Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Aku pergi demi kewarasanku


__ADS_3

Uwa Risma tiada karna ulah dirinya. Seandainya Uwa Risma tak menyelamatkan Lexi dari hantaman mobil itu, pasti Lexilah yang akan mati di sana, namun sepertinya itu lebih baik dari pada dirinya harus terus di salahkan oleh Kahfa.


Dari semenjak di rumah sakit sampai saat ini, di tengah pemakaman Uwanya. Kahfa terlihat sangat menyalahkan Lexi, dari kalimat yang meledak-ledak ketika di rumah sakit, sampai sekarangpun masih terngiang-ngiang di telinga Lexi.


Ibu Kimmy dan Ayah Ridwan mencoba menenangkan dirinya, memberitahu jika ini adalah suratan takdhir dan ketentuan dari Allah, tapi terus terang ini tidak membantu Lexi sama sekali.


Lexi masih berharap Kahfa mau memaafkannya.


Kahfa masih mendiamkan dan berusaha menghindarinya. Mengabaikan Lexi, meski Lexi sudah berulang kali meminta maaf pada suaminya itu, tapi hati Kahfa sekeras baja. Kahfa bahkan selalu menepis tangan Lexi yang berusaha menggapai dan ingin berbicara dengannya. Kahfa berharaf dengan mengabaikan Lexi, wanita itu dapat menyadari kesalahan serta kekeras kepalaannya yang menyebabkan kematian Uwanya.


Seminggu telah berlalu diantara suasana duka juga rasa penyesalan Lexi merasa tertekan atas sikaf Kahfa. Bahkan pria itu tidak pernah tidur di kamar mereka lagi sejak kepergian uwa Risma.


Belum habis-habis Tuhan memberikan penderitaan untuknya.


Saat Kahfa kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian, Lexi menghampiri Kahfa yang tengah memilih pakaian di depan almari yang terbuka.


Lexi memeluk Kahfa dari belakang dirinya terisak pelan di antara punggung lebar suaminya, ia memohon maaf atas kelalaian dan kekeras kepalaan yang melanggar perintah Kahfa. Tapi pria itu malah menghempas kasar tangan Lexi, dan berlalu tanpa mengatakan apapun.


Sekali lagi Lexi kehilangan arah, rasanya ini lebih sakit dari apapun.


Lexi tau dirinya bersalah. Tapi haruskah Kahfa bertindak sampai seperti ini?


Lexi mencoba berbicara pada Ibu Kimmy, ia mengaku bersalah dan meminta agar mertuanya menyampaikan maaf pada Kahfa, Lexi berharap Kahfa mau mendengarkan ibunya. Mengingat suaminya selalu menurut akan perkataan ibu Kimmy.


Kimmy sangat menyayangi Lexi dan sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri. Sebenarnya meski Lexi tidak memintanya untuk membujuk Kahfa. Kimmy kerap kali meminta Kahfa untuk menyudahi marahnya. Tapi Kahfa seakan tuli, ia masih saja mengabaikan Lexi.

__ADS_1


Sayang sekali Kahfa masih tetap mengabaikannya.


Saat Zayn menangis di tengah Kahfa mengambil suatu barang di kamarnya. Entah Zayn memang merindukan sosok Kahfa sebagai ayahnya atau memang Zayn tengah rewel karna suasan hati Mamanya yang tengah buruk.


Inilah puncak kesakitannya. Lexi menyadari Zayn memang bukan putra pria itu, tapi tetap saja bathinnya sebagai seorang ibu terluka kala suaminya turut mengabaikan putranya yang tidak terlibat dengan kesalahannya.


Lexi berharap semoga Kahfi bisa melihat semua ini di manapun dirinya berada. Tak akan ada seorangpun yang dapat menyayangi seorang bayi dengan tulus selain ayah dan ibunya.


Lexi membiarkan putranya menangis mencoba melihat dan menilai akankah Kahfa melemah hanya karna suara tangisan Zayn. Tapi sepertinya Kahfa memang tidak terpengaruh sama sekali. Pria itu masih melanjutkan aktifitasnya memilih dokumen di atas kursi sofa.


Kahfa sepertinya tidak memperdulikan tangisan Zayn yang terdengar sesegukan. Dan ini berhasil membakar setiap pesakitan yang di rasakan Lexi, ya Lexi harus bangkit demi putranya.


Sebelum pergi Kahfa mengatakan sesuatu yang semakin melukai perasaan Lexi dan memperparah kubangan luka yang dialaminya.


Tidak tahukakah Kahfa jika dirinya juga terluka dan merasa kehilangan bahkan merasa bersalah, ia juga menyesal, lantas harus dengan apa ia menerima hukumannya.


"Kau menyuruhku pergi?" Lexi berusaha bertanya dengan suara yang bergetar meraih bayinya yang sejak tadi ia biarkan menangis di atas ranjangnya.


