MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
SOLUSI TERBAIK


__ADS_3

Sudah larut malam, Muti sudah tidur bersama Han. Sekian lama akhirnya bisa tidur nyenyak berada dalam pelukan.


Han melepaskan pelukan Muti yang membuatnya gerah, tapi mendekati lagi dan memeluk lebih erat.


"Sayang, panas." Han mendorong Muti pelan.


"Kak Han kenapa tidak memeluk Muti? tidak nyaman ya?" Tubuh Muti langsung memunggungi Han, memintanya untuk memberikan jarak.


Perlahan Han mendekat, memasukan tangannya ke dalam baju tipis yang Muti gunakan.


Pukulan kuat menghantam membuat Alhan tertawa lucu melihat tingkah istrinya yang memang mirip singa betina.


"Jangan pegang dada Muti, nanti semakin besar." Tendangan kaki juga mendarat membuat Han hampir jatuh.


"Minta jatah sama istri saja harus main paksa, kenapa sayang?" Han menarik Mutiara sampai tidur di atasnya.


Setiap Muti mengomel Han menutup mulutnya dengan ciuman, akhirnya Muti menyerah dan tidur di atas.


"Kak Han, sudah ingin punya anak belum?" tanya Muti dengan nada yang sangat manja.


Han hanya tersenyum kecil, dirinya ingin memiliki anak dan tidak memaksa juga untuk cepat-cepat.


Masih banyak hal yang harus Han dan Muti lakukan, terutama memperjelas status Muti sebagai istrinya.


"Sayang, soal anak kapan diberikan saja. Kita harus rajin membuat agar cepat jadi, kak Han juga ingin meminta maaf karena mungkin akan semakin sibuk." Sentuhan bibir hangat terasa di kening Mutiara.


"Kak Han sekarang lembut sekali, berbeda saat pertama bertemu. Muti menyukai kak Han yang sekarang." Muti mencium balik tanpa keraguan juga rasa malu seperti biasanya.


Senyuman Han terlihat, memeluk erat tidak memberikan ruang untuk Muti menolaknya meminta hak yang seharusnya tiap malam dia dapatkan.


"Kak Han Muti ingin tidur bersama Kris."


"Tidak boleh, suami kamu mau ditinggal." Pelukan Han erat tidak mengizinkan pergi.


Han melihat jam sudah pukul satu dini hari, Muti juga sudah mulai memejamkan matanya karena kelelahan setelah olahraga malam.


Tatapan Han melihat ponselnya, memperhatikan Tirta yang ada di kamar tamu sedang duduk, menulis sesuatu di sebuah kertas.


Perasaan Han sedih melihat kondisi Tirta, dalam keadaan yang memprihatinkan masih bisa tertawa dan bercanda seakan dia baik.


Muti membuka matanya, melihat layar yang sedang dilihat oleh suaminya. CCTV langsung Han matikan tidak kuat melihat Tirta.

__ADS_1


"Kak Han menyayangi Tirta?"


Kepala Han menggeleng, awalnya dia tidak khawatir sama sekali kepada Tirta. Sejak pertama bertemu hanya biasa saja, suka tidak membenci juga tidak.


Tirta selalu mendekati Han, meskipun kehadirannya mendapatkan penolakan. Selama lima tahun mencoba akrab meskipun tidak ada hasilnya.


Pikiran Han hanya satu, Tirta mendekatinya karena ada yang dia inginkan atas perintah Cherly.


"Jika tidak ada masalah mungkin aku akan tetap menganggap dia hanya suruhan Cherly. Aku tidak pernah mempercayai dia." Kedua mata Han terpejam, membiarkan matanya tidur.


Tangan Muti mengusap dada suaminya yang tidak menggunakan baju, memahami perasaan Alhan yang memiliki banyak pengkhianatan.


"Ayo tidur, Muti mengantuk."


"Bagaimana bisa tidur? tangan kamu sudah memancing ronde selanjutnya." Senyuman licik terlihat.


"Kak Han ingin Muti tendang keluar kamar?" Tatapan mata Muti tajam, memunggungi suaminya.


Alhan langsung tertawa, memeluk dari belakang mengizinkan Muti tidur. Han juga mengantuk dan besok harus mengantar Tirta mengecek kondisinya.


***


Di ruang tamu dokter Ilham masih sibuk mencari pengobatan terbaik untuk Tirta, melihat kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk melakukan perawatan kemoterapi.


"Kenapa kamu belum kembali? sudah mengabari suami kamu?" Ilham berbicara tanpa melihat ke arah Dwi.


