
Awas saja jika gadis itu muncul di antara rumah tangga adiknya.
"Lalu bagai mana keadaan Kahfiku?"
"Kahfimu?"
"Ya Kahfiku! Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja."
"Cih, Kahfimu. Sejak kapan adikku menjadi milikku. Apa kau lupa tak menerima lamarannya tempo hari, jadi jangan mengaku-aku jika adikku milikmu." Tampaknya Kahfa masih kesal akan kejadian empat tahun yang lalu.
"Kahfa berhenti mendebatku! Aku bertanya bagai mana keadaan Kahfi?" Zahra mulai tak sabar menantikan jawaban yang tak kunjung Kahfa katakan.
Zahra tau sifat dan watak Kahfa sedari dulu sama seperti Ghaza, dingin dan tak tersentuh. Tapi Ghaza masih menfing di bandingkan dengan Kahfa, Ghaza akan bersikaf manis pada adik angkatnya Kayla sedangkan Kahfa pria itu meskipun berbicara semaunya tapi kata-katanya sangat pedas, berbeda dengan Kahfi yang selalu memikirkan perasaan orang lain.
"Kahfi sudah di miliki gadis lain jadi berhenti mengharapkannya. Apa lagi berniat untuk menemuinya, jangan untuk bertemu mengirim pesan saja sudah tak boleh, apa lagi menginginkan hubungan teman seperti layaknya beberapa tahun yang lalu." Kahfa menatap tajam gadis yang selalu Kahfi bahas sekalipun mereka berada di negara orang.
Ini juga menjadi salah satu alasan di mana Kahfa membiarkan Kahfi menikahi sepupunya yang menurutnya gadis bunglon, meski begitu Lexi seperti pawang yang membebaskan Kahfi dari jerat cinta gadis di hadapannya.
"Maksudmu?" Zahra tak sekuat itu. Bertahun-tahun ia menumpuk rindu pada satu pria, tapi pria itu telah di miliki wanita lain.
Bukankah Zahra meminta Kahfi menunggu? apakah Kahfi yang ia kenal telah berubah? Lalu gadis seperti apa yang membuat Kahfi berpaling darinya.
"Maksudku jelas. Adikku sudah menikah dengan seorang gadis cantik yang manja dan penyayang."
Setelah belasan tahun berteman baru kali ini Kahfa mengatakan cantik pada gadis lain bahkan istri dari adiknya sendiri, tidakkah ini aneh?
Zahra sempat berpikir jika Kahfa mengada-ada hanya untuk membalas perbuatannya tempo hari, tapi sepertinya Kahfi serius mengingat pria itu tidak pernah bercanda apa lagi mancla-mencle.
"Menikah? Jangan membual Kahfa!" Zahra juga tak menyangka ia akan berbicara kasar pada teman lamanya.
"Tak ada untungnya aku membual." Kahfa tak terpengaruh sedikitpun akan sentakan Zahra.
"Aku sudah memintanya untuk menungguku!" lirih Zahra pelan, air mata merembes dari kelopak matanya, sesak dan menyesal mengurungnya dalam waktu yang tak bisa ia tentukan.
"Aku rasa Kahfi tidak mengiyakan atau menjanjikan apapun padamu. Dia seorang pemuda yang normal, dia juga tampan dan kaya sangat wajar jika ia ingin berkeluarga."
"Gadis mana yang beruntung yang di nikahi olehnya?" tanya Zahra parau, ia bahkan terisak beberapa kali.
__ADS_1
Ingin rasanya Zahra berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan amarah serta kekecewaannya.
"Namanya Lexi. Gadis itu keponakan ibuku, Lexi adalah putri dari kakak ibuku, dia sepupu kami sendiri." ujar Kahfa jujur.
Kahfa betharap Zahra berhenti di sini, jangan menghubungi adiknya lagi, meskipun Zahra gadis baik tapi ia lebih senang gadis bunglon yang menjadi adik iparnya.
"Oh, orang dalam rupanya."
Satu pemikiran mencuat di otak Zahra, mungkin saja Kahfi di jodohkan.
"Apa mereka menikah karna di jodohkan." tuduh Zahra.
"Di jodohkan atau tidak bukan urusanmu! Cinta dapat muncul seiring berjalannya waktu. Jangan ganggu mereka atau kau akan menyesal." Ancam Kahfa tegas.
"Kapan mereka menikah?"
