
Ridwan POV.
Aku bingung dengan keadaan sekarang ini, tentang masalah scandal yang menghantam pondok pesanten milik Abi, selama satu bulan pondok pesantren ini mengalami goncangan, banyak pula para orang tua yang mengambil alih putra putri mereka karna masalah kemarin. Semua itu sudah berlalu dan kini masalah itu kini baru selesai setelah Jason membayar seorang pengacara handal untuk membersihkan nama yang terlanjur melekat buruk pada pesantren ini.
Jika semua keluarga telah memaafkan dan menyelesaikan masalah santriwati yang hamil oleh Jaelani, lain pula dengan apa yang di lakukan Ayudia, dia terus menekan keluarga kami agar aku mau menikahinya, sungguh aku tidak menyangka wanita selembut itu bisa bertindak demikian. Riza adiku bahkan mengalah, dan menawarkan diri untuk menikahi Ayudia. Tapi Ayudia tetap menolak dengan keras. Jika memang Ayudia ingin di nikahi karna rasa malu atau apalah ia bisa menikah dengan Pria manapun Jason dan Sami bahkan ikut menawarkan diri, bukan karna mereka menyukai Ayudia, mereka hanya tidak ingin aku menikahi wati itu lalu menyakiti perasaan adik kesayangan mereka.
Tidak mungkin juga aku menikahinya karna aku tak memiliki alasan yang kuat, lagi pula aku tidak berniat membagi cintaku dengan wanita manapun, bagiku cukup Kimmy dan hanya Kimmy yang akan menempati hati ini.
Wanita yang aku nikahi beberapa bulan lalu kini semakin banyak berubah, ia mendalami ilmu agamanya dan sekarang wanita cantik itu sudah pandai membaca al-Quran dengan pasih, meskipun sikapnya masih semaunya dan bar-bar seperti di awal-awal kami menikah.
Kandungan Ayudia kini sudah membesar, anehnya dia enggan untuk pulang kerumah orang tuanya, dia masih berada di sekitaran pondok menempati salah satu rumah bekas ustadz yang dulu mengajar di sana, sungguh ini membuatku tak nyaman karna sering kali Kimmy mencemburuiku saat wanita itu menuntut perhatian dariku.
Ya aku memang tidak menikahinya, tapi Abi menyuruhku untuk bertanggung jawab atas anak yang ada di kandungannya, kata Abi mau sampai kapanpun sebelum Ayudia menikah anak itu adalah tanggung jawab kami, tapi Ayudia lebih membebankan itu terhadapku.
.
"Gus, kau sedang apa?" Kimmy mendekat dan duduk di sampingku dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
"Tidak, aku hanya sedang diam saja Dek,"
"Aku perhatikan dari tadi kau selalu melamun, Gus."
"Aku tidak Papa."
Kimmy masih tersenyum kepadaku, rautnya sangat terlihat bahagia di hadapanku, wajahnya yang cantik kini terlihat berlipat-lipat lebih cantik di mataku.
"Aku ada sesuatu untukmu." Kimmy tidak menyurutkan senyumannya.
"Apa." Tanyaku semakin penasaran. Kimmy meraih sebuah kotak di atas nakas yang entah sejak kapan benda itu ada di hadapan kami.
"Bukalah." Kimmy menyerahkan kotak itu dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku semakin penasaran dengan benda yang ada di kotak panjang berwarna coklat itu.
__ADS_1
Saat ku buka, aku melihat benda yang yang persis seperti alat pengukur suhu tubuh, bukan lebih tepatnya seperti sebuah alat tes, tapi aku masih mengerutkan kening mencoba mencerna benda apa yang kini aku pegang, aku mengerjapkan mata berulang kali saat melihat dua garis merah di alat itu, aku tidak bodoh aku tau artinya.
"Kau positive, Dek?" Istriku mengangguk penuh antusias, berbeda denganku yang justru khawatir.
"Sejak kapan? Ayo kita ke dokter, kau pasti sembuh, kau akan mendapatkan penanganan terbaik di rumah sakit." Ucapku khawatir, penyakit covid kini sedang meraja rela, sekarang malah Kimmy yang mengerutkan kening penuh tanya.
"Aku sehat Gus, kau tidak usah khawatir seperti itu."
"Kau sakit, Dek, kau terkena covid 19." Tuturku lirih.
