Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Gak sabar nanti malam


__ADS_3

"Abang pegang Uma sebentar aku akan buat susu sepertinya Baby Uma ingin minum susu." Kay menyerahkan keponakannya pada Ghaza.


Ghaza meraih bayi gembul itu di gendongannya. "Sepertinya dia sudah mengantuk."


"Ya, aku kesal banget sama mbak Lusi, masa ga di tinggalin asi yang udah di pompaa, padahalkan asi lebih bagus dari susu formula." Kayla terus menggerutu di samping itu iya juga malas bergrak intuk membuat susu. Ghaza memperhatikan tangan lentik istrinya yang nampak cekatan saat membuat susu.


"Kay, nanti jika kita unya bayi susuinnya pake asi ya, janhan pake susu Formula." Pinta Ghaza, tiba-tiba saja ia menginginkan seorang bayi dalam hidupnya.


Kayla diam sebentar. "Memangnya Abang ingin punya bayi dari Kay?"


"Tentu saja. Selain tujuan untuk menyempurnakan agama Abang. Abang juga menginginkan banyak anak yang shalih dan shaliha darimu." Ghaza tersenyum memang itu tujuannya menikah, dan bonusnya wanita yang menjadi istrinya adalah gadis cantik di hadapannya.


"Tae hyungku yang malang." lirih pelan Kayla.


Kayla menyusui anak sepupunya sampai terlelap.


"Dek Abang pergi kemesjid dulu ya. Udah mau maghrib."

__ADS_1


"Iya, Abang hati-hati."


.


Sudah lebih dari sebulan pernikahan Ghaza dan Kayla berlalu tapi sepertinya masih jalan di tempat. Terlebih Kayla yang seakan memang memasang jarak pembatas di antara keduanya membuat Ghaza selalu di buat pening setiap malamnya.


Berbagai rayuan serta bujukan sudah Ghaza lakukan tapi sepertinya istrinya masih betah menyandang setatus perawannya. Paling-paling Ghaza hanya dapat mencium dan pegang-pegang di bagian atas saja. Ya Salam ini benar-benar cobaan untuk pria yang amat sangat normal.


Sebenarnya Ghaza bisa saja memakda meminta haknya, tapi ia tak ingin jika sang istri justru malah merasa trauma atau kapok padanya.


"Abang. sepulang kuliah nanti kita nginep di rumah ibu Ayu ya? Mumpung malam jum'at kan Abang libur ngajarnya." Kayla membicarakan itu saat masih berada di mobil Ghaza bertepatan saat sampai di parkiran.


"Iya Bang masa lupa sih." Cebik Kayla.


"Wajar Kay jika lupa, lagian ga ada bedanya juga. Ku kira malam jumat setelah memiliki istri akan istimewa ternyata sama saja." ucap Ghaza datar, secara sengaja Ghaza ingin menyindir istrinya. Siapa tau kan nanti malam Kayla menawarinya surga.


Mengerti dengan arah pembicaraan Ghaza akhirnya Kay menghembuskan napas lelah.

__ADS_1


"Baiklah jika Abang ingin nanti malam Kay kasih hak Abang, asalkan ... " Kay menjeda ucapannya.


"Asalkan apa Kay.?" Ghaza sudah menegakkan duduknya ia senang bukan main saat Kayla mengatakan akan memnerikan haknya sebagai seorang suami.


"Asalkan Abang beli pengamannya dan memakainya." cicit Kay pelan ia juga malu mengatakan itu, wajahnya sedah memerah saking malunya.


"Abang sudah beli sejak lama." Ghaza mengambil dompet di saku celananya dan ia membuka domper itu ternyata di dalam dompet itu sudah terdapat satu lembar pengaman, yang Kayla tangkap dari bungkusnya berisi dua pengaman.


"A-abang sejak kapan punya itu.?" tanya Kay hati-hati.


"Dari semenjak pembicaran Kay tempo hari." ungkap Ghaza jujur.


"Tapi Abang tak yakin nyaman saat mengenakannya." Ghaza tersenyum kikuk ia juga malu membahas hal intim dengan istrinya yang sama-sama buta akan pengalaman.


"Tapi harus tetap di pake Bang, Kay sedang berada dalam masa subur. Kay tidak mau jika Abang tak memakainya." ungkap Kayla, meskipun ia nol dalam hal berbau dewasa tapi secara teori Kay paham akan hal itu.


"Tapi saat mer awa nin jangan dulu pake ya Kay, Abang ingin rasain langsung. Duh jadi ga sabar nanti malam." Ghaza mengulum senyumnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Kayla sendiri merasa takut meskipun belum mengenal milik Ghaza secara langsung.


__ADS_2