
"Abanglah yang banyak berkorban demi rumah tangga kami." lirih Kayla.
"Itu artinya Ghaza sangat mencintaimu, Nak."
"Iya, Bu. Aku rasa juga begitu."
"Tapi bagaimana jika Kay tak bisa memberi ibu cucu?" Bukan Ayudia yang berkata demikian melainkan Kayla sendiri. Kayla sadar diri akan kekurangannya, dan dokter mengatakan hal itu, momvonisnya akan sulit memiliki anak.
Jika Ghaza legowo serta menerima kekurangannya, Kayla tak yakin jika ibu mertuanya akan diam saja, bisa jadi ibu mertuanya ini malah memaksa Ghaza untuk menikah lagi atau menceraikannya, atau menjalani pernikahan tersembunyi misalnya. Apapun itu Kayla tak ingin di poligami sekalipun ia akan berjalan merangkak ia rela asal jangan pologami yang terjadi.
"Kay ..." Ayudia menyentuh pelan punggung tangan menantunya satu-satunya, ia juga tak menyangka gadis yang belum genam dua puluh tahun itu bertanya hal itu padanya. Kayla perduli akan perasaannya juga tanggapannya.
Kayla mendongak menatap wajah ibu mertuanya yang di penuhi bintik merah dengan bergelembung seakan terisi kantung-kantung air di dalamnya, karna penyakit cacar air itu.
"Ibu sangat menyayangi Ghaza! Meskipun Ghaza terlahir bukan dari hubungan yang penuh cinta. Ibu bersalah di masa lalu, menyalahkan Ghaza akan takdir ibu yang malang. Ibu juga tidak mengurus dan menemaninya tumbuh. Tapi Ghaza tumbuh dengan baik dengan adab, ilmu, norma-norma dan cinta dari keluargamu Ghaza tumbuh besar sampai sekarang. Dan apa Kay tau Ghaza sudah membicarakan hal ini dengan ibu?" Ayudia menikmati wajah Kayla yang kebingungan.
Kayla menggeleng pelan, brnarkah? Lalu apa yang di bahas pria itu pikir Kayla.
"Abang mengatakan apa pada ibu? Pasti dia akan lebih leluasa saat berbicara dengan ibu." ucap Kayla sendu.
"Mungkin. Tapi dia meminta pada ibu, supaya tidak menuntut apapun darimu Nak. Dan ya Ibu mengerti, bagaimana Ghaza mencintaimu ibu sangat paham, ibu juga bangga padanya meskipun ayahnya bukan seseorang yang baik tapi ayah dan kakekmulah panutannya. Sesuai permintaan Ghaza ibu tidak akan menuntut apapun dari mu sebagai menantu ibu." selama menjadi seorang ibu Ayudia merasa belum pernah berkorban apapun untuk Ghaza dan mungkin sekarang inilah waktunya.
"Apa ibu terbebani menuruti keinginan Abang?" Kayla tau ini tidak mudah untuk ibu mertuanya, ia akan siap semisal ibu mertuanya menentang keinginan Ghaza, yang pasti ia tak akan melepas Ghaza selagi pria itu menginginkannya dan tidak berulah, dalam artian menghadirkan ratu atau selir lain.
"Tidak sama sekali, Nak. Bagi ibu kenyamanan Ghaza adalah yang paling utama. Ibu tau semuanya tak akan mudah, tapi di samping itu jangan pernah mengabaikan cintanya. Terang-terangan Ghaza mengakui mencintaimu dan ingin terus bersamamu meskipun tanpa anak sekalipun. Ibu bahkan meledeknya jika Ghaza terkena syndrom bucin akut." Ayudia tertawa. Tawa Ayudia menular hingga sampai pada Kayla, ia tenang suami dan mertuanya tidak menghakimi dan menuntutnya macam-macam dengan keterbatasannya.
"Nikmati prosesnya Kay. Kalian bisa mesra-mesraan lebih lama." Goda Ayudia. Sebenarnya tak ia pungkiri jauh di lubuk hatinya ia menginginkan seorang cucu, tapi apalah dayanya, yang terpenting putranya menderita.
Kring ... Kring ...
Panggilan masuk di ponsel Kayla.
"Speeker Nak, ibu ingin dengar suara Ghaza." sepertinya Ghaza tengah berada di perkebunan, sehingga sulit sinyal alhasih hanya panggilan suara yang bisa Ghaza lakukan untuk mengobati kerinduannya.
"Assalamualaikum ..." sapa Kayla lembut ia malu-malu, takut Ghaza mengatakan hal random, mengingat Ghazanya semakin mesum.
