak akan perduli apa kata orang.