Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Pernyataan Random


__ADS_3

Oekkk ... Oekkk


Tengah malam Zayn rewel dan terus menangis, membuat Lexi turut ikut menangis, padahal badan Zayn tidak panas tapi bayi itu terus menangis. Membuat Lexi ke bingungan.


Lexi bahkan menelpon Kimmy untuk meminta bantuan tapi ibunya tak kunjung mengangkat telponnya. Mungkin ibunya sudah tidur? Di saat Lexi berpikir seandainya Kahfi masih ada pasti ...


Belum kelar pemikirannya Lexi mendengar ketukan dari luar. Ia sangat berharap itu ibu Kimmy.


Tok-tok


Pintu kamar Lexi di ketuk, berulang kali.


Lexi segera membuka pintu.


"Ibu Zayn menang-"


"Bang Kahfa."


"Ada apa mengapa Zayn menangis terus Lexi? Apa sakit?" Meski panik tapi Kahfa tidak mendekat. Dirinya masih di ambang pintu. Ia tau batasan saat bertamu, di kamar orang lain.


Rupanya ponsel ibunya tertinggal di dapur dan saat Kahfa minum tengah malam ponsel itu terus berbunyi, karna Lexi melakukan panggilan.


"Lexi tidak tau Bang. Dia rewel, sejak tadi terus menangis padahal badannya tidak panas." Lexi terlihat kewalahan menghadapi bayinya.


"Biar ku gendong."


Kahfa mengulurkan tangannya, dan meraih keponakannya.


Kahfa juga meminta seutas kain yang sering ibunya pergunakan untuk menggendong keponakannya.


Dengan cekatan Kahfa menggendong keponakannya menggunakan kain panjang yang di sebut kain tapih itu. Perlahan-lahan bayi itu mulai tenang meskipun masih terdapat sesegukan di antara tangisnya,


"Zayn kenapa nangis terus?" Ucap Kahfa lembut ia menatap bayi mungil di gendongannya. Meski menangi sedari tadi tapi di mata Zayn tidak terdapat air mata sama sekali.


"Kasian Mamamu! Tidur ya!" Kahfa menimang tubuh mungilnya di antara tubuh tegap dirinya.


"Mungkin Zayn merindukan Papanya Bang." lirih Lexi.


Kahfi lagi. Kahfa mulai jengah mendengarnya, apa-apa Kahfi. Tidak bisakah Lexi sebentar saja tidak menghubung-hubungkan setiap hal dengan Kahfi. Meski tak salah hanya saja Kahfa tak nyaman.


"Jangan berspekulasi seperti itu Lexi. Ini tidak ada kaitannya dengan Kahfi. Zayn bukan dirimu yang kerap kali menangis saat merindukan Kahfi. Banyak juga bayi lain yang kadang menangis tengah malam meskipun ayah mereka masih hidup. Jangan apa-apa di hubungkan dengan Kahfi, bisa saja Zayn memang lagi rewel atau gerah, atau juga perutnya tak nyaman." ketus Kahfa.


Lexi diam, ia juga membenarkan perkataan Kahfa.


"Apa kau sudah mengecek diapersnya?"


Lexi mengangguk. "Sudah Bang."


Kahfa malah membawa keponakannya menjauh dan menuruni tangga sembari menimang tubuh Zayn.


"Bang Zayn mau di bawa kemana?" Lexi menyusil langkah Kahfa.

__ADS_1


"Aku akan menidurkannya di ruang keluarga. Tak mungkikan aku menidurkannya di kamarmu, kecuali kau ingin ku nikahi dalam waktu dekat." Kahfa selalu tanpa ekspresi saat mengatakan setiap hal.


"Ck, kita tidak cocok jangan di bahas lagi. Jika Abang udah ngebet banget pengen nikah. Tunjuk saja salah satu santri wati di sini pasti mereka akan senang." usul Lexi semakin tak masuk akal menurut Kahfa. Tak ada wasiat yang mengharuskannya menikahi orang lain selain Lexi. Kahfi hanya meminta Kahfa untuk menikahi Leci saja. Ini semua karna wasiat makanya Kahfa ingin menikahi Lexi. Atau memang Kahfa ingin menikahi Lexi dan wasiat sebagai kambing hitamnya.