"Waalaikumsalam. Kay gawat, Kay." Serunya sedikit panik.
__ADS_1
"Ada apa Bang?" Kayla ikut panik.
"Pokoknya gawat."
"Abang ada apa?" Kayla semakin panik.
Begitu juga dengan ibu mertuanya, ayudia bahkan menegakkan tubuhnya.
"Dari pagi Abang belum di cium sama Ayang."
Epat saja dugaan Kayla, suaminya sering di luar nalar saat berjauhan.
Blas ... Merah sudah seluruh permukaan wajah Kayla, di goda seperti itu tentu saja membuatnya malu apa lagi tepat di hadapan mertuanya.
"Abang ih malu." Kayla memperingati. Ia ingin mematikan ponselnya tapi ibu mertuanya lebih dulu merebut ponselnya. Ibu Ayudia penasaran akan ke absolutan putranya.
"Ngapain malu, biasa juga abang telan jangin ga pake malu."
"Abaaang." jatuh sudah wajah Kayla di hadapan mertuanya, ada yang bisa mantra melengapkan diri, Kayla ingin menenggelamkan wajahnya yang malu di lautan.
"Apa sih cinta, kangen ya pengen di sentuh manja sama Abang." Ghaza pun terdengar tertawa bersemangat saat menggoda istrinya.
"Mau di mana yang lebih dulu Abang manjakan, bibir, leher dada atau ..."
"Abang stop, it!" Kayla kembali berteriak.
"Ih, apaan sih Kay biasa juga ga malu-malu gini." Ghaza semakin menjadi."
"Ghaza nakal kau ya!" ujar Ayudia, sampai Ghaza berhenti tertawa untuk beberapa waktu, di sana ia jiga malu. Apa ibunya mendengarkan kalimat-kalimat vul-garnya.
"I-ibu dimana Kay?" Akhirnya Ghaza mampu bersuara saat berhasil menguasai diri.
"Istrimu aman. Apa kau selalu berkata tidak sopan begini pada istrimu?"
"Tidak sopan bagaimana Bu? Bahkan Ghaza sering berkata yang lebih dari barusan."
"Ghaazaaaa."
__ADS_1
"Dalem buuu ..."
" Kalimatmu itu perlu di perbaiki, tak sopan."
"Sopan-sopan saja Bu, toh Ghaza berbicara dengan istri Ghaza, ngapain ibu ikut-ikut." ujar Ghaza tenang. Ghaza malah terdengar tertawa di ujung sana.
"Ya Allah, Ghaza kau ini."
"Lagian Kay juga suka di mesumin sama Ghaza Bu."
Ya Allah rasanya Kayla benar-benar ingin melenyapkan dirinya diantara pilar-pilar rumah itu. Bukan Kay menyangkal apa kata Ghaza,hanya saja ia sangat malu karna suaminya terlalu jujur ibunya.
"Ibu, apa Kay di rumah ibu?"
"Ya, Ghaza ibu sedang tak enak badan dan Kay kesini untuk menemani ibu."
"Apa ibu sudah ke dokter?"
"Sudah Nak."
"Ghaza mungkin masih lama di sini. Ada beberapa masalah yang tak mungkin di selesaikan dalam waktu singkat. Semoga Ibu lekas sembuh ya?" terdengar ada nada khawatir di suara Ghaza.
Ayudia senang saat putranya mengkhawatirnya. Ia pun bertanya untuk mengetahui apa benar Ghaza mengkhawatirkan dirinya atau tidak.
"Kau khawatir pada ibu Ghaza?"
"Ya Bu, bagai mana Ghaza tak khawatir ibu tengah sakit. Juga siapa yang akan mengurus ibu?"
"Kay lah Bang. Ibu kan mempunyai putri yang sangat cantik juga baik hati." Kayla mencoba menyingkirkan rasa malunya.
"Wah istri Abang memang baik. Nanti Abang kasih hadiah deh."
"Abang jangan macam-macam di sana ya!"
"Ya Abang tak akan macam-macam, bagai mana bisa Abang berbuat macam-macam sedangkan Kay sudah memenjara hati dan pikiran Abang." ucapan Ghaza membuat Kayla tersipu.
"Ih Abang. Sudah Bang, Kay tutup saja! Abang ngomongnya melantur."
__ADS_1
"Kay itu adalah wanita paling egois menurut Abang. Masa Kay maksa terus masuk ke pikiran dan hati Abang, padahal Abang tengah sibuk."