MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
PENGARANG CERITA


__ADS_3

Selama tiga hari Muti dan Kris tidak saling bicara, Han tidak merasa aneh karena keduanya memang sering bertengkar.


"Sayang, hari ini aku mulai kerja karena banyak hal yang harus dilakukan." Han memeluk istrinya yang tersenyum manis.


"Hati-hati kak, bagaimana dengan kak Tirta?"


Han meminta maaf, karena Muti harus menemani Kris sendirian. Tirta juga harus bekerja, perusahaan sedang naik sehingga membutuhkan Tirta.


"Kris, kak Han pergi kerja dulu. Kalian berdua berhentilah bertengkar. Siang, Mommy akan datang membawakan makanan kesukaan kalian." Han langsung pamit pergi, meninggalkan dua wanita yang masih belum saling bicara.


Muti duduk kembali, mengambil buku besar yang dia temukan di rumah Della. Lama Mutiara membalik buku, dan setetes air matanya jatuh.


"Kris, aku seperti salah dengar." Muti mengusap air matanya.


"Mendengar apa?" Kris yang awalnya memejamkan mata langsung melihat Muti menangis.


Kristal langsung duduk, merasa cemas melihat Muti menangis sesenggukan. Tangisan Muti terlihat sangat menyakitkan.


"Maafkan Kris kak, jujur Kristal diam bukan marah kepada kak Muti, Kris hanya banyak pikiran." Tatapan Kristal sedih, memohon kepada Muti untuk berhenti menangis.


Mutiara mendekati Kristal, tiga hari yang lalu Muti ingin tidur, tapi belum sepenuhnya tidur. Muti mendengar percakapan Han, Tirta dan Dokter Ilham.


"Kak Muti mendengarnya, Kristal juga mendengarnya."


"Kamu juga tahu yang mereka bicarakan?"


"Iya, makanya Kris banyak diam. Kristal binggung cara menjelaskan kepada kak Muti."


Kristal dan Mutiara saling tatap lalu tertawa berdua, keduanya saling diam untuk mencari kata-kata yang paling tepat, tapi kenyataannya keduanya sudah tahu.


Muti langsung diam, masih binggung ingin melakukan apa. Mereka berdua tidak paham langkah apa yang harus diambil.


Suara ketukan pintu terdengar, dokter Ilham masuk dan tersenyum melihat Muti dan Kris yang sama-sama kaget melihatnya.


"Selamat pagi, bagaimana kondisi kamu Kris?" Dokter Ilham meletakkan makanan, dan buah yang dia beli.


"Muti, kamu bisa sarapan untuk menjaga pertahanan tubuh. Kamu semakin kurus."


Muti dan Kris masih diam, tidak ada yang menangapi ucapan dokter yang ada di hadapan mereka.


"Kenapa anda di sini? Kris memiliki dokter pribadi, dan ini bukan jadwal pemeriksaan." Tatapan Kristal tajam, tidak menyukai kunjungan dokter Ilham.

__ADS_1


"Maafkan saya, kamu beristirahatlah." Senyuman terlihat, langsung melangkah pergi.


"Bawa makanan ini, kami tidak membutuhkannya." Muti mengambil makanan, menyerahkan ke tangan dokter dan memintanya untuk tidak datang lagi.


Dokter Ilham merasa binggung dengan sikap Muti dan Kris yang terlihat membencinya, perasaannya juga sakit melihat penolakan.


Muti membuka pintu, mempersilahkan dokter keluar. Muti tidak ingin menunggu lama.


"Keluar!" Kris melotot.


"Kalian sudah mengetahui soal aku?" Senyuman terlihat, langsung mengambil kursi duduk kembali.


Muti langsung membanting pintu, menutup sangat kuat membuat Kristal dan Dokter Ilham kaget.


Tatapan Muti penuh kemarahan, langsung duduk di depan lelaki yang masih muda, wajahnya juga tampan dan terawat.


Kristal berusaha menarik kursi, Muti sejak kecil sampai besar masih belum berubah, jika marah seperti ingin makan orang.


"Kak, mundur." Kristal menatap tajam.


"Kamu diam Kris, kita dengarkan cerita pria tidak bertanggung jawab ini." Muti menarik nafas panjang.


Tatapan dokter Ilham masih tenang, sangat mengerti perasaan Muti dan Kristal yang pastinya marah dan kecewa juga tidak menerima alasan apapun.


"Iya, kalian putriku." Ilham menunjukkan hasil tes yang sudah lebih dulu Ilham lakukan.