"Kemarin."
Meskipun Kahfa selalu bertingkah menyebalkan di hadapan Lexi tapi jauh di lubuk hatinya ia menyayangi sepupunya entah sebagai apa? Yang jelas ia tak ingin rumah tangga Lexi dan Kahfi terancam!
Sampai Kahfa pergi tanpa mengucapkan salam, Zahra masih memaku di tempatnya berdiri. Dengan penyesalan yang tak bertepi.
Entah kemana Kahfi pergi dengan Ayah Ridwan, tapi Lexi masih di kamarnya, ia tengah menikmati nyeri akibat datang bulan.
Ting ... Ting ...
Ponsel di atas nakas berbunyi, rupanya Kahfi meninggalkan ponselnya di atas nakas, atau salah membawa ponsel, malah ponsel Lexi yang pria itu bawa. Mengingat ponsel Kahfi dan Lexi benar-benar sama dari tipe mereknya, bahkan wallpeper ponsel merekapun masih sama.
Rupanya ada inboxan masuk di aplikasi fecebook suaminya, dan saat Lexi klik foto profil si pengirim pesan. Nampaklah seorang wanita berfoto selfi dengan latar belakang menara eiffel ikon kota paris di negara prancis sana.
Jantung Lexi berdetak beberapa kali lebih cepat dari biasanya, lebih hebat dari saat ia jatuh cinta pertama kali. Tubunya tiba-tiba menggigil dengan keringat sebiji jagung di pelipisnya saat ia membaca nama akun itu. Zahra Ainun.
Mencelos sudah jantung Lexi baru sehari, empat jam, tiga puluh delapan menit ia menyandang setatus istri, akankah ia akan menjadi janda secepat kurir jne expres.
Hanya tulisan salam yang tertera di pesan itu. Tapi berhasil membuatnya bergetar saat terlihat setatus orang itu tengah mengetik suatu pesan.
'Apa kabar?'
__ADS_1
Pesan kedua masih tak Lexi tanggapi ia terlalu syok dengan apa yang terjadi. Mencoba menduga-duga jika seandainya Kahfi sendiri yang menerima pesan ini akankah Kahfi membalas?
'Aku sudah kembali ke rumah.'
'Ku harap kita bisa bertemu.'
Tak ada niatan Lexi membalas pesan itu. Awalnya Lexi ingin mengabaikan dan membiarkan Kahfi melihat pesan itu, tapi ketakutan akan miliknya di ambil wanita lain lebih mendominasi, darah Kimmy mengalir pada tubuh Lexi.dan Lexi takan membiarkan siapapun mengambil miliknya.
Dengan tanga gemetar Lexi memblokir serta menghapus pesan itu, tetserah Kahfi akan marah atau bagai mana saat mengetahui kelancangannya.
Lexi meletakan kembali ponsel itu di tempatnya semula.
Kring ... Kring
Ponsel Kahfi berbunyi. Lexi di buat panas dingin khawatir jika yang menelpon adalah wanita bernama Zahra, bagai mana ini?
Tapi beruntung yang memanggilnya adalah nomor ponselnya sendiri.
Dengan nama kontak bertuliskan
Ayang
Disertai dengan emot kuning kiss kiss dengan bentuk hati berwarna merah.
"Ay, apa masih sakit?" Kahfi berseru khawatir terlihat dahi di kening istrinya mengembun begitu banyak. Kahfi menduga jika istrinya masih kesakitan karna datang bulan, padahal yang sebenarnya terjadi Lexi ketakutan takut Kahfi bertanya macam-macam, ia tak akan bisa bohong pada suami tampannya.
"Udah mending ko Mas."
"Alhamdullilah. Ya ampun sampe lupa baca salam. Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam."
"Ay, jika ada pesan atau telpon biarkan saja tak usah di balas apa lagi diangkat. Maaf Mas salah membawa ponsel."
"I-iya tidak papa Mas." Lexi gugup, takut-takut Kahfi bertanya macam-macam.
"Mas tutup ya, nanti Mas pulang sore. Ayang mau di bawain apa.?"
__ADS_1
"Tidak ada, cukup Mas pulang saja Aku ingin di peluk." Lexi membual sebenarnya Lexi takut jika terlalu lama di luar, kemungkinan Kahfi bertemu Zahra sangat besar, Lexi akan menjerat Kahfi dengan kelebihan yang ia miliki.