MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KECEMASAN


__ADS_3

Cukup jauh Han dan Tirta berjalan, Han menahan pundak Tirta. Mengarahkan senter ke arah semak-semak yang bergerak-gerak.


"Lily." Tirta langsung berlari mengangkat tubuh si kecil yang ketakutan.


Tirta langsung memeluk erat, meminta Lily membuka matanya agar melihat dirinya dan bicara.


Alhan menggenggam tangan Lily yang gemetaran, mulutnya terus mengoceh tidak karuan, banyak luka goresan ilalang di tangan dan kakinya.


"Lily, ini kak Tirta sayang. Lily buka mata, lihat Tirta sebentar saja." Ari mata Tirta menetes, memeluk erat, tidak tega melihat kondisi Lily.


Han berlari ke pantai, mengambil botol langsung membawa air. Mengusap wajah Lily agar bangun, dan memintanya untuk membuka mata.


"Lily buka mata, ini Han." Alhan membuka jaketnya, menutupi tubuh kecil Lily.


Mata Lily terbuka, langsung diam melihat wajah Tirta. Han meminta Tirta menggendong Lily agar segera dilarikan ke rumah sakit.


Tirta berlari bersama Han agar segera sampai di villa, Ilham mendengar teriakan Han, meminta memeriksa Lily.


Tangisan Dwi sudah pecah melihat putri kecilnya hanya diam, bahkan tidak berkedip sama sekali.


Kris dan Muti juga sudah menangis, memanggil nama Lily mencoba terus menghiburnya, tapi belum juga ada respon.


"Lily, lihat mata Papa." Ilham mendudukkan Lily di pangkuannya.


Tatapan Ilham langsung ke bawah, celananya basah karena Lily mengompol di celana. Tangisan Lily langsung terdengar, menutup wajahnya.


Lily malu, karena dia kencing di celana dan mengenai Papanya. Padahal Lily selalu berpikir jika dia sudah besar.


"Maafkan Lily Panda, dari tadi menahan kencing. Lily sudah diam, agar air kencing tidak keluar, tapi kak Kris korek tahi hidung." Tawa Lily terdengar menunjuk Kristal.


Semua arah mata melihat ke arah Kristal yang masih memasukkan telunjuknya ke hidung, sambil menangis.


Muti memukul tangan adiknya, Kris langsung melepaskan telunjuknya, mencium baunya sambil tersenyum.


Melihat Lily tertawa, sungguh melegakan Ilham. Pelukan lembut kepada putri kecilnya yang belum mengerti apapun.


"Pa, serahkan Lily." Dwi langsung menggendong untuk mengganti celana.


"Kak Lis jorok." Lily masih sempat mengejek Kris.


"kamu yang jorok, kencing di celana." Kris memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


Selesai mengganti celana sudah berlari, langsung duduk dipangkuan Tirta yang memeluk lembut Lily.


Tirta mempertanyakan alasan Lily pergi keluar, dan harus tahu bahayanya berada di tempat gelap. Apalagi dia masih kecil, dan belum mengerti apapun.


Lily menjelaskan alasannya keluar rumah, dia hanya ingin pipis, tetapi binggung ingin meminta bantuan siapa untuk membuka pintu.


"Sayang, dengarkan Panda baik-baik. Tidak boleh keluar rumah tanpa izin, pipis saja di tempat tidur. Mulai sekarang kamu, tidur bersama Manda." Ilham menegur putrinya, dan memarahi Lily secara lembut agar mengerti arti bahaya.


Dwi langsung meminta Lily tidur bersamanya, dan jika ingin keluar harus membangunkan Manda, atau Panda.


"Lily ingin tidur bersama kak Tirta."


"Tidak mau, kak Tirta ingin membuat dedek." Tirta tersenyum menatap Kris.


"Dari kemarin alasan membuat dedek terus." Wajah Lily terlihat kesal.


Panda meminta masuk kamar masing-masing, dan lanjut istirahat. Lily aman bersamanya tidur di kamar.


"Bunda, sebaiknya istirahat." Ilham mengusap punggung Bundanya.


Satu-persatu mulai meninggalkan ruang tamu, pintu kamar Han terbuka, merangkul istrinya untuk masuk ke dalam dan melanjutkan sesuatu yang tertunda.


Tatapan Muti melihat suaminya yang mengganti baju, karena keringatan habis lari-larian mencari keberadaan Lily.