"Nona Muti meminta tolong untuk membantunya menjaga rumah sementara, karena asisten baru mereka belum datang. Nyonya besar juga mengizinkan." Dwi masih menundukkan kepalanya.


Ilham menatap serius, seharunya Dwi menolak apa yang bukan menjadi tugasnya. Apalagi Dwi seorang istri yang memiliki kewajiban melayani suami.


"Besok pulang."


"Baiklah tuan, saya akan menunggu kabar dari Nyonya."


Ilham melepaskan tabletnya, mengambil minum sambil memijit pelipisnya. Kepala Ilham cukup pusing.


"Aneh, stadium empat. Seharusnya saat ini Tirta tidak bisa beraktivitas lagi, bahkan dokter juga banyak yang angkat tangan." Gumaman Ilham terdengar oleh Dwi yang masih berdiri di hadapannya.


Mata Ilham terbuka masih melihat Dwi yang berdiri dihadapannya, menghela nafasnya bekali-kali. Ilham meminta Dwi duduk berjarak jauh darinya.


Ilham meminta pendapat Dwi sebagai seseorang yang tidak mengenal dunia medis sama sekali.

__ADS_1


Tatapan Dwi serius melihat bagian-bagian tubuh Tirta yang sudah terkena pertumbuhan kanker.


"Kangker sudah berkembang, dan merusak organ tubuh penting lainnya. Sekalipun melakukan operasi, tetap belum bisa menghentikan penyebar yang sudah ada di seluruh tubuhnya." Dwi menatap Ilham yang menganggukkan kepalanya, bahkan dokter lain juga sudah tidak memungkinkan pengobatan.


Dwi mengingat wajah Tirta yang pucat, tubuhnya memang kurus. Seharusnya saat ini Tirta tidak bisa tertawa lagi.


"Dia tidak memiliki banyak waktu lagi, besok kita akan melihat hasilnya. Dia tidak mungkin bisa bertahan lebih dari tiga bulan." Kepala Ilham tertunduk, mengingat kondisi Kristal.


Putrinya Kris baru saja kehilangan anak dari Tirta, sekarang mungkin Tirta juga akan menyusul anaknya yang sudah berpulang lebih dulu.


Tidak bisa Ilham bayangkan betapa hancurnya putrinya, kehilangan dua orang sekaligus dalam kurun waktu yang sangat dekat.


"Tuan, jangan terlalu banyak pikiran. Allah sudah mengatur yang terbaik."


"Bagaimana aku tidak memiliki banyak pikiran? kebahagiaan putriku Kristal sedang di pertaruhkan. Aku ingin anak-anakku bahagia." Wajah Ilham terlihat sangat serius, tapi tidak ada yang bisa dirinya lakukan.


Dwi menganggukkan kepalanya, sama seperti suaminya yang rela bekerja siang dan malam demi anak mereka namun takdir berkata lain, dia bahkan pergi sebelum anaknya berpulang.


"Aku paham tuan, meksipun seorang ayah tidak melahirkan dan menyusui, dia juga pejuang yang hebat dalam mencari nafkah." Dwi tersenyum bangga kepada Ilham yang memikirkan kedua putrinya.


Ilham sedikit terkejut mendengar kabar jika suami Dwi juga sudah meninggal. Dia bahkan tidak tahu jika wanita yang bekerja dengan Bundanya sejak remaja dan memutuskan menikah muda sudah menjadi janda.


"Suami kamu sudah meninggal?"


"Maaf tuan saya tidak sengaja membahasnya." Dwi langsung pamit untuk beristirahat.


"Dwi, bukannya Bunda dan Ayah yang menyelamatkan anak kamu?"


"Benar tuan, awalnya sudah pulih, dan ayahnya bekerja untuk membayar pengeluaran meskipun nyonya besar tidak memintanya." Wajah Dwi terlihat sedih, suaminya mengalami kecelakaan, dan meninggal. Di hari yang sama anaknya juga meninggal.


"Kamu baik-baik saja."


Kepala Dwi menggeleng, bohong jika dia baik-baik saja saat kehilangan. Dirinya hancur dan tidak bisa menerima takdirnya.


Satu pilihan Dwi, dia ingin mengikuti takdir ingin membawanya ke arah yang terbaik sampai akhirnya dia juga berpulang.


"Lima tahun sudah berlalu, sekarang Dwi baik-baik saja."


Ilham menganggukkan kepalanya, mengizinkan Dwi pergi dan beristirahat. Kristal menatap tajam, mendengar semua pembicaraan Dwi dan Panda.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2