"Kurang ajar, beraninya kamu melakukan tes tanpa seizin kami. Seharusnya kamu katakan, jika itu tidak benar. Anda tidak tahu sakitnya perjalanan hidup kami?" Muti berteriak kuat.


Air mata kristal menetes, memeluk pinggang Muti yang sudah menendang kursi. Kris meminta Muti tenang.


Suara tangisan Kristal terdengar, masih memeluk kakaknya sangat erat. Muti juga meneteskan air matanya.


"Izinkan aku menjelaskan, meksipun ini tidak bisa dibenarkan." Kepala Ilham juga tertunduk.


Melihat si kembar menangis membuat Ilham tidak bisa menahan air matanya, begitu banyak rasa sakit yang harus Muti dan Kristal hadapi.


Setelah keduanya tenang dan berhenti menangis, barulah Ilham berani bicara.


"Bagaimana bisa kamu memiliki hubungan dengan wanita yang lebih dewasa?" Muti menarik kursi untuk duduk.


Bagi Ilham perasaan tidak bisa memandang usia, dia sudah mengenal Della sejak usia sepuluh tahun. Kedua orang tua Della bekerja di kediaman keluarga Ilham, dan orang tua Ilham juga yang membayar uang sekolah.

__ADS_1


Hubungan keduanya semakin dekat, Della wanita yang sangat ceria dan selalu melindungi Ilham. Sejak mengenal cinta, Ilham memandang Della bukan sebagai kakak, tapi wanita.


Saat lulus SMA, Ilham menyatakan perasaannya dan mendapatkan balasan cinta. Hubungan cinta beda usia juga beda status terjalin.


Ilham tidak mengerti awal berantakan hubungan yang keduanya jalani lebih dari dua tahun, Ilham bahkan tidak tahu jika Della menikah.


"Kamu tidak tahu alasan Della meninggalkan kamu? atau kamu yang meninggalkan Bunda?" Muti menatap tajam.


"Aku tidak tahu jika dia sudah menikah lebih dari satu tahun, aku sibuk kuliah dan saat kembali mendapatkan kabar dia menikah." Ilham menarik nafas panjang, saat dirinya meminta penjelasan, Della hanya membahas harta.


Tidak terima patah hati dan dikhianati oleh cinta pertamanya, Ilham minum dan bertemu Della di bersama suaminya.


Perasaan Ilham semakin hancur, dia bahkan menantang kedua orangtuanya agar mendapatkan restu, tapi Della memilih laki-laki lain.


"Lalu bagaimana proses kita dibuat?" Muti menatap Kristal yang sudah mencubitnya kuat.


Ilham menggelengkan kepalanya, saat bangun dia hanya melihat Della duduk di pinggir ranjang. Hati yang hancur membuatnya gelap mata.


"Aku tidak menyakiti fisiknya, tapi tidak tahu hatinya. Hari itu aku tidak mendengarkan penjelasan, langsung mengakhiri hubungan kamu, dan menghilang dari hidup Della selamanya." Tatapan Ilham melihat Muti dan Kristal.


Beberapa bulan setelahnya, Della mencoba menghubungi Ilham. Karena masih merasakan sakit hati, Ilham membuang semua kenangan dan pergi keluar negeri.


Ilham tidak pernah mendengar kabar Della, dia hanya sibuk sekolah dan mengejar mimpinya. Seandainya Ilham menjawab panggilan, mungkin dia tahu jika saat itu ada darah dagingnya yang sedang tumbuh.


"Penderitaan yang kalian rasakan kesalahan aku, meminta maaf tidak mungkin bisa mengobati rasa sakit selama puluhan tahun. Kristal, Mutiara maafkan aku yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak mengetahui apapun soal kalian, maafkan aku yang membiarkan kalian tersakiti." Ilham langsung berlutut, meneteskan air matanya, tangisan yang membuat Muti dan Kris kasihan.


Terlihat sekali bertapa sakitnya menjadi Ilham, tubuhnya sampai bergetar menangis meminta maaf, meskipun tidak berharap dimaafkan.


"Kamu pengarang cerita yang hebat, seharusnya menjadi artis saja bukan dokter." Muti ingin memastikan kepada Della jika yang Ilham katakan tidak benar.


"Penulis bukan artis." Kris memperbaiki ucapan Muti.


"Lihatlah, aku bodoh karena kalian."


"Kak Muti bodoh karena tidak suka belajar." Kristal melotot, Muti menyalahkan orang lain karena salah pengucapan.


Ilham langsung berdiri, meminta Muti dan Kristal berhenti berdebat sampai sudah main pukul.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya


__ADS_2