
polisi sudah tiba di rumah sakit, meminta beberapa keterangan dari Lexi juga seorang pekerja di rumah Ridwan.
Dua orang polisi itu menyimpulkan jika ini adalah di sengaja dalam artian di balik semua ini terdapat pelaku yang merencanakan hal ini.
Baik Ridwan dan Kimmy sama-sama terkejut mendengar dugaan yang terjadi, mengingat mereka merasa tak memiliki musuh.
Polisi juga mengatakan akan di mengusut tuntas kasus ini. Sample sudah di bawa ke kantor polisi untuk penyidikan dan bukti, dan restoran tempat Kahfi membeli rendang di tutup sementara, juga beberapa pegawai yang di amankan oleh poloisi yang mana di curigai pegawai restoran menjadi dalang dari kedadian ini.
Lexi di papah menuju ruangan Daddy dan Mommynya berada. Besok pagi rencananya mereka akan di makamkan, di pemekaman yang tak jau dari pondok.
Kedua orang tua Lexi terbujur kaku juga mata yang terpejam rapat, terlihat bibir kedua orantuanya membiru. Lexi kembali meledakan tangisnya, mengabaikan orang lain serta kekuarganya yang ada di ruangan itu.
"Daddy bilang ingin menetap di kota ini agar Daddy dan Mommy lebih mudah mengunjungiku. Tapi Daddy berbohong, nyatanya aku yang akan mengunjungi makam kalian." Lexi meracau, di sela air matanya yang menganak sungai.
"Jika aku tau akhirnya kalian akan menetap karna kehilangan nyawa. Atau setidaknya Tuhan berunding padaku, aku akan lebih memilih jika kalian jauh dariku tapi rinduku bisa ku datangi. Tapi sekarang meski kalian dekat aku tak dapat meraih rindu dan menjangkau kalian." Lexi tergugu. Menatap nanar kedua orang tuanya yang tak sedikitpun bergeser.
Tadi pagi Allah memberikannya kebahagiaan dengan kabar baik saat ia di kerahui mengandung tapi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam Allah sudah mengganti kebahagian Leci dengan pilu yang semakin terasa nyata.
Lalu Kahfinya bagai mana? Lexi ingin menemui suaminya juga.
Hanya satu orang yang di perbolehkan masuk keruangan Kahfi. Dan keluarga mengijinkan Lexi untuk masuk.
"Mas, Syurgaku dan malaikat pelindungku telah di ambil pemiliknya." Dengan hati-hati Lexi memeluk suaminya.
"Allah mengambil mereka sekaligus. Lantas harus dengan cara apa aku menghibur diri? Sedangkan kau masih terbaring di sini." Lexi tak tahan. Ia tak setangguh itu untuk tidak menangis. Lexi memperhatikan alat-alat yang menurut Lexi asing memenuhi tubuh Kahfi. Yang lexi ketahui hanya selang infus dan oksigen yang membatu suaminya bernapas, sisanya sungguh Lexi tidak mengerti.
"Cepatlah bangun. Mas," Lexi mulai stres ia tertekan juga mulai merasa tak nyaman di perutnya ia ingat jika dirinya baru makan sedikit tadi, karna kekacauan yang tadi terjadi.
Lexi tidak bisa lama-lama berada di ruangan Kahfi. Kahfi tengah berada dalam pengawasan dokter, dan ia harus cepat keluar.
Lexi mengecup kening suaminya sebelum pergi.
"Makanlah dulu. Jika kau tak berselera, mengalahlah demi bayimu. Ia butuh nutrisi." Kahfa menyodorkan satu box makanan di hadapan iparnya, dan meletakannya tepat di pangkuan Lexi.
"Aku tidak lapar."
"Ibu suapi ya. Kasihan cucu ibu, dia masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan ibunya." Kimmy mengambil alih makan di pangkuannya.
Kehilangan kedua orang tuanya sekagus dalam keadaan hamil, adakah yang lebih menyakitkan dari ini?
Tidak bisakah Tuhan memilih-milih takdir atau memberinya jeda sedikit?
__ADS_1
Lexi membuka mulutnya saat ibu mertuanya menyuapkan suapan demi suapan makanan yang terasa pahit di mulutnya. Sulit sekali Lexi menelan makanan yang sedari tadi ia kunyah. Ya Lexi tidak boleh egois. Ada satu nyawa yang hanya mengandalkannya saja.
.
Pagi harinya Lexi pamit pada Kahfi yang masih setia memejamkan matanya. Bagaimanapun ia harus mengantarkan mommy dan daddynya keperistirahatan terakhirnya.
Ghaza dan Kayla di tugaskan Ridwan untuk menjaga Kahfi di rumah sakit.
Pemakaman berlangsung sangat dramatis di iringi isak tangis , bahkan Lexi sampai pingsan kala kedua orang tuanya tertimbun sempurna oleh tanah.
Kehilangan untuk selama-lamanya merupakan sesuatu yang paling menyakitkan bagi semua orang.
Lexi, Kahfa, Ayah Ridwan dan ibu Kimmy kembali kerumah sakit untuk menemani Kahfi. Tidak ada perubahan yang terjadi, selama beberapa jam Kahfi hanya mampu berbaring dan tak sadarkan diri sejak di larikan kerumah sakit.
Wanita hamil itu merasa lemah mungkin karna pikiran juga perasaannya yang tak baik-baik saja. Meski demikian Lexi tak ingin menjadi calon ibu yang egois, Lexi tetap makan dan meminum vitaminnya.
Diantara gempuran bathinnya Lexi masih bisa tersenyum meski tak dapat selepas kemarin, Lexi merasa sangat kesepian.