Kahfa hanya diam, sesaat melirik kearah Zayn yang tengah menangis di gendongan ibunya. Lexi terlihat kepayahan menenangkan bayi itu. Tapi ego Kahfa masih berada di permukaan sehingga enggan untuk mendekat, padahal hati kecilnya sangat merindukan bayinya.


Sebelum Kahfa betlalu dari kamarnya, Lexi berdiri lebih dulu. Lexi membawa bayinya keluar dari kamar Kahfa, di ambang pintu Lexi repleks berceloteh.


"Ayo kita pergi. Biar pemilik kamar ini bisa menenangkan diri." celotehannya tak keras, tapi masih dapat di dengar oleh Kahfa dengan sangat jelas.


Lexi tak lagi menangis ia membawa bayinya keluar menuju kamar Kahfi dan segera menguncinya dari dalam. Sejak tadi Lexi berusaha membendung air mata dan kali ini ia akan tumpahkan semuanya di sini, di tempat ini. Saksi bisu atas setiap kekejaman Tuhan akan hidupnya.

__ADS_1


Manakah yang lebih sakit saat seorang wanita kehilang berkali-kali, di salahkan juga di sudutkan. Ini sakit sekali, Lexi menyusui bayinya dengan air mata yang bahkan membuat matanya nyaris tak terlihat.


Zayn semakin menangis karna ibunya turut menangis, sepertinya bayi itu sangat paham akan situasi ibunya. Zayn tak mau menyusu lagi bahkan bayi itu terlihat sangat kelelahan dan terlelap dengan sendirinya menyisakan cegukan kecil di antara tidurnya.


"Cup-cup, anak ibu jangan menangis. Kita akan pergi ya. Papamu sudah menyiapkan tempat yang baik untuk kita."


"Papamu sangat peduli terhadap kita. Kita tak perlu cape-cape bekerja keras untuk hidup enak. Papamu sepertinya sudah bisa memprediksi akan apa saja yang terjadi di hidup kita." Lexi mengecupi kepala putranya. Ya ia perlu menepi dari orang-orang yang di kenalnya.


Lexi tak tahan lagi berada di rumah itu, sepertinya ia memang harus pergi sekarang. Beruntung, Kahfi sudah menyiapkan beberapa rumah atas nama Lexi. Juga harta-harta lain di luar nama keluarganya. Kahfi memang perencana masa depan yang matang untuk istri serta anaknya.


Lexi membawa surat-surat penting yang ia letakan di dalam brankas, juga tabungan yang sudah di sediakan Kahfi untuknya dan bayinya.


Lexi juga melepas potret kahfi dari dari pigura di atas nakas.


"Kau lihat! Tak ada yang bisa mencintaiku sebaik kau." Lexi memeluk poto itu dan turut serta memasukannya dalam tasnya, lengkap dengan surat-surat penting dan sejumlah uang tunai. Tak lupa Lexi membawa seluruh perhiasan yang di milikinya.


Bukannya hidup di luar sana sangat keras Lexi perlu perencana serta dana yang cukup untuk memulai hidup baru.


Lexi hanya membawa satu tas besar yang berisi harta-hartanya. Seutas kain yang ia gunakan untuk menggendong Zayn, juga sehelai selimut bayi yang ia gunakan untuk menghangatkan tubuh putranya. Ponsel yang ia gunakan untuk memesan taksi online, Selain itu Lexi tak membawa apapun lagi.


Layaknya seorang maling Lexi mengendap, untuk keluar dari rumah itu. Tapatnya pukul sebelas malam Lexi pergi.


Bulir air mata Lexi terjatuh saat melewati kamar Ayah dan ibu mertuanya. Ia mengusap pelan pintu kamar itu. "Ibu, Ayah terimakasih kalian sudah menyayangiku dan putraku. Semoga kalian selalu bahagia." Lexi pergi dengan membawa luka dan harapan baru dari rumah itu.


Lexi berjalan gontai meninggalkan pondok pesantren yang hampir dua tahun memberikannya hidup yang penuh rasa dan beraneka ragam.

__ADS_1


Lexi berjanji akan tetap menjadi seorang muslim meskipun tak tinggal di pondok itu. Sesekali Lexi menoleh ke belakang di dalam taksi yang mulai membawanya pergi meninggalkan semua kenangan.


Lexi tersenyum dengan air mata yang kembali menetes. "Mas Kahfi, terimakasih karna kau sudah memberikan Zayn untuk menemaniku sehingga aku memiliki alasan untuk tetap bertahan. Maaf, karna tak lagi menjalankan wasiatmu, semoga kau mengerti. Aku pergi demi kewarasanku." Lexi mengecup kening putranya yang terlelap di pangkuannya.


__ADS_2