"Kau istirahatlah nanti jika Zayn sudah tidur aku akan mengantarkannya ke kamarmu." Pungkas Kahfa pada akhirnya membuat Lexi menghentikan langkahnya, dan berbalik arah. Ini dudah sangat malam dan Lexi perlu tidur agar kepalanya tidak berat besok pagi.


.


Saat adzan subuh berkumandang di kala Ridwan hendak pergi kemesjid. Ia mendapati putra sulungnya tengah terlelap di kursi sofa dengan mendekap cucu pertamanya di gendongannya.


Ayah Ridwan menebak Kahfa memang tidur di sana, dan sepertinya Kahfa memang kelelahan sampai putranya tak mendengar suara adzan yang lumayan keras bersumber dari toa mesjid pondok.


Ayah Ridwan masih memperhatikan putranya ia masih menebak, apa ini bentuk kecintaan seorang paman kepada keponakannya atau seorang ayah pada putranya. Dan sepertinya poin kedua yang benar, ah mungkin saja Kahfa merasa di limpahi tanggung jawab oleh Kahfi. Belum sempat Ridwan membangunkan Kahfa. Kimmy dan Lexi menhampiri untuk sejenak Lexi terpaku menatap seorang pria dewasa yang tertidur dengan cara terduduk dengan Zayn di pelukannya yang juga sama tengah tetlelap.


"Kahfa,,, Kahfa bangun Nak ini sudah subuh." Kimmy mengguncang pelan tangan putranya.


Kahfa pelan-pelan mengerjap dan sedikit merenggangkan ototnya.


"Astaghfirullah sudah subuh." Kahfa bergunam dan bergerak dengan hati-hati seakan tengah membawa barang yang mudah pecah.


Lexi meminta putranya dari gendongan Kahfa.


"Sini. Dasar pembohong, katamu mau mengantarkan Zayn kembali tapi malah membawanya tidur di sini." Ketus Lexi.


Kahfa diam tak membantah ia harus segera berbersih adzan subuh sidah berkumandang. Jika saja ia menyauti kalimat Lexi bisa-bisa ia tetlambat berjamaah.


Seakan tau bayi itu berpindah gendongan Zayn langsung menangis kencang kembali.


Oekkk ... Oekkk


"Zayn, ini Mama Sayang. Sebenarnya ibumu Mama atau Om Kahfa sih, susah banget membuatmu mengerti." Lexi di buat semakin kesal kala putranya lebih menurut pada Kahfa dan Ibu Kimmy.


"Zayn tau kau sering bad mood tak jelas, makanya Zayn malas padamu." Kahfa malah mengambil Zayn kembali dan menyerahkannya pada ibunya.


.


Pagi-pagi Kahfa di buat uring-uringan akan tamu Ayahnya. Dimana di sana terdapat ustadz Zaki dan putranya yang bernama Ibrahim. Dan yang semakin membuat Kahfa murka adalah niat baik Ibrahim yang dengan lancang melamar Lexi.


Lexi tidak mengatakan apapun hanya diam di tempatnya. Dengan Zayn di pangkuan ibu Kimmynya.


"Dek,,, Mas Ibra sungguh-sungguh ingin menjadikanmu istri. Mas janji akan membahagiakanmu dan Zayn. Mas akan menjadikan Dek Lexi istri Mas satu-satunya. Dan akan menganggap Zayn seperti putra Mas sendiri." ujar Ibra lembut.


"Ibra juga sudah memiliki rumah Nak, kalian bisa pindah, tidak naik juga Nak Lexi tetap tinggal serumah dengan mertua Nak Lexi mengingat Gus Kahfa bukan mahramnya Nak Lexi." tutur ustadz Zaki lembut. Lexi mengerti arah pembicaraan ustadz Zaki, dan ia sudah memutuskan dari kemarin akan pindah hari ini.