"Kenapa jadi Covid? Gus Aku positive hamil, bukan positive covid." Srkarang wajah itu terlihat sangat kesal, sekarang aku yang mulai berpikir.
"Ha-hamil?"
"Ya. Aku hamil!"
"Hamil bayi?"
"Tentu saja, kau pikir hamil itu apa selain bayi isinya."
"Ya Allah, ya iya Gus mana mungkin aku hamil bayi Abimu." Kimmy terlihat makin menggemaskan di saat kesal seperti ini.
Terimakasih ya Allah, terimakasih, Alhamdulillah, aku dangat bahagia, disaat umurku sudah menginjak angka 29 tahun, Allah menitipkanku sebuah amanah yang sangat aku inginkan. Berkali-kali aku mengecupi dahi istriku, aku tak hentinya mengucapkan terimakasih untuknya, telapak tanganku sudah beberapa kali menyentuh perut istriku yang baru kusadari sekarang terasa begitu berisi, sejak kapan ya? Aku tidak terlalu memperhatikannya saat malah kemarin datang dan di tambah dengan masalah Ayidia yang sekarang jadi banyak tingkah dan banyak maunya, aku sedikit mengabaikan istriku.
"Maafkan aku, aku tidak memperhatikanmu dengan baik."
"Ya tidak Papa, aku mengerti."
"Ayo kita kedokter." Aku menggandeng tangan istriku menuju rumah sakit terdekat.
Saat itu ada dokter sepecialis kandungan dan dokter langsung menyarankan kami untuk segera di Usg, kamipun menyetujui hal itu segera melakukannya.
__ADS_1
Kimmy di suruh berbaring di ranjang pasien dan secara perlahan dokter membaluri perut bagian bawah Kimmy dengan cairan berupa gel bening, kemudian menempelkan alat yang tidak ku ketahui namanya, dokter menyuruhku untuk melihat ke aram monitor.
"Selamat pak, istri anda memang sedang mengandung, dan ada dua kantung janin di sini, kemungkinan besar janin bapak kembar." Dokter menjelaskan dan menunjuk dua titik putih yang berada di monitor itu.
Ya Allah, begitu baiknya engkau, memberiku kepercayaan yang begitu luar biasa, tanpa bisa di cegah air mataku luruh begitu saja, ini adalah air mata kebahagiaan.
"Berapa minggu usia bayiku dok?" Kimmy mengajukan pertanyaan yang lupa tak sempat ku tanyakan.
"Sudah delapan minggu Bu, menurut hasil dari pemeriksaan." Jawab dokter itu.
Di perjalanan pulang aku tak henti-hentinya melebarkan senyum, mengingat aku akan menjadi calon ayah dari dua bayi di rahim istriku, tak sia sia aku bekerja keras selama ini.
"Dek mampir di super market ya beli buah dan susu hamil, agar bayi-bayi kita sehat."
Kimmy menganggukan kepala antusias, kebahagiaannya nyata tercipta di wajahnya.
Banyak buah yang aku beli di sana, begitu juga dengan susu hamilnya, aku membeli merek paling bagus dengan tiga rasa berbeda, karna aku tidak tau Kimmy akan menyukai yang mana, jika saja Kimmy tidak menyadarkanku mungkin aku sudah memborong setiap susu hamil yang ada di sana. Ya aku memang sebahagia ini untuk menyambut calon anak kami.
Saat tiba di depan rumah aku tidak membiarkan Kimmy membantuku untuk mengambil barang belanjaan, tapi tiba-tiba Ayudia mengambil sekantung buah-buahan yang aku beli.
"Ini pasti buat aku kan?" Ucapnya penuh percaya diri. Aku merebut balik kantong itu.
"Enak saja, ini untuk istriku." Ketusku.
"Tapi aku ingin buah-buahan itu." Ayudia tetap kekeh ingin belanjaan kami.
"Berikan saja Gus, nanti kita beli lagi." Kimmy menyuruhku mengalah.
Tapi entahlah aku tak mau melakukannya, menurutku ini untuk anak dan istriku maka akan tetap seperti itu.
"Ini untukmu, aku membelikannya khusus, jika dia ingin biarkan nanti aku akan menyuruh orang untuk membelinya lagi." Aku berkata tanpa bantahan aku menggiring tubuh istriku untuk memasuki rumah.
__ADS_1
.
.