Seakan tidak puas Tuhan mempermainkan dirinya kali ini adalah ujungnya. Dokter dan perawat berlarian ke ruangan Kahfi membuat jantungnya di renggut secara paksa. Seketika ia mwrasa di tikam belati tepat di arah dadanya.
Saat menyaksikan Kahfi kejang dari kaca yang terdapat di pintu ruangan Kahfi berada.
Kahfi sudah tidak mengalami kejang lagi, tapi justru hal itu yang membuat Lexi ketakutan dengan amat parah, sekujur tubuhnya terasa dingin dan menggigil saat Kahfi tenang.
Tidak ini tidak boleh terjadi!
Dokter keluar dengan wajah menyesal.
Dan terjadi kembali Lexi harus kembali kehilangan. Kehilangan seseorang yang menjadi teman hidupnya selama beberapa bulan ini.
"Tidak! Tuhan tidak adil padaku! aku harus memastikan sendiri." Lexi memasuki ruang rawat, terdapat dokter lain yang sedang melepas alat yang ada di tubuh Kahfi.
Wajah tampan dengan rahang tegas itu tak lagi berdaya apa lagi memancarkan auranya, terlihat tenang dalam tidurnya.
"Mas Kahfi ini Lexi Mas, bangunlah. Katakan pada mereka jika mereka salah, kau baik-baik saja." Lexi menggenggam erat tangan Kahfi dan mengis di sana. Jemari panjang Kahfi terasa lebih dimgin dari suhu tubuh Lexi, atau mungkin Lexi yang sedikit demam.
"Lexi iklaskan Nak, Kahfi sudah tak menderita lagi. Jangan seperti ini." Kimmy mengusap punggung Lexi yang bergetar. Meski Kimmy mencoba menenangkan menantunya tapi sesungguhnya yang terjadi Kimmy benar-benar hancur, putranya yang sangat ia sayangi harus berpulang dengan cara yang tidak terpikirkan olehnya.
Ibu mana yang tak hancur saat putranya kini sudah kembali ke pangkuan sang pemilik takdir. Tapi Kimmy tidak boleh terlihat lemah Lexi sangan membutuhkan dukkungan saat ini.
"Kumohon diamlah ibu."
__ADS_1
Semua orang di buat sakit hati dengan tangisan Lexi yang semakin pilu. Gadis yang baru beberapa bulan memeluk agama Allah secara beruntun tengah mendapatkan cobaan dalam ke imanannya. Dan sepertinya Lexi menyerah kali ini.
Lexi berdiri dari duduknya. Ya ia harus menemui Tuhannya untuk bertanya atau meninggalkan Tuhannya itu. Jujur saja Lexi beranggapan semenjak ia memasuki agama Allah ia merasa ke malangan terus mengintainya. Apa itu artinya Lexi harus kembali menjadi seorang manusia tak berTuhan.
"Tuhan di mana kau berada?" Lexi melepas hijabnya dengan kasar.
"Perlihatkan wujudmu padaku. Aku menantangmu. Atau untuk bernegosiasi denganmu." Lexi berteriak dan menangis di antara ruangan yang hanya terdengar isak tangis semua orang yang bersahutan. Semua dokter dan perawat sudah pergi, sepertinya membiarkan keluarga pasien untuk berduka.
"Jika kau berani hadapi aku Tuhan, jangan hanya bisa menyakitiku melalu orang orang yang ku sayangi." Lexi meraung tak terkendali, memaki udara.
"Lexi!"
"Hentikan omong kosongmu. Jangan seperti ini." Kahfa mendekat dan mencoba meraih wanita itu dalam pelukannya.
Lexi membuka kerudung dalamnya kasar hingga rambut indahnya terurai.
"Lalu aku harus berbicara seperti apa Hah?"
"Aku sudah melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya tapi Tuhanmu tetap berbuat culas kepadaku. Tuhanmu mematikan orang-orang hanya untuk menyakiti. Apa Tuhanmu bodoh hanya untuk menyakitiku harus menyakiti banyak orang lebih dulu. Akan lebih baik jika Tuhanmu menyakitiku langsung."
Plakk ...
Kahfa menampar wajah Lexi hingga ia terhuyung kesamping.
"Lancang sekali kau memaki penciptamu."
"Kahfa!"
"Kahfa." Ayah ibu berujar bersamaan. Ia tak mengira putra sulungnya akan menampar menantunya. Mereka tau putranya tegas dan dingin tapi seumur-umur Kahfa tidak pernah menyakiti seorang wanita.
"Abang." lirih Kayla di antara pelukan Ghaza.
"Kau lihat, sekarang Tuhanmu tengah mengutusmu untuk menyakitiku." Lexi malah tertawa sinis yang justru membuat Kahfa mematung di tempatnya dan menatap tangannya yang sudah ia pergunakan untuk menampar adik iparnya. Ia hanya repleks dan tak terima saat ada seseorang meragukan tuhannya. Baru ia sadari jika Lexi hanyalah seorang yang awam.
"Rencana Tuhanmu akan ku gagalkan." Lexi berujar pada Kahfi yang masih mematung di tempatnya.
"Aku tak akan membiarkan Tuhan menyakitiku lagi melalu orang lain lagi. Karna aku ingin mengakhiri hidupku sendiri." Desis Lexi pelan, Sejenak Lexi menatap Kahfi yang masih terbaring.
"Aku ingin menemanimu." Secepat Kilat Lexi meraih gelas di atas nakas, dan menumpahkan airnya kemudian Lexi menggenggam gelas itu, mengepyarkan gelas itu ke atas nakas sehingga tercipta pecahan yang runcing dan tajam di genggamannya. Lexi mengarahkan pecahan itu ke arah lehernya yang seketika ujungnya berhasil menyasat kulit luar Lexi dan mengucurkan darah segar di sana.
"Lexi ..." teriak semua orang bersamaan.
__ADS_1