Lexi diam tapi Kahfa menarik tangan Lexi menuju tempat lain. Hingga Ridwan Memanggil Kahfa berulang kali.


Setelah menjauh Kahfa melepas tangan Lexi.


"Tolak lamarannya. Jika tidak kau akan menyesal." ujar Kahfa tegas.


Awalnya Lexi memang akan menolak Ibra, tapi di karnakan Kahfi selalu bertingkah menyebalkan maka Lexi tak ingin menurut.

__ADS_1


"Ku terima atau tidak itu urusanku. Kau tak ada hak untuk melarangku. Bukannya kau menyuruhku untuk melanjutkan hidup, sepertinya ini jalannya." Lexi hendak berlalu.


,"Aku tak percaya jika Ibra bisa menyayangi Zayn seperti anaknya sendiri Lexi!" Kahfa mencekal tangan Lexi.


"Yang mendapat wasiat Kahfi untuk menikahi dan menjagamu adalah aku bukan Ibra."


"Aku tidak perduli."


"Tolak lamarannya atau aku akan berbuat nekad agar wasiat Kahfa bisa ku lakukan. Kau jangan salah sangka aku melakukan ini demi adikku."


"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menerima lamarannya? Memper-kosaku?" Lexi tersenyum miring mengejek, agar Kahfa berhenti berbicara. Tapi diluar dugaan Kahfa malah membenarkan.


"Ide bagus. Meskipun aku belum berniat memberikan Zayn adik. Tidak masalah aku bisa menundanya." selalu ekspresi datar yang di tampilkan Kahfa pada lawan bicaranya.


"Dasar gila! Apa karna wasiat suamiku kau jadi gila?" Lexi di buat kesal oleh Kahfa.


"Jika kau tak ingin aku bertindak melampaui batas tolak lamarannya." Kahfa berlalu meninggalkan Lexi yang menatapnya penuh amarah.


Lexi harus cepat-cepat pindah ia sedikit takut dengan Kahfa.


.


Satu hari sudah terlewati. Kahfa semakin sibuk, setelah kepergian Kahfi dirinya kembali masuk ke perusahaan ayahnya untuk membantu Ayah Ridwan dan Ghaza. Kahfa sudah mengundurkan diri dari sekolah dari tempatnya mengajar.


Saat sampai rumah Kahfa celingukan mencari sesuatu. Biasanya ibunya menyambut kedatangannya dengan si kecil Zayn. Tapi kali ini Kahfa tak mendapati Zayn kecil di rumahnya. Ibunya juga tengah menonton drama kesukaannya lalu kemana keponakan tampannya.


"Assalamu'alaikum, Ibu ..."


Kahfa menyalami ibunya juga turut ikut duduk di samping ibunya.


"Kemana Zayn Bu? Apa keponakan tampanku tidur?"


Bukannya menjawab Kimmy malah memeluk putra sulungnya. "Lexi dan Zayn sudah pindah tadi siang."


"Apa?" teriak Kahfa.


"Mengapa ibu mengijinkan mereka pindah?" Tanpa sadar Kahfa menyentak ibunya ia sudah di buat khawatir dan langsung menyambar kunci mobilnya.


"Kau mau kemana?" Lexi turut berdiri.


"Menjemput Zayn dan Lexi."


"Ayah memberi ijin. Karna Lexi mengatakan tak ingin ada fitnah."


Kahfa berpikir apa ini karna pernyataan randomnya yang mengatatakan akan memper-kosah Lexi, sehingga janda itu pindah.


"Katakan mereka pindah kemana Bu?"


.


Minalaidzin wallfa'idin. Mohon maaf lahir dan batin. Othor minta maaf ya. Dari setiap kekhilapan juga kesalahan dalam bentuk apapun. Sengaja ataupun tidak di sengaja othor tetap memohon maaf. Sayang kalian banyak-banyak.😚😚😚

__ADS_1


Semoga kalian sehat selalu dan dapat di pertemukan di bulan ramadhan selanjutnya.🤗🤗🤗


__ADS_2