
Sudah sebulan Ridwan tinggal di rumah barunya ternyata tinggal menepi dari keluarga besarnya membuat Ridwan tenang. Ia tidak menyangka jika tinggal hanya dengan istri dan anak-anaknya benar-benar menyenangkan. Kimmy terlihat semakin bahagia dan semakin berekpresi jika di bandingkan dulu saat masih serumah dengan orang tuanya.
Kimmy mengakui mertuanya baik dan ia nyaman tinggal serumah, tapi ini benar-benar berbeda di mana di rumah ini ia merasa menjadi ratu satu-satunya apapun yang ia lakukan tidak sedikitpun menimbulkan rasa tak enak hati dalam dirinya. Sungguh tinggal terpisah dari orang tua adalah surga dunia bagi Kimmy, ia bebas bangun kapanpun sesuai kehendaknya, tidak perlu memikirkan apapun ah hidup Kimmy terasa tentram. Tidak ada lagi ipar, tidak adalagi gangguan dari Ayudia dan anaknya, Jika nanti anak-anaknya menikah Kimmy akan membiarkan anak dan menantunya bebas memilih mau tinggal di manapun, ia tidak akan mengekang anaknya untuk tetap tinggal dengannya.
"Sayang lihatlah, aku memiliki sesuatu. Aku memesannya langsung." sebuak kotak berwarna biru tua ia berikan pada istrinya.
"Ini apa?"
"Bukalah, aku tidak tau seleramu seperti apa, tapi aku memesan model terbaru dan bahan yang terbaik."
Kimmy meraih kotak yang ia yakini kotak itu adalah tempat perhiasan. Dan benar saja saat di buka nampaklah satu set perhiasan cantik berhiaskan berlian murni.
"Ini." mata Kimmy berkaca-kaca, manik itu di lapisi cairan bening yang mengembun sedari tadi.
"Terimakasih. Ini sangat indah." Kimmy meraih kalung itu. "Tapi aku akan memakainya setelah melahirkan nanti." matanya berbinar bahagia.
__ADS_1
"Mau makan malam di luar?" Ridwan menyerahkan satu buket mawar merah pada istrinya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan mengganti moment beberapa tahun yang lalu. Sungguh kehilangan Kimmy kemarin adalah pelajaran yang sangat berharga untuknya. Ia akan mengganti ke tidak peduliannya pada istrinya itu.
"Nanti saja, sekarang aku sedah susah kemana-mana. Sudah berat rasanya." Kimmy meraih bunga di tangan suaminya. "Kenapa sekarang kau jadi aneh sekali sering memberi bunga? seakan aku kuburan baru." Gubrak, Kimmy tetaplah Kimmy yang selalu merusak suasana romantis di antara mereka.
"Ya Allah, kau ini Dek. Aku sedang berusaha terus memupuk rasa cinta di antara kita supaya terus tumbuh. Tapi tega sekali kau merusak imajinasiku." Ridwan memberenggut kesal. "Kupikir kau akan mengecupi wajahku dan menawarkan jatah siang ini." Ridwan menarik dan menghembuskan nafasnya kasar. Ia merajuk.
"Astaghfirullah, sejak kapan kau seperti anak kecil? Sering merajuk sungguh tak pantas di umurmu yang sudah tua." Kimmy tertawa geli melihat tingkah suaminya yang menyilangkan tangan di dada serta dengan air muka yang masam.
"Bujuk aku!" titah Ridwan dingin.
"Apa yang kau miliki?"
"Ampun Tuan, aku tidak memiliki apapun selain tubuh gempal ini." ucapan Kimmy menggoda.
"Ya sudah jika seperti itu, aku meminta tubuhmu itu." Kekeh Ridwan gemas.
__ADS_1
"Tapi tubuhku sakit sekali, kakiku juga bengkak." Kimmy menujukan kakinya yang membengkak karna di sebabkan oleh kehamilannya yang sudah masuk HPL. Jika dua hari lagi bayinya belum lahir maka akan di lakukan tindakan oprasi Caesar.
"Biar ku pijit." Ridwan memijit kaki istrinya.
"Pijitanmu enak, kenapa tidak jadi tukang pijit saja?" kekeh Kimmy puas.
"Honor tukang pijit tidak akan cukup untuk menafkahimu yang gemar berlanja." Sewit Ridwan.
"Benar juga." Kimmy nyengir kuda.
Setelah beberapa saat memijat Ridwan mulai berulah, fokusnya sudah tidak beraturan, apa lagi tangannya.
"Dek, udah ya, sekarang giliranku mengambil upahku." Ridwan sudah mengecupi tungkai istrinya tapi aktifitasnya terhenti saat anak kembar mereka memanggil dari luar kamar.
"Ayah, ibu ..."
__ADS_1
"Yah, gagal lagi." Ridwan medengus kasar.