"Alhamdulillah ya kak, Lily masih dijaga dan dilindungi." Muti mengusap dadanya, karena khawatir sekali kepada Lily.


Senyuman Han terlihat, langsung mencium bibir Mutiara. Membuka baju tidurnya. Muti hanya diam, masih fokus memejamkan matanya.


Mata Muti terbuka saat ciuman, Han akhiri. Muti melihat tubuhnya sudah tidak menggunakan baju lagi, langsung pasrah saat tubuhnya sudah ada di bawah.


Ciuman panjang saling membalas terjadi, Muti tidak polos lagi, karena sudah mengerti cara memuaskan dirinya juga lawan mainnya.


Tanpa mengakhiri sentuhan bibir, Han sudah masuk dan bergerak diatasi Muti. Suara lembut keluar dari mulut Mutiara, Han yang mendengarnya tersenyum lebar, karena sangat menyukai jika Muti juga merasa terpuaskan.


Semakin cepat gerak Alhan, suara Muti terdengar semakin indah, perlahan juga suaranya membesar sampai Han harus menahan mulut Muti agar tidak berteriak.


"Kak, Muti lelah sekali." Mata Muti terpejam, tangannya meremas kuat tangan Han.


"Baru pelepasan ketiga, sudah menyerah." Han mencium wajah Muti, masih belum juga puas.


Bagi Alhan, Muti candunya. Sehingga sulit bagi Han untuk menghentikan dirinya.

__ADS_1


Melihat istrinya kelelahan, Han langsung berhenti dan membersihkan tubuhnya ke kamar mandi.


Tangan Muti menyentuh perutnya, berdoa di dalam hatinya agar dirinya cepat mendapatkan kesempatan menjadi ibu.


Muti ingin melihat anaknya bersama Han, dan keduanya bisa mengganti status menjadi orangtua.


"Kak Han, Muti ingin hamil."


Alhan yang baru selesai membersihkan dirinya cukup kaget, Muti jarang sekali membicarakan soal anak, apalagi mengatakan dia ingin hamil.


Senyuman Han terlihat, mencium kening istrinya dan mengaminkan keinginan istrinya yang ingin segera hamil.


"Semoga Allah mendengar niat baik kita, dan diizinkan menjadi orang tua." Han mencium perut Muti sangat lembut.


Tubuh Han langsung tiduran di samping Istrinya, Muti langsung memeluk erat, dan menyudahi hubungan panas.


Keduanya memutuskan untuk tidur, bahkan rencana untuk melihat matahari terbit juga terlupakan.


Tubuh Mutiara sudah sakit semua, ditambah lagi Han yang memeluknya sangat erat. Tubuh keduanya lengket menjadi satu.


Suara panggilan di ponsel Han terus berbunyi, Muti langsung mengambil handphone dan melihat nomor tidak dikenali.


Tanpa seizin Han, Muti langsung menjawab panggilan. Terdengar suara halo sayang. Muti yang mengantuk langsung duduk, matanya membulat besar, karena mendengar jelas apa yang di pertanyakan oleh wanita yang menghubungi handphone suaminya.


Belum ada jawaban dari Muti, tidak mengerti siapa yang memulai memanasi hubungan mereka. Muti memeluk erat Han, meletakkan ponsel di telinga.


Suara wanita memanggil Han terdengar, membuatnya bangun dan terheran-heran.


"Siapa?" Han mengambil ponsel.


Mutiara hanya diam menatap tajam, Alhan melempar ponselnya ke sofa, langsung menarik Muti ke dalam pelukannya.


"Kenapa sayang? kamu marah?" Han mencium bibir bawah Muti.


Senyuman Muti terlihat, menggelengkan kepalanya. Langsung memeluk Han, meskipun hatinya masih bertanya-tanya siapa pemilik suara.


"Kak, bagaimana jika ada orang ketiga dalam rumah tangga kita?"


"Tidak akan pernah ada Muti, hal itu tidak akan terjadi." Tangan Han menutup mulut Muti, dan berharap kepercayaan Muti lebih besar kepadanya, dibandingkan orang lain.


Di dalam rumah tangga kepercayaan paling utama, karena segalanya bisa runtuh jika tidak saling mempercayai. Bertahannya pernikahan, karena saling mempertahankan bukan satunya bertahan, dan satunya lagi hanya meminta dipertahankan tanpa berjuang.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2